Jumat, 20 September 2013

tulisan pertama! berharap menjadi tulisan terburuk, agar selanjutnya selalu lebih baik dan terus baik..


Malaikatku
Dalam Tiga Raga
“Theofany Zahra”











kecelakaan
*09 Februari*
“Tolong, tolong!”, ucapku panik setelah beberapa detik kusadari tubuhku yang tersangkut di antara batang pohon. Posisi yang sangat menyiksa. Kepala dan leherku menjadi tumpuan badan. Badanku terhimpit antara tanah yang cukup tinggi dengan batang pohon yang berdiri di bagian bawah. Tidak banyak yang aku rasakan. Kepanikan membuatku benar-benar kehilangan rasa.
Aku mencium gerak-gerik beberapa orang tergesa menghampiriku. Mereka berbondong-bondong melangkah dengan lebar serta menerjang semak-semak yang ada. Suara itu benar-benar membuatku lega. Kejadian panjang itu, terasa hanya beberapa detik saja. Mereka pun menolongku.
Aku duduk lemas di pinggiran jalan raya, tubuhku lunglai, pandanganku kosong, pikiranku terhenti. Seraya gerimis pun turun, hendak menghilangkan tanah-tanah yang masih menempel di beberapa tubuh dan lembaran kain yang menutupinya.
Tak lain, darah-darah merah pun ikut luntur oleh air hujan, mengalir bagaikan sungai, di sepanjang tubuhku yang berkelok-kelok. Beberapa luka mulai aku rasakan perih. Leher yang terasa aneh pun mulai aku nikmati.
Tak lama kemudian, kesadaranku sudah kembali sempurna, “di mana Ayah? Ibu? Dimana kak Shufyan? ”
Kepanikan tiba-tiba menghujaniku. Bagaikan badai besar merobohkan isi hati. Spontan, aku pun beranjak cepat dari lempengan aspal yang melekat di tubuh tanah.
Dan, “aaaw!” Ternyata sekujur tubuhku benar-benar terasa begitu remuk. Banyak bagian yang sangat perih, niatku pun gagal seketika. kemudian, wajah tak asing itu membuatku sedikit lega. Bagaikan matahari hangat yang kembali datang, setelah kepekatan malam dan angin beku menusuk hingga dalam hati. Keningnya berkerut menahan sakit, tubuh kotornya pun diangkat oleh beberapa orang.
“Alhamdulillah, kak Shufyan selamat”, syukurku dengan senyum, di bawah awan hitam yang mengirim hujan. Suasana terasa sangat syahdu, mengharukan serta membahagiakan.

--------

Mataku berbintang-bintang memantulkan cahaya jingga sewaktu senja mampir tanpa kabar. Sesekali kuberkedip karena bola mata terasa kering. Mulutku ingin bergerak hemat, menuruti nafsu yang ingin berbicara.
“Ada yang hilang, dan ada sunyi di ruang kosong sudut hati.”, lalu kembali terbungkam.
“Senja? Dia biasa datang mengirimkan kebahagiaan, sekarang dia kembali mampir dengan kesepiaan”, hanya mampu kusuarakan dalam hati. Kedua mata yang sangat berat akhirnya mampu mengeluarkan kata-kata itu lewat air mata. Yang hangat membasahi pori-pori wajah. Menarik otot wajah untuk senyum pun tak mungkin, seperti mengangkat bongkahan beton yang sangat besar.
Pemakaman Ibu dan Ayah baru saja usai, rumah ini terasa sangat kosong. Beberapa jam yang lalu seperti terlewat tanpa jejak, dan waktu itu seperti datang dengan gerakan kilat. Sepi seakan menjadi sebuah batu raksasa yang menyesakkan jiwa. Seharusnya aku berdo’a dan menguatkan jiwa, namun aku memilih untuk menikmati kesedihan bersama air mata. Dan juga sahabatku, yaitu senja yang menghujaniku di beranda.
Tidak ada yang berani menyentuhku, bahkan menyuarakan isyarat untukku. Mereka takut menggores hatiku yang sudah terbelah habis-habisan. Ya, sangat perih. Seperti goresan luka yang dilumuri cuka masam. Dan celakanya, goresan itu tercipta di dalam hati. Yang akan berpengaruh pada seluruh tubuh termasuk jiwa dan pikiran.
Tak lain saat kejadian itu, aku benar-benar mengingatnya. Awan mengirimkan butiran air dengan seketika. Banyak orang memperebutkan ruang jalan, tak lain Ayah pun mengikuti perlombaan ini. Tombol gas di kaki Ayah begitu terlihat sangat tertekan, sedangkan kami semua ikut tegang sambil melihat pepohonan yang berjalan begitu cepatnya di luar jendela mobil. Kami semua tahu, saat Ayah menambah kecepatan agar mulai unggul, tiba-tiba ada motor di depan kami yang berhenti mendadak.
Aku tahu kepanikan Ayah waktu itu, tidak mungkin Ayah menginjak tombol rem dengan cepat. Ayah mencoba mengendalikan setir di tangannya, namun keajaiban sedang tidak berpihak. Kesempatan itu tak akan cukup mengarahkan mobil kami kepada ruang jalan. Mobil yang kami tumpangi terjuan bebas keluar jalan.
Posisi duduk Ibu dan Ayah berada di depan. Aku dan kak Shufyan berada di kursi belakang. Saat mobil mulai keluar dari ruang jalan, kak Shufyan memintaku untuk membuka pintu mobil, lalu aku meloncat pertama diimbangi rasa panik, terdesak, bahkan seraya kehilangan kesadaran. Dugaanku, kak Shufyan pun turut meloncat dari mobil setelah itu.
Bibirku kembali bergetar merasakan kesakitan ini. Bukan kesakitan karena banyak kulit yang terkelupas, namun segala rasa yang ada di dalam dada. Lalu, seluruh badanku merasakan getaran bulu-bulu kecil, karena rasa sakit ini akhirnya menjalar ke seluruh tubuh.
kami adalah keluarga yang sangat kompak, meski perbedaan selalu mengusik ketenangan kami. Namun, kami pun menikmati semua dengan rasa syukur yang tinggi atas perbedaan dan segala anugerah yang tercipta.

Catatan Harian 
Ustazd paling muda tengah mengakhiri majlis ta’lim di kelas Al-Imrithi dengan lafazd “Al-Fatihah”, yang mengisyaratkan para santri untuk melisankan isi suratnya.
Lama kemudian, terlihat wajah Sasa kebingungan, jemarinya menyingkap beberapa buku dan kitab yang telah tertata rapi di atas tangan kirinya. “di mana buku catatan harianku?”
“Ada apa mbak?” suara lelaki dengan dandanan santri pondok, sampai ke telinga Sasa yang tengah mengekspresikan kebingungan. Gadis itu tertinggal oleh barisan santri putri lain.
Sasa mencari sumber suara itu lalu menjawab dengan wajah yang terlihat lipatan kulit di keningnya, “Hmm, ini”, sempat sedikit terdiam karena belibet. “Apa itu, hmm.. aku kehilangan catatan harianku! Padahal di kelas sudah kosong” . Hati Sasa ingin mengadu dan mencari jawaban dari sosok laki-laki tersebut yang menyandang nama Imam.
Kepala Imam mengangguk sambil menatap kegelisahan di mata Sasa, “mungkin saja terbawa mbak Naziha,” kedua matanya mulai mencari-cari dan kembali lagi memastikan ada suatu perkembangan di mata Sasa.
Kedua alis Sasa hampir menyatu, kepalanya sedikit bergerak, “Kenapa bisa ada di mbak Naziha?” Terdiam, menunggu suara yang diduganya akan keluar lagi dari dalam leher Imam.
“Karena mbak Naziha duduk di samping sampean (kamu). Mungkin saja ikut terbawa .”
Sasa mengangguk, “mungkin saja dugaan sampean benar. Tapi, dari mana tahu sampean tahu kalau mbak Naziha di samping saya? Sampean bukan anak kelas saya kan?”
Imam tersenyum menyimpan malu, “iya. Untuk menuju kelas, saya harus melewati kelas sampean ini toh. Tentu saja saya menjadi tahu.”
Sasa hanya mengangguk, meski di dalam benanknya masih ada hal yang menngganjal. Dia ingin menanyakan banyak hal untuk menghilangkan keganjalan itu. Namun rencananya gagal mendadak.
“Yasudah, sampean cepat pulang saja. Disini sudah sepi, nanti dikiranya ada apa-apa lagi!” Imam mengalihkan Sasa yang hampir masuk dalam lamunannya, mencari sesuatu yang mengganjal di benaknya.
“terimakasih, assalamu’alaikum.”

-------

Tampak ramai, dalam sebuah bangunan dengan ruang cukup luas, setidaknya dapat menampung seratus santri putri dengan baik. Santri-santri putri sedang menikmati waktu luang dengan bahasa tubuh yang lelah.  Di beberapa bagian aula ada yang menyandarkan kepala ngantuknya di atas bantal yang tertumpuk, ada beberapa orang tengah menyiapkan tempat untuk didirikannya sholat Isya’ berjama’ah, ada yang masih sibuk di kamarnya, ada yang berbaris rapi di sepanjang jalan menuju kamar mandi, ada sekumpulan yang asyik bercanda sambil ngemil mie mentah, bahkan ada pula yang rajin merapikan apa saja yang bisa dirapikan.
Gadis belasan tahun dengan lingkar perut yang kecil dan dengan badan yang amat tinggi muncul dari sebuah kamar. Jalannya amat tergesa sambil tangan kanannya membawa buku cukup tebal. Sampulnya berhiaskan bathik dengan perpaduan warna biru, putih, serta beberapa bercak hitam.
Buku itu diangkatnya tinggi-tinggi agar dapat dipandang semua orang dari berbagai arah. Suaranya keras memecah kegaduhan yang datang dari berbagai sudut, “siapa yang merasa memiliki buku ini?”
Semua perhatian tertuju pada buku yang diangkat tinggi oleh gadis yang bernama Naziha. Diam, tak ada suara yang terdengar.
“Ada judulnya,” Naziha membuka lembaran-lembaran buku tersebut. Kemudian kembali mendongakkan wajah, “catatan harian.”
Tidak ada yang maju ke depan, bahkan berkata sepatah kata pun untuk merespon pengumuman dari Naziha. Semua saling tatap, mencar-cari siapa di antara teman mereka yang kehilangan buku tersebut.

Ungkapkan Keberanian                                   
*26 Juni*
Seminggu lebih aku mejalani kesepian bersama Kakek, Nenek dan kak Shufyan. Aku harus kembali beraktifitas, aku harus siap menebarkan senyum membawa kedamaian. Hitung-hitung buat shodaqoh tanpa mengeluarkan uang. Sepertinya ada yang berbeda namun aku sudah tenang menerimanya, bahkan boleh dikatakan sangat senang hati. Sekarang ini, aku mendapat predikat yatim-piyatu.
Jika dirasakan, semakin hari aku merasa semakin tidak nyaman berada di sekolah. Tempat ini memang menyenangkan, namun aku merasa ada banyak hal yang mengganjal di temapat ini. Ada yang sia-sia jika aku terlalu lama di tempat ini. Dan ada sesuatu yang hilang jika terus menerus aku membawa hati ke dalam gedung sekolah ini.
Ya, sia-sia! Berulang kali aku mendapat sesuatu, berulangkali aku menjalankan test, bertahun-tahun aku belajar untuk nilai. Lalu? Aduh, kenapa ada yang mengganjal. Setelah aku menjadi seorang murid yang sempurna , lalu apa yang akan aku lakukan karenanya? Apakah ada yang salah dengan sekolah?
“Kak Shufyan! Menurutmu apakah ada yang salah dengan sekolah?” aku menjejeri kak Shufyan yang tengah sibuk memandang langit di kursi taman, tempat biasa ibu menjemput waktu maghrib.
“Maksudmu?” Wajahnya datar tanpa merasa kaget, menemuiku yang tiba-tiba datang.
Wajahku gusar, jelas saja aku bingung untuk menjelaskan. Aku tak pandai berbicara serta merangkai kata dengan baik. “ya, menurutku ada yang sedikit menggajal. Seakan-akan aku merasa ada banyak hal yang akan menjadi sia-sia karena harus sekolah. Dan kenyataan akan mendukungku. Bangsa ini tidak pernah berkembang lebih baik, mungkin saja salah satu faktornya adalah sekolah yang kurang bermutu ini kak,” kataku hati-hati sambil menebak-nebak respon apa yang akan terlihat dari wajah kak Shufyan.
Wajah kak Shufyan yang sedikit kaget mengarah cepat mencari mataku, “hus! Kamu bicara apa?”
“Ini kan menurutku kak. Kalau kakak tidak setuju dengan pendapatku juga tidak akan masalah,” aku merasakan keteganganku mulai melelah sambil kutunjukkan tubuhku yang sedikit menggeliat.
Kuperhatikan kak Shufyan yang memalingkan wajahnya, dia memilih untuk memandangi rerumputan yang tersipu malu mengantarkan matahari yang tengah berpamitan dan mulai menjauh. Diam, hanya itu yang aku rasakan. Sepertinya dia tidak begitu tertarik dengan pembahasan yang aku ajukan, mungkin kak Shufyan menganggap ini sebagai ocehan yang tidak penting.
Aku ingin mengajukan sesuatu yang mungkin akan membuat kak Shufyan sangat kaget, bahkan aku sendiri merasa belum begitu yakin. Sunyi, dan senja yang semakin deras menghujan, memberiku kesempatan untuk terus berpikir. Sedangkan, kak Shufyan juga masih sibuk memandangi rerumputan. aku kira, dia pun tak jauh berbeda denganku. Pasti kak Shufyan juga sedang memikirkan sesuatu, entah apapun itu.
“Ok…,” suara dengan lafazd dan nada yang sama tiba-tiba muncul dari dua tenggorokan yang berbeda. Sementara terdiam, menyimpan bingung. “kak Shufyan dulu deh. Mau ngomong apa kak?”
“Hmm.. kamu dulu saja Sa,” kak Shufyan berkata singkat.
Aku turuti apa kata kak Shufyan, “hmm…,” tiba-tiba terbesit niat untuk menggagalkan niat aku berbicara. Berani apa tidak aku mengungkapkan semua ini? Sepertinya hal ini terlalu berlebihan. suara kak Shufyan segera memecah dengan cepat, “apa Sa?”
 Bismillah. Lalu, ku hela nafas dan aku katakan dengan setenang mungkin , “aku ingin berhenti sekolah kak!” Kataku terang-terangan. Ku buang mukaku perlahan ke bawah, aku masih canggung untuk melihat apa yang akan terlukis di wajah kak Shufyan.
Diam merenggut, masih ku menunduk menunggu suara yang akan menyambar. Perlahan suara lirih terdengar dengan nada yang tidak pas, “kenapa Sa?”
“Aku hanya suka dengan beberapa pelajaran saja di antaranya IPA, sedangkan di sekolah aku harus belajar semuannya. Aku merasa hal ini tidak baik untuk diriku. Aku tidak ingin terganggu lebih lama lagi, sekian tahun ini sudah sangat cukup. Aku ingin belajar fokus, Kak.”
“Adakah alasan yang lebih jelas tentang pilihan mu?”
Ku tarik nafas dan siap untuk menjawab. Namun suara kak Shufyan segera menyusul cepat. “bukankah kamu membutuhkan semua ilmu. Untuk hidup, apakah kamu hanya akan belajar Ilmu Alam saja?”
“Aku tidak pernah berkata, bahwa aku tidak membutuhkan ilmu selain ilmu alam.”
“Tapi kamu berkata bahwa kamu hanya ingin belajar beberapa pelajaran saja, lantas apa bedanya Sa?”
“Hmm,” sudah aku bilang bahwa aku adalah orang yang tidak pandai berbicara dan menyampaikan sesuatu dengan baik, lalu kenapa aku senekat ini?
 “aku ingin tanya, apakah sejauh ini penduduk di bangsa kita lebih berkualitas dari penduduk bangsa yang lain.” Aku diam menunggu sepatah kata yang akan tertuah dari kak Shufyan. Namun dia masih diam, membisu. Dan matanya mengisyratkan diriku untuk melanjutkan kata-kata lebih panjang.
“lalu, apakah itu berarti bahwa pendidikan bangsa kita sudah berhasil menumbuhkan generasi yang lebih baik? Maka dari itu, aku tidak ingin mengulangi perjalanan hidup seseorang yang sudah digambarkan menjadi orang yang tidak beruntung.”
Kak Shufyan masih terdiam. Entah mencerna kalimat, memkirkan ucapanku, atau entah yang lain lagi. Yang pasti dia mengerjakan sesuatu dalam diam.
“Aku membenarkan mendapatmu, namun rumus kehidupan yang paling terkenal adalah relative. Tapi, kamu lumayan juga Sa. Beneran mau berhenti sekolah?”
“Tentu saja!” Kata ku mantap. “tapi lebih tepatnya, hanya malas sekolah, boosaaannn!!”. Teriakku di depan wajah kak Syufyan. Kemudidan kita sama-sama melepas tawa.
“Bagaimana jika kakak juga tidak sekolah seperti kamu?”
“Lalu, apa yang akan kakak lakukan setelah kakak tidak sekolah?”
“Belum tahu.”
“Wah payah! Jangan ikut-ikutan ide orang lain, Kak. Mungkin saja ini juga salah saatu penyebab mengapa tidak banyak penemu serta orang-orang kreatif yang muncul dari tanah air kita.”
“Kurang ajar kamu Sa!”, hampir saja jemari kak Shufyan menerkam pipiku.
“Iya apa tidak?” Kataku menggoda sambil mengajak kembali ke pembahasan.
“Iya, benar kamu. Memang ada banyak orang yang malas berpikir, sehingga mereka cenderung mengikuti seseorang. Bahkan, meski dalam keadaan tidak memahami. Coontohnya seperti apa yang kakak lakukan barusan.  Bahkan tadi kakak pun belum sempat merencanakan sesuatu apapun, bukan?”
“Sepertinya hal itu terjadi besar-besaran di negeri kita kan kak? Hampir semua sistem yang dipakai adalah jiplakan dari berbagai negara bukan? Memang tepat jika dikatakan malas berpikir, dan parahnya orang-orang zaman sekarang memang terlalu disibukkan penuh oleh pelajaran di sekolah, ketakutan akan guru serta nilai. Kemudian banyak yang harus berpikir keras untuk mencari uang atau bahkan mencuri, karena tak lain uang-uang mereka diranggut para pemimpin. Lalu jika sudah sibuk berpikir dengan hal seperti itu, apakah kita semua ini akan sempat memikirkan sesuatu untuk negara kita atau niminal desa kita sendiri?”
“Sayang sekali, bangsa kita akan benar-benar mundur. Dan semoga cepat mundur di titik terakhir, karena satu-satunya jalan adalah mengulang segalanya.”
“Bukan mengulang kak, karena waktu terus maju maka kita pun seperti itu. Tetap maju. Hanya saja ada bayang semu seolah mundur,” aku ingin kalimat yang lebih tepat. Lalu ku susul dengan kalimat baru, “oiya, berarti kakak setuju kan seandainya aku berhanti sekolah?”
“Hmm…setuju! Aku sudah percaya akan kecerdasanmu Sa.”
“Dan kakak jangan berhenti sekolah ya, aku butuh buku-buku pelajran IPA untuk aku pelajari dan aku akan pinjam dari kakak. Hehehe,” aku menunjukkan kecuranganku, “siapa lagi kalau bukan kakak?”
JJJ

“Sebenarnya siapa pemilik buku catatan harian ini ya? Cerita hidup yang dia miliki cukup seru. Hmm… bisa menjadi kesibukan baru untuk membacanya di rumah. Mumpung saat ini tidak sibuk di pondok,” gumam Naziha. Dia yang sedang menempuh perjalanan menuju ke kampung halamannya, beserta dampingan kakaknya yang kebetulan menimba ilmu di pesantren yang sama.
Keningnya berkerut, bola matanya bergerak tanpa arah yang jelas. Naziha masih melanjutkan keingintahuannya berkaitan dengan buku catatan, “tapi, sepertinya pemilik buku ini adalah santri kalong. Mbak Sasa, mbak Safitri, mbak Laili atau kah mbak Nita?”

Putus Sekolah
*10 Juli*
Nikmat mana lagi yang akan aku ingkari? Indah rasanya, mungkin seperti ini yang dirasakan ketika burung-burung berhasil keluar dari sangkarnya. Terbang dengan leluasa, hidup di alam yang nyata, cita-cita bukan menjadi beban, dan belajar dengan kehidupan nyata itu banyak sekali rintangan yang nyata pula. Begitu juga dengan aku yang telah berhasil keluar dari penjara sekolah.
Sekarang, aku perlu melaporkan kegiatan baru. Untuk menyambut shubuh, aku coba mengulas banyak pelajaran yang seharian kemarin aku dapatkan. Kegiatan ini baru saja aku mulai, karena kemarin malam, Ustazdku memberikan usulan kegiatan ini pada seluruh santri yang berada di kelas Al-Imrithi.
Akhirnya, aku coba! Benar-benar menyenangkan. Dari sekian banyaknya hal yang aku pelajari dalam sehari tidak akan terlewatkan begitu saja dan aku tidak akan mudah melupakan serta dapat menyambungnya lagi dengan mudah.
Nah, setelah itu aku langsung dirikan sholat dan bermunajat pada kekasih sejati. Dan karena masih ada banyak waktu, lalu aku isi dengan membaca ayat-ayat suci Al-Qur’an. Kemarin pula Ustazdku memberi kabar bahwa ucapan yang paling Alloh sukai adalah bacaan Al-Qur’an dan waktu yang paling utama untuk membacanya adalah sejak pertengahan malam hingga fajar menjemput. Waktu ini lebih utama dari waktu seusai shubuh maupun di antara maghrib dan isya’.
Kemudian ba’da shubuh aku langsung membaca buku Ilmu Pengetahuan Alam milik Kak Shufyan, sambil sekali-kali dipanggil Nenek untuk membantu masak ini dan itu. Saat sarapan bersama, aku akan menanyakan beberapa hal yang belum aku ketahui. Kemudian siang sedikit aku ikut Kakek bertanam di sawah, aku pun belajar banyak hal. Mulai dari mencangkul, cara menanam, bagaimana pemberian pupuknya. Dan kebetulan Kakek masih menggunakan penanaman model lama yaitu tanpa pupuk kimia, hal ini pun membuat aku menjadi lebih senang.
Setelah berjam-jam di sawah, aku dan Kakek kemudian pulang sambil membawa rerumputan untuk sapi dan kambing. Ada dua sapi dan tiga kambing yang telah menunggu, kadang pula tiga kambing itu aku tinggal di sekitar sawah agar dia mencari makan sendiri.
        Ba’da zduhur pun mulai ada kegiatan baru. Biasanya selesai kitab Alfiyah baru diperbolehkan mempelajari Al-Qur’an dan menghafalnya jika yang ingin. Tapi aku yang masih berada di kelas Al-Imrithi sudah diperbolehkan Kakek untuk belajar Al-Qur’an serta menghafalnya meski dengan jumlah yang sedikit di setiap harinya. Aku menuruti keinginan Kakek dengan sangat senang hati.
“Hari ini ngaji di mana?” Nenek mencegah kakiku ketika akan melangkah keluar rumah, sedangkan di tangan kiriku tergeletak sebuah kitab Arba’in Nawawi dan sebuah lagi kitab Fathul Qorib.
“Di rumah Ustazd Qodir Nek. Memangnya kenapa?” Jawabku dengan berujung pertanyaan.
“Tadi pagi Nenek coba membuat kue, ini dibawa saja. Nanti dibagi-bagikan di sana,” kedua tangan nenek mengulurkan anyaman dari batang bambu yang tipis dan di dalamnya terdapat banyak kue yang berjajar rapi.
“Okey Nek!” Kataku tanpa canggung sambil menerima kue tersebut. Kitab yang sedari tadi di tangan kiriku pun aku pindah di atas kue-kue yang berjajar. Kemudian aku ucapkan kata pamit dan salam yang biasa dilafazdkan orang-orang Muslim, yaitu salam yang berisi do’a.
Setelah mengaji Al-Qur’an kemudian aku akan mengaji beberapa kitab di rumah-rumah Ustazd. Dan di sana aku akan bertemu teman-teman desaku. Biasanya untuk mengaji kitab hanya sampai sore hari. Dan di sore harinya aku akan melanjutkan kegiatan denganbelajar beladiri, namun sangat jarang. Dan seperti biasanya, setiap ba’da maghrib. Aku, teman-teman desa dan santri-santri pondok akan mengaji tafsir Al-Qur’an di serambi masjid. Memaknai kitab dengan bahasa jawa namun menggunakan huruf hijaiyah, Kyai desa kami yang memimpin. Lalu ba’a Isya’ dilanjutkan belajar bahasa Arab dengan panduan kitab-kitab yang selalu dikaji di berbagai pondok
Melelahkan dan menyenangkan bukan? Meskipun kadang aku sangat bersedih karena kehilangan keluarga, tapi aku juga begitu senangnya dengan banyak kesempatan belajar seperti ini. Alloh memang benar-benar Maha Adil bukan? Dan semua orang juga tahu bahwa Alloh Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Bukan Speda baru, namun Ketulusan Hati mu…

14 Agustus, tidak banyak orang yang tahu betapa istimewanya tanggal tersebut bagiku. Hanya Ayah, Ibu dan Kak Shufyan. Tahun kemarin di tanggal yang persis, ketika aku bangun tidur siang tiba-tiba seember air dingin mengguyur seluruh badanku. Waktu itu aku marah besar, karena mood baikku tentu belum kembali saat bangun tidur. Hingga sore hari aku masih memamerkan wajah cemberut. Berulangkali Kak Shufyan meminta maaf padaku, dan aku hanya diam.
Kemudian Ibu membawakan kue coklat sebagai hadiah ulang tahun, dan aku tetap diam hanya menatapnya sebentar lalu berpaling. Ayah tak mau ketinggalan juga, tiba-tiba menghampiriku di halaman rumah. Tanpa kusangka, tiba-tiba Ayah berbicara dengan bahasa “ngapak”. Haduh! Kali ini benar-benar tragis.  
Seketika, aku pun tertawa lebar. Sempat aku tahan, namun bahasa itu benar-benar membuat diriku tidak mampu menahan tawa sedikit pun. Apalagi kekagokan Ayah semakin membuat lucu logat bahasa tersebut. Habis sudah, Ayah telah berhasil membuatku tertawa. Dan akhirnya kita makan bersama untuk merayakan hari ulang tahunku.
Hari ini begitu sepi, mungkin hanya hatiku yang sepi. Langit biru membisu, di luar ramai oleh banyak orang. Padahal hari ini adalah hari ulang tahunku. Hari yang palling seru sepanjang hidup. Berat rasanya untuk tersenyum, apalagi beranjak dari tempat tidur.
Berulang kali Nenek memanggilku, aku pun hanya diam. Hari ini tidak ada mengaji, membaca buku Kak Shufyan, bahkan ikut Kakek ke sawah pun tidak. Aku tidak demam, batuk, flu atau sakit yang lain. Tapi aku merasa ada yang membuatku gundah, sehingga tubuh ini rasanya hanya ingin di atas kasur. Jika mulai terasa panas, sesekali aku memojok di lantai.
Hingga warna jingga berdesakan masuk dari celah jendela kamarku. Menengok diriku yang tengah sakit jiwanya.
“Nushaiba adalah shohabiyah Nabi yang terkenal sangat pemberani. Ingat tidak ketika dulu Ayah bercerita tentang perang Uhud. Waktu itu siapa yang melindungi Nabi dari kafiriin? Ingat kan? di antaranya ada Nusahiba. Dia mengangkat pedang dan berdiri di sekeliling Nabi, dia ayunkan dengan gigih. Dia tak khawatir lagi anak-anaknya atau bahkan dirinya ikut kehilangan nyawa. Jiwa dan hatinya sangat kuat, tidak gampang tergores oleh sesuatu apapun. Dan bukankah Nushaibah adalah nama yang kamu miliki Sa? Adik tercintaku?” Katanya di balik pintu kamar.
Dari awal hingga akhir kalimat, aku simak kata-kata itu. Aku paham, Kak Shufyan berharap agar aku berpikir berani dan tegar. Aku tertunduk, isak tangis tak mampu aku sembunyikan.
Pintu kamar aku buka dengan perlahan, dan pelukan Kak Shufyan menyambutku. Pundak kak Shufyan telah basah oleh air mata. Hatiku serasa tercabik-cabik, meski aku telah berada dalam dekapan kasih saudaraku. Tapi, hal ini terasa lebih mengharukan.
Kak Shufyan melepaskan pelukan dan berkata dengan senyum lebar, “kamu tahu tidak, hadiah besar apa yang Kakak bawakan hari ini?”
Dengan senyum pula aku menanggapinya,“ memangnya apa Kak?”
Kak Shufyan menarik tanganku dengan cepat dan membawaku ke halaman rumah. Speda cantik berwarna merah muda berdiri tak bertuan, dan sepertinya dia menungguku, “itu untukku Kak?”. Kak Shufyan mengangguk senyum.
Aku lupa sesuatu. Sektika senyumku menghilang tanpa pamit. Ada pertanyaan yang harus dijawab Kak Shufyan, “dari mana uang yang Kakak dapat untuk membeli speda itu?”
“Tanpa jajan, dan tanpa angkutan umum ke sekolah,” jawabnya singkat.
Entah, perasaan apa yang ada di hatiku. Ada kesedihan, ada kebahagiaan, ada yang datang mengagetkan, ada kekaguman dan ulang tahun kali ini aku menerima hadiah yang luar biasa. Cinta dari saudaraku sendiri.
-------
Naziha terlihat kebingungan membaca buku catatan harian itu, “Nushaiba itu kan nama Sasa, bukankah Kakaknya ikut kehilangan nyawa saat kecelakaan? Lalu siapa yang dia ceritakan dalam catatan hariannya ini?”

Sepertiga jiwamu kutemukan

Speda yang diberikan Imam benar-benar bermanfaat untukku. Hingga akhirnya speda ini mengantarkanku pada sosok pemiliki sepertiga nyawa Kak Shufyan. Dia penyayang, suka berdiskusi dan teguh pendirian. Gumam Nushaiba, sembari kedua kakinya mengayuh speda.
Lima laki-laki dan empat perempuan tengah berkumpul di sudut lapangan. Orang-orang sering menyebut mereka anak jalanan. Dandanannya kumuh, tanpa orang tua, dan mereka makan dengan hasil kerja payah sendiri. Hidup mereka penuh dengan permainan di pinggir jalan, di bawah bangjo, dan tangan mereka melengkung di setiap jendela pintu mobil yang terbuka.   
“Itu kak Sasa!” Rina. Salah seorang yang berkumpul di sudut lapangan, tangannya menunjuk ke arah Nushaiba yang bersemangat mengayuh speda.
Semua perhatian pun tertuju pada telunjuk Rina yang mengisyaratkan sesuatu. Hingga akhirnya, objek  mata mereka jatuh pada gadis pengayuh speda. Di akhir batas lurus telunjuk Rina. Ada Raihan, Danang, Ivan, Reza, Ibnu, Ata, Fira dan Imma.
“Hayo, kak Raihan jangan lama-lama memandangnya?” Goda Danang.
“Apa kamu!?”
Semua tertawa melihat keganjalan ekspresi di wajah Raihan.
“Jangan-jangan kak Raihan suka kak Sasa ya?” Rina menyelipkan kalimat di tengah tertawaan.
“Hahaha.. benar kamu Rin!” Danang menambahi.
Raihan adalah putra dari keluarga yang terkenal sangat kaya di kota Salatiga. Seusai menyelesaikan kegiatan belajarnya di SMA, dia memutuskan untuk berbagi pada anak-anak yang tidak mampu. Dia yang merasa berilmu, sangat merasa berdosa jika membiarkan orang-orang di sekelilingnya hidup tidak seindah dirinya. Kasihnya selalu berwujud kepedulian bagi orang-orang yang lemah. “Katanya, Islam itu kan Rohmatan lil’alamin”. Hanya itu pedoman Raihan.
Sayangnya, semua keluarga tidak mendukung idenya sedikit pun. Ayahnya menginginkan Raihan menerima Beasiswa, untuk melanjutkan belajar di Australia. Tentu saja Raihan menolak atas keteguhan pendiriannya. Dia akan merasa semakin berdosa jika menunda niat awalnya yang penuh kepedulian, hanya karena untuk menyimpan beribu-ribu pengetahuan lagi. Dia merasa bahwa sekarang sudah saatnya untuk membagikan ilmu yang dipunya. Dan masalah belajar, dia ingin tahu panjang lebar tentang negerinya dengan nyata.
Tidak ada pilihan lain, kemudian Raihan langsung saja pergi dari rumah. Dia berjanji tidak akan pernah ingin kembali sebelum keinginan dan idenya didukung. Dan Alloh mempertemukan Raihan dengan anak jalanan ini. Tantangnan baru dan pelajaran baru kemudian menemui Raihan di setiap harinya. Ya, belajar langsung dengan kehidupan yang nyata.  
“Hai, Assalamu’alaikum! Gimana kabar kalian?” Nushaiba menyapa dan semuanya antusias untuk menjawab, dan hanya dirinya yang mengenakan jilbab di tempat itu. Butiran keringat yang mulai menguap masih terlihat jelas di pucuk hidungnya. Tangannya mengayun-ayun cepat, mengundang angin untuk segera mempercepat proses penguapan.
          Hari ini kedua kalinya Nushaiba mengunjungi tempat ini. Sehari sebelumnya, dia mulai kenal dengan Raihan. Saat dia jalan-jalan dengan spedanya, dia iseng bergabung dengan kelompok kecil ini. Dengan modal penasaran, maka Nushaiba pun mulai bergabung. Sikap Raihan berbicara, kepedulian Raihan, dan kecerdasan Raihan yang mulai dia rasakan benar-benar membuatnya begitu tertarik.
Tanpa keraguan dan pikir panjang, keunikan Raihan dalam berpikir membuatnya harus langsung bergabung dengan kelompok belajar ini. Dia siap berdiskusi dengan mereka. Dia siap mendengarkan keunikan yang lain lagi. Dan dia juga telah merencanakan sesuatu agar ilmu yang dia miliki dapat tersampaikan dengan baik.
Nushaiba menempatkan diri di sela-sela lingkaran yang memang telah disediakan untuk dirinya. Lingkaran itu telah tertutup rapat, “kok pada diem, sekarang siapa pemimpinnya?”
Raihan tersenyum, “kemarin siapa ya?”
“Aku,” suara Ata cepat menyambar.
“Berarti sekarang?”
Rina membuka buku kumal yang tak beda dengan pakaiannya, “hmm, sekarang Ima.”
Raihan menerapkan sistem pergantian pemimpin di dalam belajar. Setiap hari pemimpin diskusi akan selalu bergantian. Bukan hanya memimmpin namun materi pun termasuk pemimpin yang menyiapkan. Mulai dari canggung kemudian terbiasa. Mereka anak-anak yang tidak memiliki cita-cita, dan sekarang banyak keinginan telah membanjiri kepalanya. Mereka mulai bersemangat untuk hidup, dan mereka tahu dengan apa yang akan mereka perjuangkan dalam mengisi hidup.

-----

Wajah-wajah itu terlihat bersemangat, namun telah layu oleh kepenatan. “Kak, kita istirahat dulu ya?” Pinta Ima pada Raihan.
“Nggak masalah, gimana teman-teman yang lain. Setuju tidak?”
Tentu saja semuanya bersetuju, keputusan pun dipastikan tanpa perdebatan. Mereka pun beranjak bermain, layaknya anak-anak normal yang belum menginjak umur belasan tahun. Cita-cita tak pernah menjadi beban, hidup susah masih indah dengan bermain, hati mereka masih dijaga Alloh dari kesedihan dan kebingungan.
          “Bolehkah aku mengusulkan sesuatu kepada mu Raihan?” Nushaiba mengawali pembicaraan, tinggal mereka berdua yang masih bertahan di tempat diskusi. Mereka saling berhadapan dengan jarak yang lumayan jauh. Angin semilir pun ikut mengiriimkan kesejukan. Pohon rimbun rela menahan panas demi kesejukan untuk Raihan dan Nushaiba.
“Untuk?”
“Hmm… teman-teman jalanan. Tapi sebelumnya aku ingin bertanya dulu.”
Mulut Raihan masih membungkam, namun matanya mengisyaratkan Nushaiba untuk melanjutkan pertanyaan yang dia kehendaki.
“Sebenarnya, teman-teman jalanan ini akan kita ajak belajar ke arah mana?”
Raihan sedikit merubah posisi duduknya, mencari posisi yang lebih pas. Sambil bola matanya bergerak memikirkan sesuatu, seakan telah siap menjelaskan banyak hal, “Sebenarnya ini hanya kebetulan, tentu saja aku belum menyiapan banyak hal untuk mereka”
Sebelum Raihan melanjutkan, suara Nushaiba pun cepat menyela, “Tapi, bukankah sebelumnya kamu ingin mendirikan sekolah untuk orang-orang yang tidak mampu? Termasuk anak-anak jalanan bukan?”
“Ya, aku menjadi merasa bersyukur karena harus ada kontras dalam keluarga lalu aku pergi dan bertemu dengan anak-anak jalan itu. Aku baru sadar, ternyata keinginan yang aku punya masih sangat mentah. Bahkan aku belum sempat bertanya pada diriku dengan pertanyaan yang kau tanyakan barusan. Selama ini yang aku ketahui hanyalah orang-orang lemah harus bisa tetap belajar, karena mereka termasuk bibit bangsa.”
“Okey! Berarti itu masih menjadi PR besar untukmu Raihan, karena hal itu menjadi dasar yang paling penting. Aku hanya ingin mengingatkan, jangan buat mereka bosan belajar. Sekolah membuatku kita jenuh bukan?”
Tambah Nushaiba selanjuntnya, “sampaikan dengan semampumu, bahwa belajar itu kita butuhkan untuk hidup. Mereka butuh kreatifitas untuk mengamen, ya itu yang harus dipelajari. Mereka hidup di tengah-tengah sampah, apa yang harus diperbuat? Mereka sebagai generasi bangsa, apa yang harus diusahakan? Bukan melulu harus menghafal sejarah apalagi menghafal sesuatu-sesuatu yang tidak nyembung dengan kehidupan kita sehari-hari.”
Raihan mengungkapkan kata setuju lewat otot-otot wajahnya, “ya, kita tunggu beberapa waktu kedepan. Terimakasih Sa, kamu seperti malaikat yang datang tiba-tiba. Membawa semangat dan hal baru untukku. Pelajaran menakjubkan, seumur hidup baru aku rasakan sekarang.”

Ustazd, berdosa kah aku karena bodoh?

“Semua!! yang nilai ulangannya masih di bawah enam harus berdiri di depan. Sampai waktu istirahat!” Kalimat itu terkandung dalam suara yang sangat keras berbau kemarahan. Seorang Ustazd dengan badan cukup gagah, raut wajahnya memerah menyimpan amarah. Sedangkan semua santri putra dan putri tertunduk, tangannya bergetar, hatinya diliputi rasa cemas.
“Apa masih kurang jelas cara mengajarnya!? Para santri sekarang ini pada pemalas! Coba perhatikan di kelas sebelah. Mereka itu cerdas-cerdas, tekun, dan tidak pemalas. Sudah belajar setengah tahun, bab marfu’atil Asma’ saja masih belum paham! Maunya itu gimana toh Le. Santri-santri putri semuanya mendapat nilai shokheh, lha sampean-sampean ini gimana?! Sudahlah, malam ini tidak ada pelajaran tapi tetap harus berdiri sampai bel istirahat berbunyi.” Jalannya cepat, mungkin masih menyimpan kemarahan.
Bahkan hawa yang menakutkan masih tertinggal di ruang kelas. Suara-suara itu masih terasa menggaung di dinding-dinding kelas. Semua santri masih merasa gugup. Hanya diam yang kemudian mendatangkan suasana perlahan nyaman.
Tujuh orang santri putra mulai berdiri di depan kelas membawa wajah tegang, yang lain tetap mempertahankan posisi duduk sambil mencermati catatan masing-masing. Malam itu benar-benar menegangkan, dan sunyi ikut mendukung suasana.
Beberapa menit pun telah berlalu, terlihat Nushaiba berulang kali mengangkat wajahnya seperti ingin menyampaikan sesuatu. Dengan modal ‘nekat’, Nushaiba pun mencari perhatian, “mbak dan kang pondok!”. Beberapa orang mulai berpaling dari buku dan memberikan perhatian pada Nushaiba. ”bagaimana jika setelah bel ini nanti kita bicarakan sebentar. Bagaimana agar kelas kita dapat lebih kompak dan dapat belajar bersama dengan baik. Termasuk agar Ustazd kita tidak sering marah karena kesalahan kita?”
Hanya ada mulut-mulut yang terbungkam. Lalu ada seorang di antara mereka yang harus bediri di depan memecah kesunyian. Dia Husain, “ya, bagus itu mbak.”
Dan tidak lama kemudian, bel istirahat pun telah terdengar di sudut-sudut ruang pondok.
“Bagaimana mbak tentang kelas kita ini?” keluh Husain sambil menuju ke tempat duduk.
“Hmm, sebenarnya yang membuat sampean-seampean malas itu apa toh kang?”
“Kalau saya itu ya kadang belajar mbak. Tapi kalau dijelaskan di kelas saya tidak pernah paham. Kalau teman-teman yang lain mencatat, sedangkan saya sendiri pun bingung apa yang harus saya catat. Kecuali kalau saya belajar sendiri dan minta bantuan orang lain gitu baru bisa mbak”. Husain bercerita seadanya. Termasuk enam orang lainnya pun mengalami masalah serupa dengan kang Husain.
“Jika semuanya mengalami hal yang sama berarti sampean semua cukup menyediakan waktu khusus untuk mengulang.”
“Tapi kalau sendiri itu sama saja mbak. Harus ada yang menjelaskan dengan perlahan gitu.”
“Kalau begitu berarti harus dibantu dengan teman yang lain. Di kelas ini kan ada yang sudah cukup mahir sembilan orang santri putra, itu artinya sudah sangat cukup. Bisa sendiri-sendiri atau pun berkelompok,” sejenak berhenti, menghela nafas.
Lalu suara Nushaiba kembali menyusul untuk memastikan, “pertanyaannya teman-teman yang lain bisa membantu apa tidak?”
Semua mengangguk, meng-iyakan.
“Okey deh siiiip! Selesai.”
Semua santri putra langsung keluar dari kelas, sedangkan santri putri akan keluar di barisan terakhir. Hal ini sudah menjadi adat bagi seluruh santri pondok.
Dalam perjalanan singkat, Nushaiba cepat-cepat menanyakan sesuatu pada Rizka, “eh mbak, dimana mbak Naziha?”
“Baru pulang, di rumahnya ada acara mbak. Mungkin sampai seminggu tidak kembali ke pondok.”
“O… makasih,” kalimat pamit dari Nushaiba.
Langit-langit berbintang, bulan sabit terlihat anggun di bagian barat. Seakan-akan Nushaiba merasakan senyum ramah dihaturkan padanya. Jalannya lembut, wajahnya diterpa angin malam yang dingin namun penuh kasih.
Kenapa tiba-tiba wajah Raihan terbayang jelas di benakku? Dia mengagumkan, penuh kasih. Oh iya, kejadian di kelas tadi pasti akan sangat berharga bagi Raihan. Aku akan menceritakan hal ini kepadanya. Aku akan mengatakan kepadanya bahwa kemarahan akan sangat menyakiti hati, yang seharusnya tidak terjadi. Meskipun hal yang disampaikan adalah kebaikan, namun jika terbalut dalam kemarahan pasti akan tetap menyakiti hati. Itu artinya, ada banyak hal yang harus diperhatikan saat menasihati orang.
Dan bahwa seorang guru maupun Ustazd yang mengajarkan sesuatu pada muridnya tidak boleh semata-mata menyalahkan si murid, harus diadakan diskusi dan instropeksi bersama. Pasti hal ini lebih indah di hati, kecuali jika dia tidak merasa menjadi seorang guru ataupun pengajar. Karena bagaimana pun juga kegagalan pun bagian dari sebuah proses. Berbicara tentang pintar dan bodoh, siapap sih yang bisa menilainya? Apalagi seorang Ustazd, benar-benar tidak boleh sedikit pun menyinggung hal tersebut. Gumam Nushaiba.
          “Mbak!” Suara itu tiba-tiba muncul dari arah belakang. Dengan cepat, Nushaiba menengok ke arah punggungnya. Terlihat seorang santri putra yang tak asing. Datang tergesa menghampiri Nushaiba.
“Kang Husain? ada apa?” Kata Nushaiba menyambut lelaki itu. Katanya dengan nada canggung.
“Tolong jawab, bagaimana memperbaiki kesalahan karena bodoh?”
Nushaiba terdiam sejenak, merangkai kata yang pas. Begitu juga dengan lelaki itu, dia terdiam dengan nafasnya yang masih tak teratur, menanti suara yang bermakna.
“Kesalahan apa?”
“Apakah kurang jelas mbak, kejadian di kelas tadi?”
“Itu bukan kesalahan sampean, hanya saja Ustazd kita kurang mengerti.”
“Aku iri dengan sampean mbak, dan teman-teman lain. Karena pintar, mereka dapat membuat senang hati seorang Ustazd, orang tua dan siapapun yang ada di sekitarnya. Dan pujian pasti akan selalu mereka dapatkan. Sedangkan saya mbak, selalu membuat susah dan mengecewakan hati seorang Ustazd, meski benar-benar tidak aku sengaja. Aku merasakan ketidak adilan mbak, karena Ustazdku membenci murid yang bodoh dan sangat menyayangi orang-orang yang pintar. Jika aku bisa memilih, aku juga ingin menjadi orang yang pintar mbak.”
Suara Nushaiba menyambar cepat ingin segera menyela, “sampean salah! Apakah  hanya sebatas pujian yang selama ini sampean cari di pondok? Berulang kali Alloh telah mengingatkan agar kita bertawakkal, bersyukur serta ikhlas. Bukankah kita semua belajar di pondok untuk bersama-sama meraih cinta dan ridlo-Nya? Karunia yang dianugerahkan Alloh untuk sampean berbeda dengan karunia yang diberikan Alloh padaku. Untuk memberi manfaat dan berbuat kebaikan itu tidak hanya terpaku pada satu hal.”
“Bahkan hingga teragisnya, seandainya Alloh hanya memberikan kita hati dan pikiran saja, dengan dua hal ini kita dapat memberikan banyak kebaikan untuk diri kita dan orang lain, misal dengan tetap berzdikir, berpikir dan beride. Padahal masih ada sangaaat banyak karunia yang Alloh berikan pada kita. Bukan mengeluh dan iri, namun tetap bersyukur dan terus meminta sebagian dari karunia-Nya”, Nushaiba sejenak menghentikan kata-kata, memberi waktu kepada lelaki itu untuk berkata-kata. “sampean tahu bagaimana agar kita mendapatkan cinta Alloh?”
Husain hanya menggeleng, menundukkan kepalanya.
“Dengan keikhlasan serta memenuhi banyak hal yang diperintahkan Alloh, kita bisa meraih ridlo dan cinta-Nya.”
Sunyi, sepertinya tidak ada lagi seesuatu yang ingin Nushaiba sampaikan.
“Lalu bagaimana aku bisa mensyukuri kelambatan berpikirku ini mbak?”
“Itu yang lebih susah. Sebenarnya bersyukur itu tidak cukup dengan mengucapkan tahmid, namun bersyukur itu dengan perbuatan. Kita bertaqwa untuk bersyukur pada Alloh, kita bertawakal untuk bersyukur, dan kita ikhlas juga untuk bersyukur pada Alloh. Meskipun kata orang kita ini bodoh maupun pintar, maka yang harus kita lakukan adalah tetap belajar dengan semaksimal mungkin. Banyak orang pintar tidak bisa mensyukuri nikmatnya, dia cepat paham lalu dia jadikan alasan untuk bermalas-malasan. Orang yang merasa bodoh pun kadang terlalu banyak mengeluh dan cepat putus asa.”
“Terimakasih mbak! Sekarang aku merasa lebih tenang”, dagunya mulai terangkat, kedua matanya mengarah pada wajah Nushaiba yang penuh dengan ketenangan serta semangat.
Senyum, hanya itu yang bisa disampaikan Nushaiba.
Husain mulai paham dengan gerakan mata Nushaiba. Di tempat sepi dan hanya berdua adalah hal yang sangat dilarang. Nushaiba pun tidak mampu berkata apapun, namun Husain tahu apa yang ada di benak Nushaiba lewat isyarat matanya.
“Saya pamit dulu, sekali lagi terimakasih”. Lelaki itu berlari cepat. Kain sarungnya, menciptakan bunyi khas yang mengiringi di setiap langkah.

Kalam-Nya berbicara, bahwa belajar itu menjelajahi dunia..

Lalu, dia kah sepertiga yang lain?

Speda berwarna merah muda, berjalan dengan ban kempes. Gadis manis dengan pakaian serba hijau tua degradasi menjadi semakin muda, begitu juga dengan jilbabnya. Mendorong speda itu dengan kelelahan. Butiran keringat berjejalan keluar dari pori wajah anggunnya.
Di kota ini embun selalu aku sapa setiap pagi. Panas matahari tidak terlalu menyengat, dan kabut-kabut masih sering mewarnai hari. Namun hari ini, lebih panas dari biasanya.  Lebih bising dari biasanya dan polusi menggantikan kabut. 
Banyak pabrik yang mulai berdiri menakutkan, tidak ada lagi jalanan yang sepi dari asap kendaraan, entah disaat pagi, siang, sore dan malam. Persawahan mulai habis oleh bangunan sekolah, perumahan, dan apalah banyak macamnya.
Dan yang membuat heran, keadilan tidak bisa lagi dipamerkan. Orang-orang kaya yang kepanasan langsung saja membeli mobil, AC, membuat rumah yang besar, menyimpan banyak kulkas sedangkan barang-barang yang mereka miliki itulah sumber dari kemarahan alam. Lalu, orang-orang miskin yang akan semakin menderita karena alam yang marah. Para petani jarang sekali menggunakan mobil bahkan ke sawah pun cukup dengan topi, dan kenapa mereka yang selalu menanam? Namun mereka pula yang semakin kepanasan serta menderita hal lainnya.
“Nushaiba?” Suara tidak asing terderang begitu jelas dari arah belakang Nushaiba.
Seketika Nushaiba menghentikan langkahnya, menengok ke belakang. Terlihat sosok yang tidak asing mengenakan baju putih serta celana abu-abu, “eh, kang Imam. Baru pulang sekolah ya?”
Senyumnya yang pertamakali disuguhkan, “iya, Ning Nushaiba.”
Senyum Nushaiba menyimpan heran, “kok Ning?”
“Boleh kan manggil Ning? Itu panggilan sayang untuk sampean.”
“Hahaha.. tapi itu biasa untuk memanggil putri Kyai kan? sampean ini aneh-aneh deh,” kata Nushaiba dengan sesekali tertawa.
“Kalau sampean dari mana Ning?” kalimatnya tidak nyambung.
“Tadi aku belajar banyak dengan anak-anak jalanan. Setiap empat hari dalam seminggu aku belajar dengan mereka. Aku bertemu dengan Raihan, dia cowok cerdas dan pemberani. Baik pula.”
Hanya senyum tanpa tanggapan, mata Imam seperti ingin mengenali Nushaiba. Perhatiannya tidak pernah teralihkan sekali pun dari Nushaiba.
“Loh, bannya kempes Ning?” Seketika Imam kaget ketika melihat ban belakang Nushaiba terlihat tanpa angin.
“Iya, makanya aku jalan.”
“Itu tuh, ada bengkel. Kita kesana saja,” jari telunjuk Imam menunjuk sebuah bengkel di kanan jalan. Banyak orang berjejalan di tempat itu.
“Oke deh! tapi antrinya banyak banget, gimana coba?”
“Dari pada tidak?”
Senyum pasrah tersimpul dari wajah yang anggun itu.
          Kursi panjang telah menanti Nushaiba dan Imam, untuk duduk sambil menunggu antrian panjang serta melepas lelah. Ada sedikit kecanggungan di wajah mereka, namun akhirnya mereka mulai biasa. Dengan jarak yang cukup panjang, mereka terus membincangkan sesuatu.
“Kok pulangnya jalan? Sampean kan bawa motor di pondok toh?”
“Iya Ning, tapi rasanya prihatin dan sedih juga. Di kota ini semakin terasa panas, menjadi ikut merasa berdosa jika harus melakukan kesalahan yang sudah kita ketahui. Mendingan jalan atau naik angkot.”
“Haha, naik angkot sama saja dong!”
“Beda. Kalau naik angkot masih mendingan loh. Soalnya, meskipun penumpangnya banyak ataupun sedikit, angkot tersebut tetep terus berjalan. Mendingan aku tumpangin, iya toh? Hahaha”
“Oh iya ya. Atau mendingan speda itu sampean yang bawa, ternyata sampean lebih membutuhkan daripada aku.” Kata Nushaiba sambil menunjuk speda pemberian Imam, yang masih menunggu tukang bengkel untuk memperbaikinya, “itu kan speda pemberian sampean toh.”
“Waaaa! Masak aku pakai speda warna merah muda gitu? Hahaha.” Imam menolak dengan canda.
“Hahaha, nggak masalah toh!”
“Eh Ning, aku boleh tanya sesuatu?” Kalimatnyaa mengalihkan pembahasan.
“Boleh. apa?”
“Cita-cita sampean itu apa sih?”
“Banyak, tapi cukup satu hal saja. Bermanfaat bagi banyak orang.”
“Bermanfaat? Bagaimana caranya?”. Imam mencoba menatap mata Nushaiba yang sedari tadi menghindar. Kali ini wajah Nushaiba tertunduk, menyiapkan penjelasan yang panjang.
“Aku mencintai orang-orang di sekitarku. Aku ingin mengungkapkan cintaku pada mereka. Bahkan Alloh mewajibkan kasih sayang (rahmat) pada Diri-Nya, so kenapa aku tidak? Tugas ku disini hanya ishlah. Dan aku membuatnya indah dengan mimpi-mimpi. ”
 “Lebih tepatnya, bagaimana akan menugangkapkan cinta?”
“pengen tau aja! Hmm, tapi aku sudah menancapkan mimpi-mimipi ke depan. Aku kecewa pada pemimpin-pemimpin hari ini, pada dokter-dokter hari ini, pada kebodohan-kebodohan kita hari ini dan sekolah kita hari ini! ” Tiba-tiba amarah Nushaiba memuncak.
Nushaiba kembali menghela nafas panjang. “huuuufft, semoga aku diberi kekuatan, ide, kawan dan waktu. Aku tidak rela Indonesiaku terus-terusan diperas kekayaannya! Dibikin bobrok dalamnya.”
Imam menenangkan dengan senyum, dia mulai bisa membaca apa yang terjadi di dalam hati Nushaiba. “tidak perlu kita membahas mereka. Yang penting kita tidak ikut-ikut saja lah. Cita-cita sangat mulia Ning!”
“Tapi, mereka benar-benar keterlaluan!”. Kali ini kemarahannya mulai meluap, perlahan air matanya mulai mengalir, “Aku paling benci jika harus berbicara tentang orang kaya dan miskin, benar-benar tidak ada keadilan di sana!”. Nadanya, perlahan kembali normal. “
“mana ada orang bodoh dilarang sekolah? Mana ada orang miskin dilarang sakit? Mana ada kita kehilangan kepercayaan diri? Mana ada kita tidak berdaya dengan apa yang kita punya? Tidak bisa berbuat untuk sekeliling kita? Ini ada yang tidak beres,” mata Nushaiba terpejam, dia mulai fokus menata perasaannya yang hampir terbawa amarah.
Imam tahu apa yang harus dia lakukan, dia harus mendinginkan hati Nushaiba dengan kalimat-kalimat yang positive. Serta tetap menjaga kata-kata yang halus, yang tidak berlawanan dengan apa yang ada dalam benak Nushaiba.
“Memang benar kamu Ning, itu termasuk salah satu dari kehancuran negara kita. Sekarang ini orang-orang yang sekolah, harapan mereka hanya sebatas ijazah agar bisa bekerja. Semua para guru, mereka juga niatnya adalah bekerja. Begitu juga dengan para dokter bahkan pemimpin-pemimpin kita. Mereka tidak pandai memisahkan niat Ning.”
Nushaiba mulai mengangkat dagunya, merasa ada pengetahuan baru yang barusan dia dapat dari Imam. Namun kali ini dia memamerkan wajah cemberut di hadapan Imam. Tentu saja hal itu membuat Imam bingung. Dia bertanya-tanya, apa aku salah berkata-kata ya?
“Padahal telah dikatakan, bahwa yang dinamakan orang ikhlas itu orang-orang yang dapat menempatkan niat pada tempat yang sebenarnya.”
“Kemarin, Ustazd juga sempat berpesan bahwa kita ini harus memilih tiga hal penting untuk hidup. Dan ketiga hal ini sama sekali tidak boleh dicampur adukkan. Pertama kita harus terus berjuang untuk mendapatkan cinta Alloh, kemudian kita harus memiliki keterampilan untuk kebutuhan hidup, dan satu lagi kita harus tahu hal apa yang bisa kita berikan kepada orang lain seperti cita-cita Ning itulah contohnya. Nah, itu idealnya seorang yang hidup. Hati, pikiran, jiwa dan keterampilannya bisa seimbang. Dan pastinya mereka itu akan disebut Ning Nushaiba sebagai orang yang Ikhlas. Hahaha”
Nushaiba pun tersenyum malu. Dan Imam telah berhasil membuat Nushaiba menjadi lebih tenang.
“Mbak, ini spedanya,” seorang lelaki tua. Pakaiannya sangat kotor, belepotan warna hitam. Bahkan tangan, wajah dan kakinya pun sangat kotor. Badannya jangkung dan sepertinya sudah terlalu lama menikmati hidup di dunia.
“Oh iya makasih pak,” Nushaiba pun cepat-cepat meraih speda merah muda tersebut.
Meski ban speda Nushaiba tak lagi kempes, dia tetap berjalan dengan kaki dan di sampingnya Imam mengiringi perjalanan Nushaiba. Namun perjalanan mereka berdua tetap berjarak dan dipisihkan speda di antara mereka berdua.
“Aku malu dengan sampean,” Nushaiba mengawali pembicaraan.
“Kenapa?” kata Imam, sesekali menatap wajah anggun itu.
“Aku masih sering lupa bersyukur, aku masih gampang putus asa, aku terlalu sering menilai keburukan orang lain dan aku jarang bisa berpikir lebih panjang. Jadi, jika aku salah minta diingatkan ya? Siapa lagi yang akan mengingatkan jika bukan sampean?”
“Bukannya kebalik, seharusnya aku yang minta Ning Nushaiba untuk mengingatkan aku?”
“Nggak, sampean itu yang lebih dewasa”
“Wah, curang!”
“Biarin, pokoknya aku minta diingatkan terus kalau salah,” kata Nushaiba dengan cekikikan.
“Yang paling adil, mendingan kita saling mengingatkan. Oke?”
“Sebenarnya aku masih tidak terima, tapi yasudahlah.. hahaha”
Obrolan mereka telah berubah menjadi lebih ceria dan penuh dengan tawa. Namun Nushaiba kembali mengajak pada pembahasan yang cukup serius, dan membuat hati Imam bergetar.
“Maaf, beberapa waktu terakhir. Di dalam hatiku, aku sering menyebut sampean sebagai saudara ku.hwa saudara ku telah meninggal?”
Hanya senyum canggung yang bisa Imam sampaikan.
          Nushaiba kembali melanjutkan niatnya, “hehe, mungkin aku terlalu lancang berbicara seperti ini. Tapi dari pada aku pendam terus nanti malah jadi terlalu kepikiran, kadang menjadi tidak tenang juga ketika belajar. Nah, karena aku sudah mulai merasa terganggu makanya aku ingin katakan pada sampean saja.”
“Hmm… sebenarnya bukan hanya sampean, ada tiga orang yang aku anggap sebagai saudara kandung yang aku cintai dan harapkan kasihnya. Namanya Raihan, Muhammad dan yang terakhir sampean,” dengan keberanian penuh, Nushaiba mengungkapkan isi hatinya. Seperti ada sesuatu yang mendorong Nushaiba untuk membuka isi hati di hadapan Imam. Sosok yang mulai dia percaya.
“Wah! Masih ada dua saingan dong. Hahaha,” Imam ingin mencairkan suasana.
“Iiih, sampean bisa saja! Jadi ingat dengan Kak Shufyan nih. Dia itu orangnya gokil banget dan suka bercanda.”
Hari ini benar-benar menjadi hari yang paling indah milik Imam. Berjam-jam dia bersama dengan pujaan hatinya. Begitu juga dengan Nushaiba, dia merasa benar-benar bersama dengan saudara kandungnya. Dia merasakan kepedulian dan kasih sayang yang dia rindukan dari Kakak tercintanya. Rasanya nama ‘Kak Shufyan’ sedikit demi sedikit mulai tergantikan. Nushaiba cukup berhasil membohongi dirinya. Tidak ada lagi menangis di setiap hening, karena kakaknya hadir kembali dengan nama yang lain.
Namun kedekatan mereka bukan berarti tidak akan berfek buruk. Apalagi mereka adalah sama-sama santri pondok, meski Nushaiba hanya sebatas santri kalong. Hanya berdua saja, tentu sangatlah dilarang. Lalu apa yang akan terjadi pada mereka berdua setelah ini?

Berkenalan dengan sepertiga jiwa yang lain, pendiam..

“Assalamu’alaikum wa rohmatullahi wa barokatuh. Sebelum kita mulai musyawarah di sore hari ini, kita hadiahkan sholawat dan suratul fatihah pada baginda Rosul, keluarga, serta para sahabat. Agar dalam pertemuan ini kita semua mendapatkan ilmu bermanfaat, semangat pada kebaikan dan terutama Ridho Alloh. Berdo’a dipersilahkan ”.
Lelaki ini berkata dengan santai dan suara kecil. Ya, dia adalah Muhammad. Musyawarah di sore hari memang telah menjadi kewajiban bagi para santri putra-putri, termasuk pemimpin musyawarah pun wajib bergilir.
Bisikan bersumber dari tenggorokan Nushaiba, ketika semua santri di kelas tertunduk berdo’a, “dia yang bernama Muhammad ya mbak?”
Lena pun menjawab dengan suara kecil. Dia mendekat pada telinga Nushaiba. “iya mbak. Dia itu orangnya pemalu, makanya jarang menjadi pemimpin musyawarah. Tapi kali ini, mungkin dia mendapat peringatan tegas dari pengurus.”
“Oh,” jawab Nushaiba singkat, sambil mengangguk. Nushaiba dan Lena pun segera menunduk dan berdo’a.
“Selesai,” Muhammad segera memotong waktu berdo’a.
Wajah Muhammad kembali menghadap ke bawah, seperti sedikit menyusun kata dan menngupayakan diri untuk tenang. Semua santri pun terdiam, dan terus memperhatikan gerak Muhammad, “kita mulai ya!” Wajahnya mulai terangkat, terlihat putih pucat.
“Pembahasan kita akan dimulai dengan pertanyaan, atau saya akan sedikit mengulas bab ististna’ seminggu yang lalu?”
“Seperti biasa saja, diulas kembali dulu,” jawab Rendi. Seolah-olah suaranya memang mewakili seeluruh santri di kelas.
Wajah pucatnya mengangguk, tersenyum manis. Tangan kanannya meraih batang kapur yang ada di samping dampar (meja panjang, tinggi se-lutut), mulai berdiri dan badannya menepis papan tulis hitam yang menempel di tembok kelas. Kata istisna’ dia tulis di pojok kanan dengan huruf hija’iyah.
Hampir mirip dengan tulisan ustazdnya seminggu yang lalu, Muhammad terus menuliskan apa saja yang dia ingat tentang istisna’. Sesekali, dia pun melisankan apa yang ada dalam benaknya, “silahkan disimak, jika toh ada yang salah langsung ditegur saja.”
Tangan kanan Nushaiba terangkat sedikit tinggi dari kepalanya, mencari perhatian Muhammad.
“Ada yang ditanyakan?” Wajahnya melukiskan kegusaran di depan semua santri.
“Seminggu yang lalu, ketika madrasah malam sepertinya banyak yang tidak datang karena acara. Padahal waktu itu kita belajar sampai malam banget, karena bab yang satu ini memang seedikit rumit. Bagaimana jika sampean mengupayakan agar semua teman-teman kita di kelas bisa paham di sore hari ini?”
Menangangguk dan terdiam sejenak.
“Yang sudah merasa paham bisa tunjuk jari?”. Suaranya menjadi satu-satunya yang didenggar.
Tangan Rendi, ‘Umar, Adi dan juga Bima mulai terangkat. Begitu juga dengan delapan santri putri, hanya saja Naziha belum kembali ke pondok.
Melihat respon itu, Muhammad melanjutkan rencana. “Alhamdulillah santri putri sudah semua. Tapi santri putra masih ada sepuluh teman yang belum paham. Itu artinya, kita berlima yang sudah merasa paham langsung memilih dua teman. Kita jelaskan satu-satu. Nanti di akhir musyawarah, kita coba evaluasi kembali.”
Tanpa ada kata-kata lain, semua lengsung bertindak.
Sedangkan santri putri pun nganggur. Ada yang tetap belajar, menulis dan ada juga yang kasak kusuk dengan suara sangat pelan. Sedangkan santri putra terkesan sangat ramai.
“Eh mbak, aku baru kali ini melilhat Muhammad berbicara dengan santri putri,” kata Lena sambil menyentuh pundak Nusshaiba.
“Beneran mbak?” Nushaiba memasang wajah kaget, “berarti ketika aku tanya tadi. Itu pertamakalinya dia berbicara dengan santri putri? Pantesan saja, wajahnya sarasa malu gitu.”
“Iya mbak. Dia itu alergi cewek. Dimana saja kalau ketemu cewek itu langsung nunduk mbak, padahal kalau santri putra yang lain malah menggoda gitu toh,” meski pembahasan itu semakin menarik, Nushaiba dan Lena tetap menjaga suaranya.
“Jago banget dia, mana cerdas banget lagi. Dari cara berbicaranya, dia sudah terlihat pinteeeer banget mbak,” Lena hanya terbengong melihat tanggapan Nushaiba yang berlebihan. “eh, tapi dia itu sekolah nggak mbak?”
“Wah, aku nggak tahu persis mbak. Sepertinya sih memang masih sekolah. Dia itu kan orangnya tertutup banget, seperti menyimpan sesuatu dan pernah mengalami trauma gitu. Bahkan setiap ditanya, kadang tidak dijawab. Tapi kalau seputar pelajaran gitu kadang dijawab. Makanya, orang-orang sering mengurungkan niat kalau harus berkata pada Muhammad mbak. Tapi hari ini tadi, benar-benar ada yang berbeda. Dan jangan salah mbak, hampir seratus persen santri putri terkagum dengan ketampanannya,” Lena terus-terusan menjawab dengan asyik.
“Aku jadi penasaran dengan Muhammad mbak,” Nusahiba berkata dengan suara sangat lirih.
Kertas bundar mengenai kepala Nushaiba dengan cepat, seperti ada lemparan yang disengaja untuk Nushaiba. Kemudian ada suara yang mengikuti, “hey! Musyawarah malah ngrumpi!”. Semua orang menghentikan aktivitas, sedangkan semua perhatian tertuju pada sumber suara. Rendi.
“Makasih, sudah diingatkan,” kepala Nushaiba kembali tertunduk.

Dongeng dan Generasi
*26 Desember*
        Aku seperti melihat punggungku. Aku menggambar gadis berjilbab dari arah belakang. Kepalanya terkesan mendongan ke langit. Meski hanya coretan yang aku buat-buat, tapi aku sudah merasakannya sebagai sosok yang penuh harap.
Di atas, aku menaruh sangat banyak bintang. Di salah satu bintang, aku tuliskan di dalamnya “petani kreatif”, di bintang sebelahnya “istana sampah”, di bintang pojok kutuis “dokter dan tanahku”, bintang paling besar ku tulis “Al-Qur’an dan mimpi” dan di bintang selanjutnya “ideku”, kemudian juga “dongeng unyu”
Jika kesehatan adalah salah satu dari banyak hak penduduk negeriku, hari ini tiba-tiba aku melirik “dongeng”. Yup, Negeriku akan terus berusaha dan berupaya agar penduduknya dapat bertumbuh dan berkembang dengan nyaman. Aku rasa, dongen dapat membantu.
Melihat anak-anak kecil bahagia penuh sepanjang waktu, rasanya aku iri. Menangis beberapa menit saja kemudian lupa. Aku semakin tertarik dengan dunia mereka, duniaku dahulu.
Namun di belahan lain. Aku tahu, sebagian anak tak memiliki ayah atau pun ibu, atau mereka terlahir dari ibu yang jahat. Ah, mana ada ibu jahat!!? Ada kok.. ya, aku menjadi semakin penasaran tentang ini. Apalagi aku sadar, anak-anak ini adalah aset bangsa. Mereka (anak siapapun) harus mendapat hak untuk berkembang, karena mereka adalah anak bangsa.
Bagaimana seandainya aku terlahir dari kupu-kupu malam? Aku tidak akan pernah tahu Ayahku yang mana. Atau, bagaimana jadinya aku terlahir hasil dari perjodohan yang tak sehat. Akhirnya, setiap hari ibuku mudah menyakitiku, hanya sedikit akibat emosinya yang selama itu terpendam.
Bagaimana pula seandainya aku terlahir di gubuk sampah? Ibu ingin menjualku. Atau, aku terlahir dari Ibu yang sibuk. Aku dicuekin sepanjang masa. Pada siapa aku mengadu, meminta nashihat dan mengharap dekapan? Atau aku takut sampai menggigil saat berjalan mengendap. Keringatku keluar di tengah malam gelap, berusaha mengambil surat perceraian dan akan membakarnya.
Aku ingin belajar menulis dongeng. Aku ingin membagi sesuatu lewat cerita yang sederhana. Agar sejak kecil, mereka telah mulai saling mengerti tentang perbedaan. Meski ada yang terlahir di kawasan pahit, mereka tetap tegar dan dongeng akan menggantikan kasih ibunya. Ada pula yang terlahir dengan sangat beruntung, agar mereka semangat untuk berbagi.
Meski mereka merasa tak memiliki Ayah, namun dengan dongeng mereka akan tetap menikmati hidup yang barusan dikenal.
Hobbi ku memang berimpi, entah akan terwujud atau tidak. Entah akan terwujud secepatnya. Entah akan terwujud lusa atau sangat lama nanti. Aku merasa tak akan hidup tanpa mimpi dan imaji.
“Hey Kak, apakah agama melarangku berangan-angan?” Ku hampiri Kak Sufyan di teras.
Kak Sufyan hanya mengerutkan dahinya.
“Iya. Katanya, ciri-ciri orang yang beriman itu tidak banyak angan-angan,” Kataku menambahi.
“Oh.”
“Artinya, kita tidak boleh bermimpi dan bercita-cita?”
“Dinilai dong, apa isi angan-angannya?! Apapun angan-angan yang bersifat duniawi, tentu itu akan menipu kita bukan? Bukan berarti tidak boleh bercita-cita, Sa. Tapi, coba kamu nilai lagi cita-cita mu itu! Kamu ingat tentang kufur, dengki, ikhlas, riya’, fasad, sholih dan sombong!”
Aku tersenyum lega. Meski aku merasa diizinkan untuk bermimpi, namun aku harus lebih berwaspada lagi dengan mimpi, begitu juga dengan imaji.
“Bagaimana jika orang yang hobbinya berimajinasi?” Tanyaku selanjutanya.
“Apapun, jika berlebihan itu bahaya Sa.”
“Maksudnya?”
“Orang yang banyak memilih hidup dalam imaji, dia lama-lama akan lupa dengan dunia nyatanya. Dia cuma bisa berangan-angan, tidak pernah melakukan. Tapi, perlu berhati-hati saja.”
Aku terdiam, aku terpukul dengan jawaban ini. Aku merasa.. aku merasa.. tidak hidup.. aku membawa diriku dalam angan-angan hanya untuk merasa indah.. bahagia…  



khalifah

Seusai belajar dengan kawan-kawan jalanan, tertinggallah Nushaiba dan Raihan. Di samping taman kota, di bawah pohon beringin yang kebal dari sinar matahari, terlihat Nushaiba dan Raihan sedang membincangkan sesuatu. Mereka terlihat begitu menikmati perbincangan itu. Speda merah muda milik Nushaiba pun berdiri tegak di samping Raihan duduk.
Kulitnya penuh debu, celana jins di bawah lutut sedikit robek-robek, tulang-tulangnya sedikit menonjol dari kulit yang kasar, rambutnya tidak panjang dan tidak rapi, tas punggung yang lusuh masih saja digendongnya, di dalamnya ada sarung, baju koko yang bersih dan alat tulis. Maklum, berbulan-bulan dia hidup di jalanan dan sangat sering tidak makan. Ya, dialah Raihan. Bekas anak orang kaya.
“Apakah kamu termasuk orang yang berputus asa?”, tanya Nushaiba tanpa ragu.
“Kadang aku merasa putus asa, namun ketika aku harus menemui kecerian mereka rasanya keputus asaan tidak akan pernah datang lagi,” kedua matanya mengajak Nushaiba untuk memperhatikan teman-teman jalanan yang sedang asyik bermain, sedangkan sengatan matahari membuat kulit-kulit mereka semakin menghitam.                
 “Syukurlah. Tau nggak? Ternyata Alloh sangat membenci hamba yang berputus asa.”
“Benarkah? Sa, aku pengen juga belajar Al-Qur’an.”
“Ya, dengan Al-Quran kita menjadi tahu apa yang harus kita lakukan. Dan didalamnya, subhanalloh banyak sekali kata-kata yang membuatku semakin bersemangat. Teman-teman jalanan perlu kenal Al-Qur’an juga deh!”
“Kamu benar juga Sa. Berarti harus ditambahkan jadwal baru, ” berbicaranya serius tanpa senyum, sedangkan Nushaiba sendiri selalu senyam-senyum.
“Boleh, nanti aku bantu deh. Kapan-kapan ke desaku dong, di sana seru loh. Nanti belajar bertani dengan Kakek ku, biar nggak kurang gizi tuh! Hahaha,” tawa Nushaiba mengakhiri kalimat.
Raihan hanya tersenyum dengan lirikan tajamnya.
“Kamu juga ikut bertani Kakekmu Sa?”
“Ya iya dong!” Lagaknya orang sombong.
“Pantesan sekarang tambah hitam gitu! Hahaha,” kali ini tawa Raihan begitu lebar.
“Biarin!” Bibirnya manyun.
“Hiiiiiih, tambah jelek tahu!”
Ada suasana kaget di hati Nushaiba, hingga raut wajahnya berubah seketika,“ini sudah terlalu siang, aku pulang dulu ya.”
“Kamu nggak marah kan Sa?”
“Hahaha,” sambil beranjak mendekati speda, “nggak lah. Biasa saja kali, aku kan gadis pemaaf, baik hati dan tidak sombong,” kedipan matanya diiringi senyum untuk Raihan.
“Iiiih, belagunya! Hehehe.. tapi aku benar-benar minta maaf ya, dan makasih banget.”
“Okey pak Bos! Aku pulang dulu yaaa…,” kakinya sudah mulai mengayuh.
“Hati-hati…,” tangan Raihan terangkat, memberikan salam pada Nushaiba. Dan senyuman mengiringi  kepergiaan Nushaiba yang semakin jauh.
Kebulan asap semakin ramai dari ratusan motor dan mobil. Kota sekecil ini sudah mulai menyesakkan nafas. Pepohonan yang besar baru saja ditebang, karena pohon tua ditakutkan akan tumbang di jalanan. Tentu saja, udara terasa menyengat apalagi cahaya matahari yang bebas menyentuh kulit. Bahkan, butiran keringat tak mampu lagi menurunkan suhu tubuh.
“Ya Alloh, telah Engkau bentangkan tali keseimbangan dari bumi hingga ke langit dan Engkau meminta kami untuk menjaganya. Namun sekarang keseimbangan itu mulai ditelan kerakusan. Dan kami telah merasakan akibat kelalaian kami ini Ya Alloh,” Dengan ayunan spedanya yang berangsur pelan, hati Nushaiba kembali gundah. Cintanya pada alam kembali mengusik.
“Neeeng!”
Terlihat tangan melambai-lambai dari kejauhan, dan seperti ditujukan pada Nushiaba. “Neng? Apa dia memanggilku?”
Ayuhan spedanya semakin cepat dan semakin kencang, tentu saja kerudungnya penuh dengan angin yang beterbangan namun tidak sampai terlepas dan membuka. “Oh, Imam. Sudah ku duga!”
“Hahaha, Neng tahu aja! Tapi, kok bisa tahu kalau aku Imam?” Tawanya terlihat dengan lepas. Keringatnya membahasi wajah yang kelelahan.
“Siapa lagi yang memanggilku dengan sebutan Neng, jika bukan sampean?”, tersenyum. Kemudian mulai turun dari spedanya.
“Hehe,” wajahnya terlihat menyimpan malu. Lalu pembahasan mulai dia alihkan, “kok tidak seperti biasanya?”
“Maksudnya?”
“Maaf, sampean terlihat sedikit cemberut,” Imam mulai meniliti apa yang terjadi dengan wajah Nushaiba. “itu, air mata sampean hampir jatuh”.
Kali ini Nushaiba hanya terdiam tanpa tersenyum. Keningnya sedikit berkerut menahan sesak di dada. Dan dengan tertunduk, dia mencoba menyembunyikannya. Sangat sempurna. Tetesan air mata Nushaiba terlihat bercahaya, dengan dramatis mengenai kakinya saat akan melangkah.
Keduanya masih berjalan beriringan, dan Nushaiba sambil menuntun spedanya.
“Apa aku punya salah dengan Neng Nushaiba?” Wajahnya terlihat khawatir, sambil sesekali mencuri pandangan untuk melihat wajah Nushaiba.
Seketika, Nushaiba mengangkat wajahnya. Dia pikir, diam dapat menimbulkan kesalah pahaman, “nggak, sampean tidak punya salah sama sekali kok.”
“Lalu, kenapa sampean sedih?”
Kali ini Nushaiba tersenyum dengan berat. Berharap senyumannya dapat menenangkan hati Imam.
“Senyum sampean terlihat ganjal. Sebenarnya ada apa sih Neng? Cerita dong!”
“Huuuuft…”, desahan kesalnya dengan tatapan kosong, “lagi-lagi aku harus merasa berdosa, dan masih bingung untuk memikirkan hal ini.”
“Berdosa? Lha bingung gimana, kok sampai segitu sedihnya?”
“Manusia itu satu-satunya makhluq yang mempunyai akal. Itu artinya, kita bertugas menjaga makhluq-makhluq yang lain, yang ada di bumi ini. Namun, akhirnya kerakusan kita ini lah yang menjadikan kita sebagai hewan tanpa naluri. Dan ekosistem tak lagi seimbang.”
Imam hanya mengangguk, lalu ikut menambahkan, “jika manusia diberi karunia berupa akal untuk menjaga makhluq yang lain, lalu kenapa harus ada nafsu yang Alloh berikan pada kita?”
“Ya, seperti halnya dengan kalimat ini. ‘Jika jin dan manusia itu diciptakan untuk menyembah Alloh, kenapa Alloh memberikan keinginan pada kita untuk tidak menyembah-Nya?’ Aku pikir itulah ujian, dan hanya dengan itulah maka surga ada bagi kita.”
Lanjut Nushaiba, “Tapi kalau dipikir-pikir aneh juga, kenapa Nabi Adam diciptakan untuk menjadi khalifah di bumi ya? Dan sebenarnya, tanpa kita menjadi khalifah maka lebih damailah bumi ini bersama semua makluq yang tidak mempunyai akal serta keinginan, dan yang pasti keseimbangan ekosistem tidak akan pernah terganggu”. Nushaiba hampir kehabisan nafas karena kalimat panjangnya tanpa putus.
“Lalu, apa yang dimaksud khalifah dalam kalam Alloh yang sebenarnya?”. Sambung Imam dengan kalimat yang tidak sepanjang milik Nushaiba.
“Hmm, entah lah”,  Jeda. Kedua mata Nushaiba mencoba mencari bintang di langit, dengan warna biru cerah. Kalimatnya pun masih berlanjut. “Bahkan, malaikat sudah lebih dahulu tidak dapat menerima ‘mengapa makhluq yang merusak bumi dan pembunuh akan menjadi khalifah di bumi itu sendiri?’. Dan akhirnya, jawaban Alloh sudah cukup membungkam para malaikat ‘Aku lebih mengetahui terhadap sesuatu yang tidak kalian ketahui’ lalu mengapa kita harus mencari jawaban itu? Toh, kita tidak diperintahkan untuk mencari jawabannya kok.”
“Iya, bener banget. Bukan itu yang seharusnya kita cari. Namun, keIslaman seseorang itu harus mencakup dua hal utama. Yang pertama itu beriman, meliputi segala hal bentuk ibadah. Dan kemudian beramal sholih, maksudnya adalah meliputi segala tugas kekhalifahan manusia yaitu mewujudkan bumi yang damai. Jika saja, kita cacat dalam satu hal maka cacat pula keislaman kita dan harus mau memperbaiki diri”. Kali ini, kalimat Imam membuat hati Nushaiba terasa menjadi lebih bersemangat.
“Hmm… mewujudkan bumi yang damai ”. Kalimat Nushaiba yang membuat hati Imam bertanya-tanya.
Dan ternyata kalimat Nushaiba masih berlanjut, “sepertinya aku tahu. Ada satu hal yang menjadi sumber masalah bagi kita semua ini.”
“Apa?”. Kata Imam seperti tak sabar ingin segera tahu.
“Semakin banyaknya penduduk bumi.”
“Maksudnya neng? aku belum paham.”
“Aduh, pembicaraan kita harus terputus”. Mata Nushaiba terkejut melihat gang desa di hadapannya. “kita tidak mungkin berjalan berdua di sini. Yang ada nanti sampean kena takzir, meski tidak ada niat buruk di antara kita.”
“Hmm, iya neng. Aku sedih…”. Imam mencoba mengekpresikan kesedihan di wajah.
Nushaiba mengalihkan pembahasan karena tidak ingin terlarut dalam hal yang tidak penting. “oh iya, tapi aku ingin titip sesuatu.”
---- Maaf, mungkin terkesan sedikit lancang karena tiba-tiba mengirimkan surat. Tapi, aku hanya ingin menanyakan sesuatu yang penting saja. Aku ingin mengadukan sesuatu tentang permasalahan desa.
Sekarang ini, aku rasa santri kalong terlilhat semakin menipis, dengar-dengar karena tugas SEKOLAH yang membebani (aaahh, lagi-lagi sekolah yang menyebalkan). Entah benar atau tidak, namun sementara ini kendala itu yang aku ketahui. Aku hanya sedikit khawatir, semakin hari pergaulan luar mulai masuk. Dan sayangnya kebiasaan yang mereka tiru bukan kebiasaan yang positif, mulai dari cara pakaian yang sangat membuka aurat dan kebiasaan konsumsi.
Bagaimana pun juga, hal ini tidak boleh menjadi kebiasaan. Budaya kita, kepedulian kita dan kepercayaan diri pada bangsa kita akan berangsur padam.
Namun sisi lain, kita sangat perlu bergaul dengan orang lain, dengan siapapun. Agar kita menyayangi semua orang, agar kita bisa belajar dan berbagi pada siapapun. Karena kita harus kembali mengingat, bahwa Islam adalah Rohmatan lil’alamiin. Bukannya lalu anti pada non Islam.
So, menurut sampean sendiri apa yang perlu kita lakukan sekarang? -----
Nushaiba menyelipkan suratnya di dalam amplop putih.
“ Minta tolong suratnya diberikan ke Muhammad ya.”
“Iya. Tapi isinya apa? Sebelum sampai ke Muhammad, saya harus menyerahkan ke pengurus dulu untuk dibaca”. Amplop itu telah berpindah ke tangan Imam.
“Iya, tidak masalah. ”
Takziran
Sudut-sudut masjid dan pondok mulai menggema, tak kuasa menyimpan suara merdu Muhammad. Serambi masjid yang awalnya terlihat hijau muda sekarang berubah menjadi putih rapi. Baju para santri lah yang ikut mewarnai, menyimbolkan kejujuran, kesucian serta kedamaian.
Ada yang tersenyum indah dengan ketenangan, ada yang menatap kekosongan, ada yang terus berandai-andai, ada yang sangat bersemangat hingga tubuhnya tak ingin berhenti bergerak, bahkan ada yang tertunduk mejatuhkan air kesejukan. Dan sama, mereka sedang menyuguhkan sucinya sholawat serta salam untuk sang kekasih.
Takjub. Hanya satu ekspresi yang tergambarkan di wajah Nushaiba. Berdiri termanggu, mencari pandangan lewat pintu-pintu yang terbuka, “jadi ini, kegiatan santri putra setiap malam jum’at?”. Lalu, kepalanya mulai menggeleng karena kagum. “benar-benar indah. Iri deh!”
“Hai!”. Suara tak asing menyapa Nushaiba dari balik punggung, dengan seketika dan mengagetkan.
Kepala Nushaiba berbalik arah menyambar sumber suara, “mbak Endah?”
Hanya senyum yang Endah haturkan.
“Menjadi santri putra itu enak banget ya,” Nushaiba berandai-andai.
Endah tidak ingin menanggapi pembahasan itu, “sampean tau, dipanggil malam ini karena apa?”
“Emang kenapa?” Wajah Nushaiba sedikit terkagetkan.
“Sampean bakalan ditakzir.”
“Aku?” kali ini, Nushaiba tak lagi menikmati sholawat yang dilantunkan kelokan nada Muhammad. Telinganya hanya ingin menunggu jawaban dari Endah, “aku salah apa?”
Dengan kelembutan, Endah menjawab lirih, “sampean jalan berdua bersama Imam kan?”
“Iya,” Suaranya serasa ingin ditahan dan kepalanya sedikit mengangguk ragu.
“Itulah kesalahan sampean mbak. Mabak Sasa pacaran?”
“Tidak”. Kepala Nushaiba menggeleng cepat, “kita tidak pacaran. Kita sekedar berdiskusi, kebetulan hanya berdua saja.”
“Ya sudah, sekarang kita bertemu dengan pengurus putra, di kantor. Mohon dijelaskan dengan sejujur-jujurnya mbak,” katanya sambil melangkah meninggalkan Nushaiba.
Nushaiba pun mengikuti punggung Endah. Kenapa harus ada hal seperti ini Ya Alloh? Sama sekali aku tidak menyimpan rasa yang aneh-aneh kok. Dan sedikitpun aku tidak merasa beruntung bisa jalan sama cowok. Iiiih sebel! Aku kan benci pacaran! Tapi kenapa aku mendapat takzir karena pacaran? Iiiih, nggak banget deh.. Seemuanya gara-gara Imam!
Wajahnya terlihat muram dan menyimpan amarah yang tertahan. Meski angin-angin membawakan sholawat kesukaan Nushaiba. Namun tak lama, tiba-tiba dahinya mengernyit. Astaghfirulloh, kenapa aku harus menyalahkan orang lain? Jika toh ternyata aku benar, kenapa harus mau disalahkan? Ya, aku akan menjelaskan dengan sejujur-jujurnya Ya Alloh. Aku mohon kekuatan Mu, lapangkanlah dadaku dan lancarkanlah lisanku dalam berbicara. Hanya Engkau Yang Mahamengetahui dalam hati makhluq manapun.
Kaki Nushaiba telah menginjak karpet hijau, dilihatnya ruangan yang sangat asing. Ada banyak kitab dalam almari, ada beberapa meja dan kursi serta beberapa hal yang diperlukan para Ustazd. Namun di dalamnya belum ada seorang pun yang dia temui, kecuali hanya mbak Endah dan mbak Umi selaku pengurus pondok putri.
“Assalamu’alaikum!”
Wajah setengah tua dengan senyum melangkahkan kakinya ke dalam ruang kantor, tempat Nushaiba kini berada.
Patuh dengan perintah Alloh, maka Nushaiba dan Endang menjawab penghormatan Ustazd, “Wa’alaikum salam!” Dengan kalimat yang sama, meski lebih baiknya dengan penghormatan yang lebih.
Belum seempat selesai menjawab salam, terlihat Imam dan seorang pengurus putra juga ikut menghampiri kami.
“Ya, langsung saja,” Buka pembahasan dengan singkat. Ustazd Anwar selaku lurah di pondok ini.
Diawali dengan senyum, Ustazd Anwar mulai menghakimi, “di pondok ini sudah jelas-jelas dilarang jika ajnabiy dan ajnabiyah hanya berdua saja. Lalu, kami mendapat kabar bahwa kang Imam dan mbak Nushaiba berjalan hanya berdua. Meski sebenarnya mbak Nushaiba hanya santri dari desa atau santri kalong, tapi mbak Nushaiba sudah berada di kelas hampir tinggi, kan menjadi teladan banyak adik-adik. Khawatirnya, akan ada kecemburuan sosial. Itu artinya, kami seelaku pengurus pondok juga harus melibatkan mbak Nushaiba untuk mendapat hukuman.”
“Boleh menambahi?” suara Nushaiba terlihat begitu canggung.
Ustazd Anwar mengangguk. Wajahnya tidak menakutkan namun terkesan berwibawa, jadi semua santri pun segan.
“Ingin menjelaskan saja, sebenarnya kita tidak saling suka dan kita tidak pacaran.”
Sebelum Nushaiba melanjutkan kalimat, tiba-tiba mbak Endah menyela tanpa ijin, “jika saling mencintai itu tidak dilarang mbak. Namun yang dilarang adalah ajnabiy serta ajnabiyah sampai berdua saja.”
Nushaiba sempat akan marah, namun dia mencoba meredamnya dengan kelembutan bersuara, “maaf mbak, aku belum selesai berbicara! Iya, aku tidak akan mengelak dari hukuman. Jika dibilang salah sebenarnya kurang terima, tapi ya tidak masalah jika takziran ini juga demi kebaikan adik-adik kelas atau siapapun. Aku bersedia menerima takzirannya.”
“Ya, bagus. Kang Imam ingin menambahi?”
Katanya sambil tertunduk, “tidak.”
“Dan takzirannya, nanti kang Imam saya beritahu sendiri. Tapi untuk mbak Nushaiba selama seminggu, setiap hari bersih-bersih di ndalem (rumah) Pak Kyai, menyapu halaman pondok putri dan mencucui mukena masjid.”
“Tapi Ustazd, aku ingin mengusulkan hukuman yangg lebih bermanfaat.” Sela Nushaiba, lalu diam menunggu jawaban. Begitu juga dengan Ustazd Anwar, hanya terdiam namun memperhatikan Nushaiba.
Nushaiba pun segera melanjutkan kalimat, “lebih baik aku dan kang Imam menuliskan profile tentang pondok ini. Di dalamnya ada penjelasan tentang latar belakang apa yang membuat Pak Kyai membangun pondok ini? Kemudian pergantian sistem belajar antara yang dulu dengan sekarang? Berikut alasan mengapa tertuliskannya bermacam-macam hukuman, sehingga tulisan tersebut akan sangat bermanfaat bagi siapapun yang membacanya.
“Kadang, belajar tanpa memahami itu lebih sulit. Atau bahkan hal sepele tentang menerima takziran, pasti akan sangat terasa berat jika tanpa adanya alasan yang tepat.” Terang Nushaiba dengan mantap.
“Ya, itu ide yang sangat bagus. Berarti, hukuman awal tetap berlaku bagi Imam dan Nushaiba. Lalu ditambahkan hukuman selanjutnya yang diusulkan oleh Nushaiba,” tegas Ustazd Anwar dengan wajah polos, namun entah ada apa yang di dalam hati Ustazd Anwar sebenarnya.
Nushaiba hanya terdiam, mendengarkan kesimpulan yang tidak sesuai harapannya. Hmm.. oke lah tak masalah. Aku berniat baik kok, semoga Alloh memberikan karunianya.
“Maaf ralat. Penulisan profile pondok hanya menimpa mbak Nushaiba. jika berdua, maka sama saja hukuman ini akan mempertemukan kalian. Dan sebaiknya tidak,” Ada senyum di wajah setengah tua itu.dan tidak ada yang tau, senyum apa dan ekspresi wajah apa yang dimaksudkan.

Kepergian Kakek
Banyak orang mendatangi tempat Nushaiba tinggal bersama Kakek dan Neneknya. Ya, hampir semuanya berbaju putih untuk mengantarkan kepergian Kakek Nushaiba. Di dalam rumah, di halaman, samping-samping rumah semuannya sangat penuh.
Sudah menjadi adat desa. Sebelum jenazah diantarkan ke makam maka dipersilahkan sholat bergilir bagi para tamu, keluarga, dan siapa saja yang ingin mendirikan sholat jenazah. Berikut diiringi dengan tahlil yang berisikan Al-Qur’an, zdikir, sholawat Nabi serta do’a yang dikhususkan bagi jenazah.
Seusainya, acara pun dimulai. Seperti acara-acara pada umumumnya, akan di tuntun seorang pembawa acara. Pertama-tama adalah pembukaan dari pembawa acara, pembacaan ayat suci Al-Qur’an, sambutan wakil keluarga, kemudian akan ada  tasliyah dari Kyai desa. Biasanya, akan diceritakan beberapa riwayat kehidupan jenazah dan beberapa nasihat agar yang ditinggal tidak terlalu bersedih.
Dibuka dengan terjemah ayat AL-Qur’an, “Dengan menyebut Asma Alloh yang Mahapengasih lagi Mahapenyayang. Sungguh, Alloh akan memberi cobaan entah berupa ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa ataupun buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira bagi orang-orang yang sabar. Yaitu orang-orang  yang ketika mendapat mushibah akan berkata inna lillahi wa inna ilaihi rooji’uun (sesungguhnya kami ini milik Tuhan dan kami akan kembali kepada-Nya).”
“Mbak Nushaiba dan ibu Aminah, mereka berdua termasuk orang-orang yang sedang mendapat musibah yaitu kehilangan kerabat. Dan Alloh benar-benar telah menghibur dengan ayat ini. Di ayat selanjutnya disampaikan bahwa, ‘mereka orang-orang yang sabar akan mendapat ampunan dan rahmat dari Tuhannya dan mereka itu termasuk dari orang-orang yang mendapat petunjuk.’ Jadi, tersenyumlah mbak Nushaiba dan ibu Aminah. Alloh tidak akan pernah mengingkari janji-Nya.” Dengan nada halus Kyai Abdul Halim mengingatkan Nushaiba dan Neneknya. Dan agar dapat menjadi pelajaran baru untuk banyak orang yang ikut menghadiri acara pemakaman.
Mata Nushaiba telihat begitu tebal, kepalanya tersandar di bahu Neneknya. Terasa sangat lelah. Meski pandangan Nenek Nushaiba terlihat sedih, namun ketegarannya mampu menahan air mata. Tangannya terus saja mengelus kepala cucunya.
Bibir Nenek terus membaca sesuatu tanpa suara, entah apa mungkin saja do’a. begitu juga dengan Nushaiba, dia membaca kalimat istirja’ untuk menenangkan hatinya. Dan di dalam hatinya terus dipenuhi Asma Alloh.
Dengan kain sarung yang menutupi hingga mata kakinya. Dan dengan baju lusuh untuk menutupi badan kurusnya, Kyai Abdul Halim berdiri di tengah pusat perhatian orang-orang, “Jenazah yang sedang kita do’akan ini pasati sudah tersenyum dan segera ingin berlari menuju tempat istirahat terakhirnya. Beliau pasti sudah tidak sabar menerima balasan atas kebaikannya. Beliu adalah sosok yang sangat sederhana namun ketekunan, kebaikan, kelebihan dan ilmunya tidak pernah diketahui banyak orang.”
“Santri-santri beliau ini ada sangat banyak di beberapa desa. Dan hanya bermodalkan speda onthel, beliau menjadi Ustazd sejati kesana kemari. Sayangnya, beliau menyerahkan urusan agama desa ini di tangan saya, padahal saya sendiri belum pernah bisa menjadi orang sehebat beliau. Dan satu lagi, baru kali ini saya menemukan orang hebat yang hobbinya diam, berbicara hanya untuk menyampaikan ide serta ‘amar ma’ruf nahi munkar.”
“Beliau memilih menjadi orang miskin, meski beliau mempunyai banyak sekali peluang untuk terkenal, menyombongkan diri dan bahkan hidup dengan banyak uang. Dan saat dipuji wajah beliau ini selalu memerah, kemudian akan berkata ‘hentikan pujian itu! Hanya Alloh Dan RosulNya yang pantas dipuji!’ dengan nada tegas, sehingga membuat kami semua terbungkam…, ” sejenak terdiam, mengambil nafas. Kelembutan dalam bertutur, membuat banyak orang terus penasaran dan tetap memperhatikan isi cerita dari sang Kyai.
Mata Nushaiba terpejam, seperti mengingat suatu waktu. Hatinya mulai berbicara. Waktu itu, matahari terlalu panas. Hingga akhirnya aku dan Kakek memutuskan untuk bertuduh di bawah pohon besar. Menjadi sejuk rasanya. Aku dan Kakek memandangi sawah hijau yang terhampar begitu luasnya. Dan terlilhat kambing Kakek masih asyik menikmati rerumputan di sudut petak tanah kosong. Hanya ada rerumputan liar di sepetak tanah tersebut.
Semua orang pasti mengira Nushaiba tertidur karena kelelahan. Namun ternyata, Nushaiba semakin asyik dengan Kakek dalam mata terpejamnya.
Saat itu tiba-tiba Kakek mengajakku berbicara, meski pandangannya masih tertuju pada sawah-sawah yang terhampar luas, ”Nushaiba, kamu tahu kenapa Kakek memilih untuk menjadi petani?”
“Memangnya kenapa Kek?” Aku menatap wajah Kakek yang keriput.
“Rasanya, petani itu lebih sedikit dosanya. Kita tinggal menanam, kemudian dimakan. Jika berlebih bisa diberikan pada orang lain atau bahkan dijual. Tidak perlu yang aneh-aneh.”
“Bener juga Kek. Apalagi petani desa, mereka tidak akan gampang merusak alam kan? Apa yang dilakukan tidak pernah mengganggu keseimbangan alam, bahkan orang lain. Malahan, hasil kerja kerasnya benar-benar dibutuhkan orang lain. Wah, berarti pahalanya dobel-dobel. Hahaha,” tambahku sambil bercanda. Dan Kakek hanya tersenyum.
“Tambah satu lagi,” Suara Kakek tiba-tiba mengagetkan, “Masih mendapat bonus sehat. Karena setiap hari harus bekerja keras.”
“Iya juga Kek, ternyata banyak karunia bagi para petani. Pertama, bisa menjaga diri agar tidak terlalu berlebihan mengejar dunia. Hidupnya cukup indah dengan menanam kemudian dimakan sendiri. Hasil kerja yang berlebih pun dapat memberikan manfaat bagi banyak orang,  pekerjaan yang dilakukan pun tidak pernah merugikan yang lain bahkan alam dan lingkungan. Dan yang terakhir, masih mendapat kesehatan pula!”
“Tapi, ada pula petani jahat. Jika dia terlalu mengharapkan harta, maka cara apapun akan dia lakukan, bahkan sampai merugikan alam dan orang lain.”
Diam, aku hanya mengangguk.
“Kamu jangan coba-coba mengejar harta ya nduk. Coba kamu bayangkan ada seseorang yang mengejar bayangannya sendiri. Dia akan semakin menjauhi dari sumber cahaya dan dia tidak akan pernah bisa berhenti mengejar bayangannya. Semakiiin jauuuuh. Sama halnya dengan seorang yang mengejar harta, dia tidak akan pernah puas dan semakin jauh dari Tuhannya, hingga dia berbuat berbagai kejahatan.”
“Sebahaya itukah Kek?”
“Iya. Kau tahu bagaimana Nabi, para Khalifah dan para Sahabat Nabi memilih hidup?”
“Apakah mereka memilih menjadi petani?”. Sejenak terdiam, kemudian aku ingin merevisi kata-kataku barusan, “Haha, nggak mungkin kalau menjadi petani Kek. Orang mereka saja hidup di padang pasir gitu kok. Hahaha”
Tanpa mengikutiku tertawa terbahak-bahak. Kakek melanjutkan kalimatnya. “Mereka memilih hidup dalam kemiskinan. Kau tahu tentunya bagaimana Nabi makan? Bagaimana Nabi berpakaian? Bagaimana Nabi bersedekah? Bahkan kau tahu bagaimana Nabi menahan lapar. Beliau terpaksa membuka bajunya ketika Umar mendesak beliau”
“Waktu itu Nabi terlihat pucat wajahnya, hingga sahabat Umar mengkhawatirkan Nabi dan menduganya sakit. Berulang kali Nabi telah berkata bahwa beliau itu tidak sakit. Namun terus saja shohabat Umar tidak percaya. Hingga akhirnya Nabi membuka baju beliau, mengambil bebatuan yang terikat di perut yang hampir melekat di tulang belakang. Seketika Shohabat Umar menangis, dan meminta maaf pada Nabi.” Wajah Kakek terlihat benar-benar sedih. Seakan ikut menjadi saksi dalam peristiwa tersebut. Bagaimana tidak bersedih? Melihat kekasih Tuhan, pemimpin dunia, dan orang paling mulai menderita kelaparan hingga pucat raut wajahnya?
“Subhanalloh. Tapi kenapa sampai bisa kelaparan Kek?”. Aku pun ikut terkagum dan tidak sampai membayangkannya.
“Bukannya beliau tidak mampu makan, namun beliau memang memilih untuk lapar. Beliau berharap perbuatannya bisa meringankan penderitaan umatnya jika sampai kelaparan nanti.”
“Terlalu mulia Kek.” Ada banyak perasaan yang tersimpan dalam hati. Bersedih, bahagia, prihatin, dan ingin menyalahkan diri sendiri.
“Dan satu lagi. Dalam setiap do’a Rosululloh, beliau hanya ingin berkumpul dengan orang-orang miskin di surga.”
“Di surga? Tapi banyak juga kan Kek, orang miskin yang sering berbuat kejahatan, apakah mereka akan tetap masuk surga dan bertemu dengan Nabi?”
“Tentu saja orang miskin yang beriman, beramal sholih, dan juga yang penyabar serta pandai bersyukur.”
“Maksudnya penyabar?”
“Penyabar itu tidak pernah mengeluh atas kemiskinannya. Dia pasti akan sangat dibenci iblis. Tapi ada juga orang miskin yang terlihat kaya.”
“Siapa?”
“Dia adalah shohabat Ustman. Waktu itu belia menjadi seorang khalifah, tentu saja mendapat gaji. Tapi setiap kali mendapat gaji langsung diserahkan ke baithul mal. Untanya juga sangat banyak, setiap saat selalu diinfaqkan, namun setiap saat harta-harta selalu berdatangan pada beliau. Harta-harta sangat mencintai beliau karena berdatangan terus, tapi beliau sama sekali tidak mencintai harta. Kalau shohabat yang lain benar-benar memilih miskin. Mereka hanya mampu makan sekali saja dalam sehari. Meski ada yang menjabat sebagai khalifah sekalipun, atau bisa disebut presiden. Dan waktu itu sayiidina ‘Ali pun bekerja semacam menjadi pembantu orang Yaahudi untuk makan.”
“Hahaha, nggak bisa bayangin Kek. Sama saja SBY jadi pembantu dong..”
“Ya, itu artinya Nushaiba sudah bisa membayangkan bagaimana berbahayanya harta?”
“Iya Kek, benar-benar harus dijauhi ya..”
“Kamu ingin menjadi petani, Nushaiba?”
“Tentu saja mau Kek, profesi yang indah dan mulia!”
“Jangan lupa terus berdo’a agar tetap diberi kekuatan untuk tetap bersyukur dan bersabar, entah dalam keadaan kaya maupun miskin.”
Lalu kami beradu senyum. Senyum indah dari wajah yang telah keriput. Keteguhannya, kecerdasannya, kebijakannya, kelembutan hatinya, keindahan berbicaranya, dan hati mulianya membuatku iri hati. Kulit-kulit Kakek yang keriput menandakan, bahwa beliau telah hidup cukup lama. Menimpa banyak ujian dan sekrang masih bertahan dengan keimanan serta ketaqwaan. Beliau pasti tidak sabar lagi ingin bertemu Nabi dan kekasih sejati, Alloh.
“Nushaiba! kamu tidak inigin ikut ke makam?” Telapak tangan Nenek menepuk-nepuk pundak Nushaiba dengan halus.
Seketika, Nushaiba membuka bola matanya. Terlilhat sepi, semua telah berbondong-bondong mengantarkan jenazah Kakek Nushaiba ke masjid untuk disholatkan terakhir kali.
 “Aku ikut Nek”
“Yasudah, cepat! sana berangkat..”
Nushaiba pun berlari meninggalkan Neneknya, cepat-cepat menuju ke makam tanpa ikut ke masjid. Sudah menjadi kebiasaan, hanya laki-laki saja yang ikut mensholatkan jenazah di masjid.
Sebelum langkah kakinya menginjak di tanah makam, seorang gadis tidak asing menjemput langkah kaki Nushaiba. Suaranya pun menggetarkan daun telinga Nushaiba, “Assalamu’alaikuim”
“Wa’alaikum salam”. Tentu saja, Nushaiba menyambutnya dengan senyum.
“Semoga Kakek mu mendapat tempat terbaik di sisi-Nya”
“termakasih mbak Naziha.”
Setelah jarak mereka berdua cukup dekat, tangan mereka berjabat tangan.
“Aku balik ke pondok dulu ya mbak,” Kata Naziha akan pamit.
Senyum kembali dihaturkan Nushaiba, “Iya mbak.”
“Wassalamu’alaikum,” kali ini,salam yang diucapkan Naziha untuk mengakhiri perjumpaan.
“Wa’alaikum salam,” tanpa memandang Naziha lebih jauh, Nushaiba mengalihkan pandangannya ke makam. Terasa sunyi.

Indah di sepertiga malam terakhir
Langkahnya tergesa-gesa, dikejar matahari. Buku-buku dan kitabnya masih berceceran di atas kasur, meja bahkan ada yang terjatuh di lantai. Beberapa detik, terlihat wajah anggunnya tanpa jilbab. Rambutnya tergerai. Wajah gadis itu bersih bercahaya, karena air wuzdu yang mengalir di setiap lekukan wajahnya. Matanya berbinar, menyibakkan wangi karunia yang ada dalam dada. Tak berapa lama, bibirnya tersenyum indah sendiri.
Nushaiba tidak sabar lagi untuk segera menikmati waktu bersama Tuhannya. Hati, jiwa dan pikirannya telah mendambakan ketenangan dalam sepenggal kesunyian.
Bibirnya ingin bercerita banyak hal, mengadukan kehidupan pada Sang Pemilik Kehidupan.
Seusai mengulang seluruh hal yang telah aku dapat seharian, termasuk introspeksi diri atas kesalahan-kesalahan. Maka sekarang saatnya memohon ampun pada-Nya. Sholat tahajud yang akan mengawali, lalu aku akan terus memuji-Nya, beristighfar sebanyak-banyaknya, memohon perlindungan dan do’a apa saja yang ingin aku kabarkan pada-Nya.
Sunyi, sepi..
Bahasa lidah tak sampai ke telinga, bahkan menggetarkan tulang daunnya sedikit pun
Hati ini selalu ingin berbicara, mengusulkan dialog sambil terbungkam
Hanya mata yang berbintang-bintang mengisyaratkan kelemahan
Kedua telapak tangan melengkung,
Mengharapkan garis tangan yang terlukis indah.
Tak ingin menyambut pagi..
Berdua dengan-Nya adalah nafas terindah sepanjang hayat,
Tak ingin pergi dari pekat malam, berlari bersama waktu..
Pada kesempatan ini, satu hal yang terus aku pinta untuk dijauhkan dari hati, yaitu mengeluhkan atas segala nikmat serta karunia..
Karena ‘keluhan’ jauh dari kesabaran, syukur, dan bahkan keihklasan.
Dalam kalam suci Mu, engkau mengisyaratkan bahwa keikhlasan adalah titik tertinggi yang harus digapai oleh hamba..
Aku berlindung pada Ridho-Mu, dari Murka-Mu..

Lalu, Nushaiba menyimpan tangannya di bawah dagu. Ada sesuatu yang menghebat di hatinya. Mutiara-mutiara mulai berlinangan di sudut-sudut mata yang terpejam. Bibirnya bergetar menahan teriakan.
“Inna lillahi wa inna ilaihi rooji’uun”. Tangisannya semakin menghebat.
“Inna lillahi wa inna ilaihi rooji’uun”. Hatinya mulai tenang.
Dan di dalam ucapannya yang ketiga, menjadi semakin tenang hatinya. Bibirnya tersenyum, air matanya tetap berlinang, “sesungguhnya kami ini milik Tuhan, dan sesungguhnya kami akan kembali kepada-Nya.”
Masih saja tersenyum, “indah dan menyakitkan. Jujur, aku paling takut jika kehilangan. Meski sebenarnya aku tahu. Aku tidak memiliki apapun dan siapapun, bahkan aku sendiri pun bukan milikku. Jika aku tidak punya apapun, lalu kenapa aku takut kehilangan. Apa yang akan hilang coba? Tuhan, apakah menurut Engkau aku adalah hamba yang aneh?”
“Sekarang ini aku merasa memiliki orang-orang dekat. Masih ada Nenek, Raihan, Muhammad dan Imam. Tapi hanya merasa memiliki mereka Tuhan, tidak lebih. Karena mereka bukan milikku,” Senyumnya janggal. Matanya tertutup, wajahnya pun tertunduk.
“Berbicara seperti ini bukan mudah, di dalam hatiku masih perih. Rasa tidak akan pernah bisa menerima kalimat itu, meski aku berkata dengan kesadaran penuh,” Kali ini matanya mulai terbuka. Badannya benar-benar merinding.
“Aku tahu apa jawaban-Mu, mungkin saja Engkau yang Mahapenyayang akan berfirman. Bahwa benar apa yang kau katakan wahai hambaKu. Dan Engkau akan terus merasa takut jika belum mengalami kesendirian. Dan kau akan menimpakannya wahai hambaku, terimalah dengan sabar dan syukur maka kau akan menikmatinya sebagai kabar gembira dari Ku,” berbicara sendiri, dia merasa hanya berdua dengan Tuhannya.
“Terimakasih Ya Alloh, aku tahu bahwa Engkau tidak akan memberi ujian kepada hambanya kecuali jika dia mampu. Dan aku memohon pertolongan-Mu, penjagaan-Mu, dan juga lapangkanlah dadaku. Serta jagalah aku, sahabatku, Raihan, Muhammad, Imam serta keluargaku berserta keturunan kami dari godaan syaitan yang terkutuk.”



Sepenggal cerita di dapur Nenek
*12 Februari*
“Nek, sudah berapa lama sih Nenek terus-menerus membaca tafsir Al-Qur’an? Dan anehnya, kenapa kitab yang dibaca juga tidak pernah ganti. Apa Nenek tidak bosan?”
“Kok bosan gimana to nduk?”. Jawab Nenek tanpa memperlihatkan ekspresi wajah kepada ku. Kedua tangan dan mata Nenek masih fokus merubah-rubah bentuk adonan kue. Sedangkan, aku sendiri menyandarkan kepala di bahu Nenek tercinta. Sambil menunggu adonan itu jadi, aku pun banyak bercanda dan sekali-kali berbicara serius dengan Nenek.
“Iya, bosan. Masak tidak bosan sih Nek? Kan sama membaca buku puluhan kali.”
“Coba saja kamu membaca tafsir Al-Qur’an, seperti dengan apa yang Nenek lakukan.” Jawaban yang bukan aku harapkan pun dilontarkan Nenek.
Diam sejenak mencari sesuatu, kemudian aku suarakan apa yang telah aku temukan di benakku. “Apakah karena Nenek sudah tua, sehingga tidak mempunyai keinginan selain membaca Al-Qur’an?”
Menunggu jawaban Nenek, namun ada satu lagi yang aku pikirkan. “Hmm… tapi apakah sama antara membaca Al-Qur’an dan buku-buku biasa?”
“Ya jelas beda tho nduk.” Jawab Nenek singkat.
“Bedanya apa Nek?” Kataku dengan antusias tinggi.
“Al-Qur’an itu berbeda dengan cerita wayang. Isinya tidak berurutan, bahkan terpisah-pisah di berbagai surat. Kalau cerita wayang itu kan alurnya berurutan dari awal sampai akhir. Jadi membutuhkan waktu lebih lama untuk memahami Al-Qur’an. Dan bisa dibantu dengan pengulangan terus menerus nduk, sampai hampir hafal.”
Kataku heran, “tidak berurutan gimana sih, Nek?”
Adonan yang Nenek buat belum juga selesai, sampai aku pun melihatnya bosan. Dan sepertinya tangan Nenek seemakin merasa berat.
“Misalnya, di ayat pertama hingga beberapa ayat dikabarkan tentang ciri-ciri orang kafir, munafik, orang fasiq dan sampai pembalasan Alloh kepada mereka. Nanti tiba-tiba membahas hal lain seperti hukum pernikahan, perceraian atau kewajiban-kewajiban yang harus dipenuhi. Nah, di surat yang lain lagi pembahasan tentang orang kafir akan dilanjutkan.”
“Lalu kenapa Nenek tidak menghafalkan Al-Qur’an?”
“Pengen nduk, tapi kemampuan Nenek sudah terbatas.”
“Bukankah Nenek sendiri yang selalu mengajarkan, bahwa Alloh itu membenci seorang yang berputus asa?”
Sejenak, kutunggu respon dari Nenek.
“Nenek curang. Nenek tetap bertahan untuk tetap berputus asa?”. Kali ini coba ku tengok raut wajahnya. Ternyata beberapa aliran mata telah membuangkam Nenek untuk bersuara.
“Seandainya masih muda, pasti dengan sangat senang hati aku juga akan menghafal Al-Quran nduk”
“Tidak ada tua dan muda, yang penting Nenek semangat dan berkeinginan teguh. Pasti Nenek sudah lebih paham dan sudah lebih banyak menjalani ujian Alloh, jadi tidak perlu aku mengingatkan banyak hal kepada Nenek ”
aku kembali diam, masih saja tidak ada jawaban yang aku tunggu-tunggu, “ayo lah Nek! Bahkan setiap hari aku hanya menghafal dua ayat. Aku kira Nenek bisa lebih banyak dariku, karena Nenek sudah hampir hafal kan?”
Hanya senyum yang nenek haturkan. Dan aku tahu, Nenek hanya ingin meminta waktu untuk merenung dan berpikir. Kedua bola mata itu mengisyaratkan ketenangan di hatiku. Tidak ingin membujuknya lagi, keputusan Nenek jauh lebih baik.
Beruntung sekali, meski aku tidak punya seorang ibu namun Nenek benar-benar lebih dari seorang ibu. Tangan keriputnya lebih halus dari selendang sutra. Pelajaran dan nasihatnya tidak pernah bercampur dengan nada kemarahan, jadi aku bisa menerimanya dengan sangat senang hati. Inilah satu-satunya obat jiwa yang tidak pahit, yaitu nasihat beserta kasih sayang serta kepedulian.  
Beberapa detik telah membuat lamunanku pergi kamana-mana. Dan aku masih membalas senyum Nenek dengan penuh syukur.
“Adonannya sudah jadi, sekarang kita cetak! Ayo nduk bantu Nenek,” lamunanku pun pergi karena suara Nenek.
“Okey Nek!”
“Hayo! Lagi pada ngapain nih?” Kak Shufyan datang, masih dengan seragam putih abu-abunya. Bahkan pundaknya masih berat dengan tas ransel hitam.
----
“Sungguh aneh, sebenarnya  sosok yang disebut Sasa sebagai Kak Shufyan itu siapa? Siapa lagi jika bukan Kakak Sasa? Apakah Sasa memang mempunyai dua Kakak?” Pertanyaan tanpa ujung masih saja terus-terusan menghantui pikiran Naziha.
Bahkan pertanyannya semakin menjadi-jadi tanpa kepastian, “Tapi kenapa Sasa tidak pernah bercerita kepada ku? Apakah dia belum sempat, tidak ingin menceritakannya, atau bahkan ini catatan harian yang sudah sangat lama? Tapi.. kakak Sasa itu mati juga karena kecelakaan bersama bapak ibu Sasa. Lalu siapa dia?”
Pertanyannya harus tertunda hingga pertemuannya kepada Nushaiba, dan Naziha memutuskan untuk tetap melanjutkan membaca catatan harian Nushaiba.
---
“Ini, baru buat kue Kak!” Ku sambutnya dengan senyum paling indah.
“Wah! boleh banget, pokoknya Kakak tunggu deh!”
“Iiiih curang! Sini dong ikut bantuin.”
“Iya. Kakak ganti baju dulu.”
Kecurigaan Naziha

Semua santri serempak menutup kitab Fathul Qorib. Disediakan lima belas menit bagi seluruh santri untuk mengendapkan ilmu atau sekedar beristirahat setelah berpikir keras.
“Eh, mbak Sasa. Aku ingin menanyakan sesuatu, tapi jangan tersinggung,” Naziha mendekatkan badannya di tempat Nushaiba duduk.
Sudah wajib! senyumnya selalu muncul, “tanya apa mbak?”
Dengan suara lirih, Naziha mulai menyusun kalimat, “sampean itu punya saudara laki-laki selain yang diceritakan?”
Hanya menggeleng, “memangnya kenapa mbak?”
Di waktu istirahat, semua santri putra keluar kelas dan melakukan apa saja sesuai kehendak mereka masing-masing. Lalu, di dalam ruang kelas hanya tertinggal santri putri. Ada yang tetap memperhatikan catatannya, ada yang lari kesana-kemari, ada yang sibuk bermain, ada yang tertidur, bahkan ada yang ngobrol pokoknya free gitu deh! Dan suasana ini juga yang terjadi di setiap ruang kelas.
Di tengah kegaduhan suasana kelas, maka Nushaiba dan Naziha masih fokus membicarakan tema yang sedikit serius.
“Ceritanya, waktu itu buku catatan harian sampean terbawa. Lalu aku baca.. ”
Saat Naziha belum menyelesaikan kalimatnya, suara Nushaiba cepat menyambar. Dia sudah tahu apa yang membuat Naziha kebingungan, “sebenarnya itu hanya imajinasiku saja mbak. Ketika aku merindukan Kak Syufyan, maka aku akan mengada-ada cerita.
“Atau sebenarnya aku sedang berbicara dengan orang lain, lalu aku menganggapnya sebagai kak Shufyan. Yaitu saudaraku yang telah meninggal.”
“Oh begitu ya. Tapi jangan terlalu sering seperti itu mbak, kadang menerima ujian itu memang berat. Asalkan kita yakin kuat, pasti Alloh akan mengaruniakannya, ” nasihat Naziha. Layaknya sahabat yang selalu membuat tenang dan menjadi lebih baik.
“Iya mbak. Tapi sekarang, aku terlanjur mencintai tiga orang sekedar menggantikan Kak Shufyan. Mereka ada Imam, Raihan dan Muhammad. Kepribadian mereka benar-benar hampir mirip dengan Kak Shufyan. Kedatangan Kak Shufyan seperti terpecah-pecah dalam diri mereka. Mereka membuatku tenang, mereka cukup menginspirasi, mereka membawaku indah dengan mimpi-mimpi. Meski ngobrol dengan mereka pun tak kesampaian,” wajahnya masih terlihat layu, namun terus berusaha untuk semakin tegar.
Naziha masih terdiam, mencari-cari kata yang dibutuhkan kehadirannya di telinga Nushaiba.
Belum lama, suara Nushaiba kembali terdengar, “sebenarnya aku juga tidak setuju dengan perbuatanku ini. Aku yakin, dengan kekuatan Alloh maka aku akan kuat. Dan seharusnya kasih serta sayang dari Alloh saja yang aku harapkan.”
“Tapi ya, apa boleh buat. Cinta yang ada di dalam hatiku ini pun Alloh yang memberikan dan hanya Dia yang mampu untuk mengabadikan atau menghapuskannya. Hmm, entahlah padahal aku pun tidak begitu kenal dengan Muhammad, Raihan dan juga Imam. Namun tiba-tiba aku mencintainya seperti saat aku mencintai saudaraku, Kak Shufyan.”
“Mungkin saja Alloh hendak mengujimu dengan cinta itu mbak. Yang penting, kita harus tetap kuat dan berjalan mengikuti jejak kekasih Tuhan. Nabi Muhammad SAW”
Senyum Nushaiba akhirnya membuat Naziha semakin tenang.
Lalu suara Nushaiba menyusul, “yang penting kita saling mendo’akan ya mbak. Aku pun tidak ingin mengungkapkan cintaku pada Raihan, Muhammad dan Imam dengan cara yang macam-macam. Tapi dengan mendo’akan mereka, maka sudah membuat hatiku puas.
“Apalagi jika do’a ini dikabulkan. Aku sudah merasa menyayangi dan mencintai mereka mbak. Aku harap, cinta yang diberikan Alloh ini hanya akan menjadi kebaikan dan pahala saja, bukan justru menjadi dosa.”
“Benar sekali! Karena cinta itu memang bukan dosa. Tergantung bagaimana selanjutnya cara kita menyikapinya saat menggejolak di hati.”
Suara santri putra sudah terdengar di teras kelas, itu tandanya bel masuk akan segera berbunyi. Dan seorang Ustazd akan kembali bekerja keras untuk para santri.
Bulan purnama yang tadinya bertengger di bagian timur, sekarang sudah mulai naik ke atas. Cahaya anggunnya membuat awan hitam ikut bercahaya, apalagi kawanan bintang yang ikut mengiringi keindahan malam itu. Jendela keca yang tingginya hampir setengah meter, membuat Nushaiba tidak ingin berhenti mencuri pendangan, mencari-cari indah purnama.
Entah, apa yang membuat Nushaiba selalu bergembira saat bertemu dengan bulan purnama. Namun yang pasti, rasa itu seperti saat bercengkerama dengan keluarganya.
“Kakak, Ayah, Ibu. Kalian juga lihat bulan ini kan?”

Pamit di Pintu Makam

“Alhamdulillah”
Tercipta senyum, setelah Nushaiba terbangun dari tidurnya. Sejenak terduduk, dan penglihatan semakin jelas.
Tak ada hujan tak ada petir, eh tiba-tiba Nushaiba terkagetkan oleh sesuatu. Menjeritlah dia, “ Waaa… sudah Qamat?!”.
Berlari, segera mengambil air wuzdu. Dan cepat-cepat kembali ke kamar untuk mencari mukena putih. Semut-semut kecil tidak diperhatikan, tangannya tak ingin menikmati lambaian bunga dan daun di sekitar jalan, bahkan batu-batu kecil di jalanan sama sekali tak dihiraukan. Otot-otot kelopak matanya sedikit tertahan untuk membuka lebih lebar, karena matahari senja menyinari wajahnya dengan terlalu terang. Jantungnya berdetak sangat kencang, dan seketika mulai tenang saat merapat di barisan sholat.
Salam ke kiri menjadi penutup sholatnya. Namun bibirnya masih terus ingin memuji Nya. Sebelum memanjatkan do’a yang terlalu banyak, dia perbanyak pujian, istighfar dan sholawat.
Cahaya jingga yang menerobos masuk ke dalam masjid, ikut terpantul indah oleh butiran air mata. Warnanya menjadi keemasan, dia mengalir dengan kalimat Ilahi serta sholawat untuk Nabi, kekasih Alloh. Bulu-bulu matanya terlihat begitu indah. Semakin lentik karena air mata yang membasahi.   
“Ya Rob, hambu Mu yang dho’if ini memohon. Tancapkanlah Iman dan Islam hingga akhir hayat, begitu juga dengan seluruh umat mislimin.”
Kembali terdiam, seperti menunggu jawaban.
“Jika Engkau hendak mencabut nyawa hamba, cabutlah dengan khusnul khotimah. Jauhkan hamba dari kefasikan, kemunafikan, kekafiran dan juga dari kefasadan, serta golongkanlah hamba dalam umat Nabi Muhammad. Ya Alloh, tambahkanlah ilmu yang bermanfaat, yang dapat mendekatkan hati hamba kepada Engkau.”
Kedua matanya terbuka, lalu mengambil nafas dalam-dalam. Saat menghembuskan nafas, kedua matanya kembali tertutup, “Dan.. jagalah hamba, kerabat hamba, dan keturunan kami semua dari godaan syaitan yang terkutuk. Aamiin..”
Kedua tangan yang sedari tadi menengadah, perlahan mengusap butiran air mata. Tersenyumlah dia, “Alhamdulillah.”
Jalan kakinya bukan menuju ke rumah, namun semakin jauh dari rumah.
 “Ya Alloh, aku tahu bahwa hanya berdo’a saja itu tidaklah cukup.”
Kali ini pandangan matanya mengarah lurus ke depan, hingga terlihat garis perbatasan antara langit dan pepohonan yang berdiri rapi, sedangkan kakinya tetap melangkah. Bibirnya bergerak bersuara, namun tidak sedang berdialog pada seseorang.
“… Dan di antara manusia ada orang yang berdo’a ‘Ya Tuhan berikanlah pada kami kebaikan di dunia’ maka tidak ada baginya bagian di akhirat. Dan di antara mereka ada yang berdo’a ‘Ya Tuhan kami, berikanlah kami kebaikan di dunia dan di akhirat dan periharalah kami dari siksa neraka. Namun mereka itu orang-orang yang mendapat bagian karena apa yang mereka usahakan. Dan Alloh sangat cepat perhitungan-Nya.’”
Tersenyum, Nushaiba ingin menashihati dirinya sendiri, “Nushaiba, kamu akan mendapatkan apa yang kamu inginkan karena usaha yang kau lakukan dan juga kehendak Alloh. Maka hanya berdo’a itu belum cukup, ayo semangaaaat! Sebaik apapun do’a kamu, jika kau hanya bermalas-malasan ya percuma, sama saja bohong. Jangan pernah lagi menafikan kasih sayang Alloh.”
Indah sekali, ada niat baik yang terpancar dari wajahnya. Siapapun yang memandang senyumannya kali ini, maka hatinya ikut tergerak pada kebaikan serta semangatnya tiba-tiba ikut muncul. Belum lagi keanggunan wajahnya, benar-benar damai di hati.
“Nushaiba? Kenapa kamu senyum sendiri?” Imam berdiri di gerbang makam.
“Loh, kenapa sampean ada di sini?”
Tidak ada jawaban. Namun ada hal lain yang ingin Imam sampaikan, “mumpung bisa ketemu, sekalian saya mau pamit. Sore ini nanti aku akan berangkat ke Jogja, aku kuliah di sana.”
“Oh ya?” wajahnya terkaget dengan senyum.
“Iya, aku kuliah di fakultas kedokteran. Semoga kita bisa bertemu lagi.”
“Wah, seru dong. Bagi-bagi ilmu loh.”
“Tentu! Oh iya, ini buat sampean nanti keburu ada orang,” kata Imam sambil mengulurkan sebuah surat.
“Apa ini?”
“Di baca nanti saja. Oh iya, ini sudah keburu-buru. Aku langsung pamit ya,”
“Iya, makasih banget. Tetap semangat, jaga diri, dan tetap zdikir!” Pesan terakhir yang Ingin Nushaiba sampaikan.
“Terimakasih”. Imam seprti ingin memandang Nushaiba lebih lama.
 Tidak terduga, Imam terhenti dan kedua matanya mengajak mata Nushaiba untuk berbicara. Dan hatinya menyembunyikan kalimat dari Nushaiba. Tentu saja aku akan kembali untukmu, Nushaiba. Bukan sekedar teman, sahabat atau bahkan saudara. Namun aku akan kembali untuk menjaga dan mendampingi hidupmu. Aku akan wujudkan cita-citamu Nushaiba.

Ide baruu…

“Hari ini kita main air sampai sore kan?” celetuk Rina dengan wajah mungil.
Raihan tak merespon, masih sibuk membersihkan pacul, arit dan beberapa perlengkapan lainnya.
“Iya kan Kak?” Ivan dengan kulit paling hitam, mencari perhatian Raihan.
“Tanya Kak Nushaiba tuh!” Jawabnya singkat.
“Jadi kan Kak Nushaiba?”, Ivan menghampiri Nushaiba yang berdiri menunggu Raihan, sedangkan di sampingnya ada Fira dan Ata yang manja.
“Kalau teman-teman yang lain bagaimana?” Nushaiba bersuara keras agar sampai ke semua telinga.
“Maen aiiiirrr!” Seerempak semua menjawab, kecuali Reza dan Ibnu yang masih asyik lari-larian.
“Woy Reza! Ibnu!” Ata berteriak jengkel. Seketika mereka menghentikan gerakan kaki yang tengah berlari.
“Apa?” Reza dan Ibnu menjawab.
“Mau nggak kalau hari ini main air sampai sore?” Ata masih dengan nada jengkelnya.
“Eh, berarti kita sholat di sawah loh. Udah bawa mukena dan baju panjang belum?” Nushaiba menyela.
“Siaaap! Sudah semuaaa….,” semua menjawab dengan semangat.
“Okey deh! Sekarang kita langsung menuju ke sungai, kita main bersamaaa!” Nada Nushaiba mengajak semangat, kedua tangannya menarik Ata juga Fira yang selalu ingin dimanja, berbeda dengan Rina.
Jalan setapak berliku-liku, kaki-kaki tanpa alas menginjaknya tanpa ragu. Matahari berada di jarak  terdekat, memaksa warna kulit mereka untuk berubah menjadi lebih hitam. Sembilan orang berjalan dengan hati bergembira.
Langit biru dibentangkan tanpa awan yang berarak. Samping, depan dan belakang penuh dengan warna hijau tetumbuhan. Burung-burung kecil terlihat berulang kali mencuri biji-biji padi. Beberapa pasang sapi dipaksa untuk membajak sawah. Dan siang seperti ini tidak ada sura kodok, namun beberapa suara burung menjadi paduan yang indah.
Memang hanya burung yang sering terlihat, namun sebenarnya ada sangaaat banyak spesies hewan yang hidup damai di persawahan. Termasuk tikus, ular, semut, jangkrik, belalang dan sangat banyak lagi.
Tidak ada asap rokok penyebab kanker, tidak ada asap motor yang mengacaukan keteraturan tubuh, namun yang ada hanyalah hati damai, kesejukan, dan suasana yang ramah.
“Sekarang, semuanya membersihkan diri dan wudhu. Kita sholat berjama’ah di gubuk sana yaa..,” ajak Nushaiba. 
Mata air bening mulai membahasi kulit-kulit yang kotor. Sedangkan niat yang mereka lantunkan dalam hati, ikut menghilangkan hadast kecil. Meski begitu, dunia bocah tetap saja tidak lengkap tanpa kejailan. Tak lepas dari permainan, kemanjaan dan juga tawa. Tawa yang jujur, yang bukan seperti dalam film, drama maupun teater.
Raihan menjadi imam sholat di gubuk itu, sedangkan Ivan, Danang, Reza dan Ibnu berbaris persis di belakang Raihan. Lalu, di barisan paling belakang ada Fira, Rina, Ata dan Nushaiba dengan mukena-mukena putih.
Sesekali segelintir angin pun menari lembut, membelai mereka yang sedang menghadapkan hati serta pikiran untuk-Nya.
          Tak ada hal lain, hanya bayangan bermain-main yang ada di kepala bocah-bocah ini. Mereka segera berlari, meninggalkan Raihan dan Nushaiba.
Ivan mengalihkan perhatian teman-temannya yang asyik berenang, “siapa yang berani memenuhi tantanganku? Kita lomba cari ikaaaannn!!!”
“Ikannya masih kecil-kecil Van!” Ibnu tidak setuju.
“Emangnya, kalau sudah dapet ikan mau kita apain?” Rina ikut bersuara.
“Kita pelihara di rumah Kak Nushaiba dong!” Jawab Ivan.
“Setujuuu!”. Serempak suara itu membuat Ivan bangga diri. Lalu, kepala-kepala mereka mulai tenggelam hingga menyentuh dasaran sungai. Air di sungai mencapai dada para bocah itu. Tubuh mereka bergeliat mengejar ikan dan sesekali harus muncul di daratan untuk menghirup udara.
Sedangkan, Raihan serta Nushaiba mulai mengakhiri do’anya. Meski kakinya kembali lagi melangkah, namun hatinya tetap untuk-Nya. Sehingga di manapun kaki mereka melangkah, maka selalu untuk-Nya.
“Sebentar lagi, kebun luas itu akan menjadi sebuah perumahan,” Tunjuk Nushaiba pada tanah yang rindu akan cahaya matahari. Karena selalu tertutupi oleh pepohonan rimbun di setiap waktu.
“Kenapa bisa?” Kedua mata Raihan mencoba mengamati. 
“proyek.”
“Seharusnya tidak boleh, atau minimal jangan sampai seluas itu. Karena bagaimana pun juga, beratus-ratus pohon itu sangat kita butuhkan.”
Bibir Nushaiba melengkuh ke atas. Seketika, tubuhnya terlihat begitu letih. Meski angin segera berlomba-lomba mengibarkan jilbab biru tuanya.
“kebutuhan ekonomi.” Jawab Nushaiba singkat.
“Aku tahu, hasil pertanian pasti tidak cukup lagi untuk memenuhi kebutuhan sekolah.”
Nushaiba menyambung kalimat Raihan. “lagi-lagi sekolah. Seharusnya pendidikan itu mengentaskan manusia dari penindasan, kemiskinan serta kebodohan! Tapi kelihatan kan, sekolah-sekolah itu yang justru menindas kita!”
“Sekarang, sekolah menjadi tempat bisnis. Jangan kaget,” Raihan menambahi.
Nushaiba hanya terdiam, semilir angin sedikit meredamkan gejolak api dalam hatinya. Menunggu maksud Raihan lebih lanjut.
“Ya, menjadi tempat bisnis. Sekarang ini tidak ada lagi sekolah murah Sa. Korupsi dan segala macamnya telah mendarah daging di berbagai penjuru. Sekolah untuk jualan buku dan sekolah menjadi pencetak robot pabrik.”
“Aku mengerti. Yang aku herankan, kenapa mereka masih ngebet sekolah? Tanah di desa ini begitu subur untuk bercocok tanam bukan? Namun, sekarang tidak ada satu pun anak muda yang dapat mengolah tanah di sawah..”
Sebelum Nushaiba menyempurnakan kalimatnya, Raihan segera menambahi, “karena mereka belajar tidak sesuai dengan kebutuhan Sa. Mungkin para guru itu merasa tau kebutuhan semua orang, dan itu artinya mereka lupa bahwa kebutuhan setiap orang itu berbeda. Disebabkan realitas dan lingkungan yang dihadapi memang berbeda-beda.”
“Entah lah, jangan bahas hal ini lagi. Aku tidak ingin marah berlebihan. Yang pasti, sekarang ini aku punya ide. Bahwa kita harus menjaga keseimbangan alam dan kembali menyadari, kalau kita mempunyai banyak tugas untuk menggali sumber daya alam, dan kita ini diberi karunia tanah surga.”
“Bayangkan, seandainya sekolah tau apa yang kita butuhkan! Mana mungkin masalah-masalah kecil di desa akan menjamur bertahun-tahun? Mana mungkin sumber daya alam kita tercuri, mana mungkin ada bunuh diri karena ujian, mana mungkin kehidupan menjadi momok, dan mana mungkin pemimpin kita stres berat dengan kerjaannya yang seabrek.”
Lanjut Raihan, “masalah mahalnya pupuk, menebalnya polusi, rusaknya lingkungan, mengentaskan kemiskinan. Hal ini selamanya tidak menjadi tugas ppemimpin kita semata. Kita juga harus bergerak dong!”
“Yuk! Lanjutkan kerja kerasmu Han. Kita buat sekolah baru! Kita buktikan dengan hasil, bukan omong doang,” Nushaiba ingin membagikan semangat yang menjalar dalam dirinya.
Tak lama, kepala serta badan yang basah kuyup ikut berkumpul di depan gubuk. Tubuh mereka mulai menggigil, tak sanggup jika langsung bersinggungan dengan suhu udara yang panas. Dan langkah-langkah kembali ke rumah Nushaiba mulai ditempuh. Harus melewati tanah licin di antara kebun-kebun teduh, banyak pula bebatuan yang menghadang.
Di sela waktu perjalanan, nafsu untuk bermain tidak pernah luput juga dari bocah-bocah ini. Sedangkan Raihan dan Nushaiba juga tak sanggup, jika membiarkan waktu lewat tanpa diskusi.
“Tadi kamu belum menyelesaikan kalimat. Ide baru apa yang kamu miliki?”. Raihan mengawali pembahasan, di tengah tawa dan candaan di belakang.
          “Jauh hari yang lalu, selepas aku belajar dengan anak-anak jalanan, aku sempat bertemu dengan Imam. Dan kami membicrakan banyak hal tentang alam. Berawal keluhanku tentang manusia yang semakin rakus, yang akhirnya dapat mencelakakan dirinya sendiri. Dan kami sempat membahas tantang kata ‘khalifah’ yang ada dalam Al-Qur’an, meski sebenarnya kami belum menemukan jawaban yang tepat.”
“Terus?” Raihan tak sabar.
“Akhirnya aku coba mencari ide, agar aku dan seluruh penduduk desa dapat bersahabat dengan alam. Aku ingin membawa pembahasan ini dalam kumpul rutinan remaja.”
“Dengan kegiatan apa saja?”
Sebelum nushaiba menjawab pertanyaan Raihan, terdengar tawa serempak yang membuat Nushaiba segera menengok ke belakang.
“Aku terperosok Kak”. Ivan memelas di samping padi-padi, dan badannya terperangkap oleh lumpur.
Serentak, Raihan dan Nushaiba pun ikut menyumbang tawa melihat Ivan tak berdaya. Padahal dia adalah bocah yang paling nakal dan aktif, “teman-teman, itu Ivan dibantu naik.”
Sambil menunggu, sembari Nushaiba menjawab pertanyaan Raihan.
“Mungkin isinya juga diskusi, dan kita mencari materi bersama. Namun terlepas dari itu, kita juga harus mempunyai suatu target. Sebagai pengukur, apakah diskusi selama itu berhasil menjawab pertanyaan dan menghasilkan ide besar untuk permasalahan desa kita?”
“Target pertama, aku ingin desa ini dapat memenuhi kebutuhan pangan sendiri. Bukan lagi bertani untuk dijual. Dan seandainya berlebih maka baru bisa dijual. Namun yang paling inti adalah untuk memenuhi kebutuhan sendiri. Agar semakin lama menjadi terampil dan terbiasa. Itu bakal lebih aman dan jauh dari kerugian.”
“Lebih aman dan jauh dari kerugian?” Raihan menginginkan penjelasan yang lebih panjang.
“Pernah dengar berita petani tembakau bunuh diri?”
Lanjut Nushaiba, “satu truk tembakau hasil panenannya tidak lagi dibutuhkan pabrik. Waktu itu baru gencar-gencarnya peng-haram-an rokok. Akhirnya dia sangat rugi besar, dan dia tidak bisa berbuat apa-apa dengan tembakaunya. Berbeda ketika seandainya dia petani sayur dan beras. Nggak mungkin bunuh diri, toh itu bahan-bahan yang dia butuhkan untuk makan sehari-hari. Lebih aman bukan? Serugi apapun, kita bakalan tetap bisa makan.”
Raihan tersenyum sambil mengangguk,  “boleh, boleh.”
Ternyata belum putus juga rangkain kalimat dari kepala Nushaiba, “selain alam, kita juga tetap berdiskusi seputar masalah-masalah apapun yang ada di desa ini. Dan terlepas dari itu lagi, ada pula cita-cita yang harus digapai setiap anak desa dan juga harus dikembangkan setiap ide yang muncul.”
Raihan menambahi, “Aku  setuju. Dengan sistem berdiskusi maka tidak terlalu membutuhkan guru, jadi selalu mencari bersama sampai dapat.”
Perjalanan yang indah, sehingga tak ada satu pun yang mengeluh. Cahaya jingga menghujan dari sebelah barat. Kebetulan, senja datang di hari ini. Daun-daun hijau pun terlihat keemasan olehnya.
“Sore begini baru pulang? Nushaiba tidak ngaji kitab hari ini?” Nenek menyambut kedatangan nushaiba dan kawan-kwannya.
“Maaf, aku kelupaan Nek.”
“Kamu ini!” Wajah keriput Nenek tersirat kecewa.
Nushaiba hanya sekedar tersenyum malu-malu.
“Ini tadi ada surat dari anak pondok”. Tangan kanan Nenek mengulurkan amplop putih.
---Kamu terlalu cepat mengambil kesimpulan tentang mereka. Untuk tahu sebearnya apa yang ada dalam otak mereka, dibutuhkan proses yang lama. Jangan serta merta kita memberikan label buruk pada mereka.
Kepercayaan, menjadi hal yang sangat penting dan kamu terlalu banyak menuduh tidak baik tentang, mereka yaitu anak-anak sekolah. Sedikitpun kamu tidak memberikan kepercaayaan pada mereka. Kita ini harus bisa berpikir dan memandang lebih luas. Kita tidak boleh terlalu egois dan merasa paling benar---
          “Tanggapannnya cumen gini doang?!”
          Nushaiba cepat-cepat menutup surat balasan dari Muhammad. Cemberut. Mungking bukan jawaban hebat yang dia harapkan.


Lagi, lagi.. kau ikut pamit

Bangku taman. Di tempat itu lah Nushaiba dan kakaknya sering berantem dan membagi kasih. Namun kali ini, hanya ada Nushaiba dan kupu-kupu bisu yang terbang di antara banyak bunga.
“Aku tahu, setiap manusia memiliki batas kemampuan. Lalu, apakah aku sedang menginjak batas itu? Surat dari Muhammad terlalu cepat menggores hatiku. Terlalu cepat mengalirkan air mata kebimbangan. Apakah aku benar-benar sedang menginjak batas? Apakah aku terlihat gadis jahat yang selalu merasa benar? Lalu apa yang bisa kuperbaiki lagi?”
Kedua bibirnya merapat, menahan suara yang ingin lepas. Hidungnya mulai memerah dan dadanya pun tak teratur menghisap angin. Air mata terjatuh, terlanjur meresap di celah-celah bangku yang kering.
“Tuhan, aku yakin bahwa aku bukan pemilik semangat yang gampang putus. Aku yakin, bahwa orang yang baik itu bukan berarti dia yang tidak pernah salah. Namun, dia yang selalu memperbaiki kesalahan,” kali ini, air matanya mengalirkan semangat di setiap pori-pori yang kering.
“Kutegaskan pada diriku! Seandainya aku sampai malas berpikir, maka tidak boleh berkata, menulis dan melakukan apapun! So, untuk apa aku terus-terusan menghirup oksigen demi bertahan hidup? Maka itu artinya, aku harus selalu berpikir di setiap waktu dengan lebih luas dan jeli,” katanya dengan tergesa, mengadakan perdebatan dalam diri.”
“Aku yakin bahwa setiap orang memilki perbedaan. Yaitu memilki karunia dari Alloh yang berbeda-beda, kekurangan yang berbeda-beda hingga akhirnya timbul kebutuhan yang berbeda-beda. Tidak perlu menilai orang lain jika tidak dibutuhkan, jika toh kalau pun butuh tidak boleh terlalu instan. Begitu kan Nushaiba?” Seolah-olah di bola matanya terpantul wajahnya sendiri.
Senyumnya begitu merekah, melupakan air mata yang belum selesai mengalir dari lekukan pipi, “Alloh baik banget! Aku lalai, kemudian ditegur dan diberikan ide. Sangat indah kasih sayang dari Alloh. Lebih indah dari cahaya jingga yang melukiskan ketenangan alam.”
“Jika dirasa-rasa, ternyata aku ini memang terlalu cepat mengambil keputusan. Aku terlihat menjadi orang yang plin-plan, karena terlalu sering merubah kesimpulan. Lebih tepatnya, aku belum pernah bisa berpikir sekali saja, harus terputus oleh hal lain kemudian baru berpikir kembali. Lalu ketegasan apalagi ya, yang harus aku patuhi? ” Kedua matanya melirik ke kiri agak ke atas, mencari solusi untuk mengimbangi kekurangannya.
Tak sampai satu menit waktu berjalan, senyumnya sudah terlihat mengagetkan dan alisnya dengan cepat terangkat ke atas.
“Mungkin aku harus rajin menuliskan segala ide yang tiba-tiba datang, lalu harus rajin berdiskusi, mencari pengetahuan dan bertanya banyak tentang ide yang aku miliki. Demi menghindari kecerobohanku yang terbiasa berpikir pendek. Jadi, boleh-boleh saja cepat menyimpulkan, namun tidak boleh gegabah segera memutuskan tindakan. Harus berpikir lebih keras lagi! Dan itu artinya aku harus lebih semangat dari kemarin dan lebih berani mengutarakan ide pada orang lain.”
“Kenapa kamu senyam-senyum sendiri begitu Sa?” tiba-tiba menghampiri Nushaiba. Badan tipis itu bernama Raihan.
          Hanya senyum yang dilontarkan Nushaiba.
“Eh, aku mau pamit”, kata Raihan terlepas dari senyum Nushaiba.
“Kemana?”
Raihan mencari tempat untuk duduk, “Tadi aku mendapat surat dari Ayah. Aku harus pulang dan aku akan tetap melanjutkan perjalanan menggapai cita-cita. Desa ini sudah memberikan banyak pelajaran untukku, terutama kamu yang selalu memberikan hal baru untukku.”
Nushaiba memalingkan wajahnya dari Raihan, bola matanya hanya ingin memantulkan indah langit.
“Lalu, siapa lagi yang akan membantuku mewujudkan cita-cita di desa ini?”
Menundukkan wajahnya. Hanya itu yang bisa Raihan lakukan. Tidak mungkin tega, dia melilhat kesedihan Nushaiba. sudah terlalu banyak rasa asin, manis bahkan pahit yang ditelan Nushaiba.
“Siapa lagi yang sudi mengingatkanku? siapa lagi yang ingin paham tentang aku? Berulang kali, aku selalu ditinggalkan,” wajahnya masih berpaling dari Raihan.
Raihan belum juga berhasil menyusun kata.
“Silahkan pergi sekarang. Tidak perlu ada lagu perpisahan dan pamit. Pergi sekarang! Aku ikhlas.”
Kali ini dia harus memandang wajah Raihan yang serba salah, “mungkin, besok Muhammad yang akan pergi. Dan entah siapa lagi?”
Kalimat terakhirnya tak begitu jelas terdengar karena isak tangis yang tertahan. Wajahnya memerah namun bukan merona. Kedua mata yang sempat mengiringi senyum, saat ini kembali penuh dengan aliran darah untuk mendorong air mata.

Semangat Dari Kulit Yang Keriput

Nushaiba hendak menyita fokus Nenek yang sedang mennggoreng.
“Nek, kemarin aku menceritakan sebuah ide kepada Raihan. Aku ingin membuat semacam kelompok diskusi rutin tentang lingkungan dan alam, Nek.”
Nenek masih terdiam, merasa belum punya hak untuk berkata. Lalu, Nushaiba pun melanjutkan kalimatnya, “dan kebetulan kemarin aku belajar Al-Qur’an sampai di ayat…,” nadanya ragu, “hmm… yang pasti sekitar akhir surat Ali Imraan, tentang penciptaan dan orang yang mmemiliki akal.”
Nenek pun melafazdkan ayat tersebut dengan bahasa Arab yang fasih, lalu dilanjutkan dengan artinnya.
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi serta pergantian siang dan malam, ada ayat-ayat (bukti-bukti kebenaran) bagi ulil albab (orang-orang yang memiliki akal). Yaitu orang-orang yang selalu mengingat Alloh dalam keadaan berdiri, duduk dan berbaring serta dia yang selalu merenungkan tentang penciptaan langit dan bumi. ‘wahai Tuhan kami tidaklah Engkau mencipatakan semua ini sebagai kebathilan. Maha suci Engkau dan jagalah kami dar siksa neraka.’ {Ali Imraan, 190-191}
“Iya! itu maksudku, Nek. Bagaimana menurut Nenek tentang ideku dan ayat tersebut?” Nushaiba lebih bersemangat.
“Ide mu tentu saja bagus. Karena kita memang diperintahkan Alloh agar memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi ini. Itu artinya pasti Alloh menghendaki banyak hal di dalamnya. Tapi di salah satu tafsir, ada yang lebih menekankan bahwa,” Nenek teringat sesuatu yang hampir terlupakan, “ Eh! itu bawang merah dan putihnya segera dipotong-potong Sa.”
Lalu, kembali melanjutkan penjelasan tentang ayat yang Nushiaba tanyakan, “bahwa, ayat yang akhir itu menjelaskan ayat sebelumnya, lebih khususnya adalah ulil albab atau orang yang memilki akal.”
“Nah di tafsir yang Nenek baca lebih menekankan ulil alabab tadi atau yang disebut manusia yang berakal adalah orang yang selalu memikirkan sesuatu apapun dan sekecil apapun, bukan hanya terbatas pada ilmu penciptaan saja.”
Nushaiba hanya mengangguk, belum ada data yang terlintas di pikirannya dalam tema kali ini.
“Jadi, untuk menjadi orang baik harus mau berpikir!” Nenek menambahi.
“Dan bahkan hal yang sepele sekalipun, sehingga tidak akan pernah ada sesuatu yang tidak bermanfaat untuknya, karena semua akan menjadi pelajaran yang sangat berharga. Sudah paham belum?” Nenek coba perhatikan wajah Nushaiba.
“Siiip Nek,” Nushaiba mengacungkan jempolnnya.
Nenek masih melanjutkan penjelasan, “hingga akhirnya orang-orang yang berakal akan berkata seperti di akhir ayat tadi. Robbanaa maa kholaqta haazdaa baathilan subhaanaka wa qinaa ‘azdaaban naar.”
Benar juga apa kata nenek, tentu saja aku tidak lupa apa kesimpulan Einsten sebelum dia wafat. Dan aku pun tidak lupa, bagaimana wasiat Nabi agar kita memikirkan dan merenungkan semua makhluq Alloh, bukan Zat Nya. Nushaiba menyimpan kalimatnya dalam hati.
“Eh, sebentar! Ada yang aneh..” nadanya mengagetkan, ada sesuatu baru yang terlintas, “Nenek hafal? Atau karena sudah terlalu sering membaca Al-Qur’an serta tafsirnya?”
“Setelah Nenek pikir, tidak ada ruginya menghafal Al-Qur’an. Aku ingat nasihatmu dulu nduk.”
Tersenyum kaget, “Alhamdulillah, sejak kapan Nek?”
“Baru seminggu yang lalu.”
“Sudah sampai juz empat? Yang benar Nek?”
“Sudah sampai juz empat nduk. Kamu kan tahu sendiri, sudah berapa tahun Nenek mulai mempelajari Al-Qur’an dan tafsirnya? Tentu saja banyak kata yang tidak asing lagi, sehingga Nenek menjadi mudah dalam menghafalnya.”
“Keren Nek! Hahaha,” Nushaiba memecah tawa. Dia terlalu dekat dengan Neneknya hingga menganggapnya seperti teman sendiri.“
“Sekali-kali ilmunya ditularkan ke Nushaiba dan teman-teman, Nek. Kan sayang banget, jangan hanya mbak-mbak pondok yang sudah besar. Justru kami ini yang akan membangun desa di zaman selanjutnya. Jadi kami minta bekal dari Nenek,” Nushaiba merayu dengan berbagai alasan.

Kau Gila, Nushaiba!

“Kenapa harus pergi? Aku tidak punya sahabat disini..”, suara Nushaiba memelas memohon keajaiban. Di depannya, Naziha sudah siap dengan tas dan beberapa kardus yang akan dia bawa pulang ke kampung halaman. Terburu-buru, seperti ingin cepat meninggalkan pesantren.
Naziha mencoba menenagkan dirinya, lalu duduk di depan sahabatnya berada. “Seharusnya persahabatan memang tetap ada. Tapi, kau tahu apa yang sedang menimpa tali persahabatan kita?”
Wajahnya menunjukkan kesedihan yang mendalam, air matanya mulai mengalir. Seperti ada rahasia yang tertahan, menyesakkan dada Naziha. Sedangkan Nushaiba bingung bertanya-tenya dalam hati. Dan dia berharap akan mendapatkan jawaban tanpa perlu bertanya.
“Kamu mempunyai ruska dengan Imam bukan?” Tanyanya serius meski simpel.  Kepala Naziha tertunduk sambil menunggu jawaban dari Nushaiba. Meski sebenarnya dia sudah tahu jawaban apa yang akan keluar dari mulut Nushaiba.
Mata Nushaiba berbintang-bintang, bola matanya berputar tanpa arah. Seperti mengingat sesuatu, “bisa dibilang iya, karena sepertiga jiwa Kak Shufyan sudah bersemayam dalam raganya. Sedangkan kau tahu sendiri betapa cintanya aku dengan Kak Shufyan? Kenapa ditanyakan?”
Semakin deras air mata yang terjun dari sudut mata Naziha, dan nafasnya semakin sesak, “sebenarnya, ada tali cinta yang mengikat antara aku dan Imam. Lalu, kedekatan kalian meruntuhkan tali cinta kita. Imam lebih merasa nyaman berada dalam hati mu.”
Naziha mulai mengangkat wajahnya untuk Nushaiba.
Nushaiba sempat kaget dan bahkan ekspresi wajah terakhirnya penuh kebingungan, lalu tersenyum.
“Kau salah paham Naziha. Aku dan Imam memegang tali persaudaraan atau semacam persahabatan. Imam sangat baik, karena dia bersedia menjadi saudaraku dengan tulus tanpa mengharap apapun, termasuk hatiku. Dia menganggapku seperti adhiknya sendiri. Tentu saja dia tidak mengharapkan apapun dariku. Karena hal itu, aku menjadi kagum dengannya.”
Suara Naziha cepat menyusul, “kamu salah! Dia bukan orang tulus yang selama ini kamu ketahui, dia mengharapkan hati dan cintamu, dia memberikan cintanya dengan pamrih. Dia tidak ingin menjadi saudaramu, namun dia ingin menjadi pendamping hidupmu! Kamu tahu bagaimana rasa sakit yang ada di hatiku? Aku tidak ingin menikmati cerita ini lebih panjang, dadaku sudah sesak. Aku putuskan untuk boyong malam ini juga. Jaga diri kamu baik-baik mbak!”
Kalimat Naziha benar-benar menghantam kepala Nushaiba. Dia kehilangan cinta saudara yang tulus, dia bisa merasakan kekecewaan di hati sahabatnya, beberapa detik kemudian pikirannya telah terpenuhi dengan rasa bersalah yang membakar habis-habisan.
Seharusnya malam ini adalah malam kesenangan bagi Nushaiba, Naziha dan seluruh santri putra-putri. Namun ternyata bukan untuk Nushaiba dan bahkan Naziha. Acara akhirus sanah sudah dibuka dengan iringan rebana. Suara itu sangat dikenali oleh Nushaiba. Suara itu menyayat hati Nushaiba, sedangkan pikirannya sedang penuh dengan rasa bersalah. Ya benar sekali, itu adalah suara lelaki yang di dalamnya telah bersemayam sepertiga jiwa Shufyan. Yaitu Muhammad.
Kepala Nushaiba serasa akan pecah seketika itu juga. Kakinya melangkah penjang dan cepat, membawa tubuh mungilnya tersandar di sudut kamar. Suara tu masih melayang bersama angin, memenuhi telinga Nushaiba. Lafazd-lafazd berbau sholawat terbang dengan nada yang lembut, tentu saja itu melukai hati dan pikiran Nushaiba yang sedang rapuh oleh beberapa hantaman.

------

Halusinasi. Ya, terdengar beberapa teriakan dan dialog yang tidak penuh  dari sudut kamar Nushaiba. Di dalam mata Nushaiba yang terpejam, terjadi banyak kejadian.
Suara merdu Muhammad masih berlanjut, mendukung suasana itu.
“Naziha, aku akan selalu merindukan mu. Aku bukan pengkhianat, aku adalah sahabat yang baik,” mata Nushaiba yang berbintang benar-benar meneduhkan jiwa.
“Tidak, hatiku tercabik karena nama mu Sa! Kau bukan sahabat yang baik, bahkan kamu pun tidak pernah mengerti apa saja yang ada di dalam hatiku. Sedangkan, aku selalu berbaik hati pada mu Sa,” wajah merah Naziha menyimpan marah dengan linangan air mata.
“Maafkan aku Naziha, tapi aku tidak pernah berniat buruk kepada mu. Aku orang yang baik.”
“Kamu gadis gila Nushaiba!”
Kaget, Nushaiba menunjukkan kemarahan dengan suara tinggi, “apa maksud kamu Naziha? Kenapa kamu menghina ku?!”
“Karena kamu memang benar-benar gila Nushaiba! Kamu mencoba keluar dari kesadaran mu!”
“Kau yang gila Naziha!” Amarah Nushaiba meletup-letup.
Naziha tersenyum sinis, lalu melanjutkan kalimatnya yang terputus, “kamu mencoba keluar dari kesadaran mu! Kamu sudah tahu, Kakak mu telah meninggal. Kamu sadar, bahwa cintamu kepadanya tidak akan bisa tergantikan. Lalu kenapa kamu memaksakan diri untuk mencintai orang lain agar kamu dapat melupakan Kakak tercinta mu? Dirimu itu sadar, bahwa cinta kepada kakak mu tidak akan pernah tergantikan! Dan kamu tidak akan bisa melupakannya! Lalu kenapa? Kenapa kamu masih memaksa diri untuk mencintai Imam, Muhammad, dan Raihan? dan menganggap mereka sebagai Kakak mu?”
Mata Nushaiba terpejam, memelas pasrah. Seketika kemarahannya pun terusir oleh kalimat Naziha barusan, “setidaknya, aku tetap bisa merasakan kehadiran Kakakku. Agar aku tetap semangat untuk menjalani hidup ini Naziha.”
“Konyooll!”. Senyum Naziha Sinis dengan sedikit suara tertawa yang tertahan.
 “Kamu gadis paling bodoh Sa! Beberapa hari saja kamu merasa bahagia karena kehadiran mereka bertiga, lalu apakah kamu berhasil melupakan kakak kamu? Apakah cinta kepada kakak mu benar-benar telah hilang? Apakah kamu bisa berbahagia? Jawab saja dengan jujur! Yang ada, kamu menjadi semakin sedih bukan? Hidup mu tergantung pada mereka, dan menjadi semakin sering kamu mengingat kakakmu. Kamudian catatan harian mu…”
“Cukup!” Jeritan Nushaiba menahan kalimat Naziha. Kedua tangannya menahan kepala, yang dia rasa akan segera meledak.
Naziha tetap melanjutkan kalimatnya, “kamu mencoba membohongi dirimu dengan catatan harian itu bukan? Kamu memalsukan cerita Sa! Kamu berlari dari kehidupan nyata yang harus kamu hadapi! Kata gila dan bodoh memang benar-benar pantas untuk mu!”
Sesekali Naziha menengok Nushaiba yang berdiri di sampingnya. Nushaiba memegangi kepalanya dengan semakin kuat.
“Dan tambah satu lagi, kamu adalah pembohong besar! Kamu munafik terhadap diri mu sendiri. Sebenarnya apa yang ada dalam hati mu itu Sa, tega sekali kamu membohongi diri mu sendiri?! Kau gila Nushaiba! Habis sudah, sekarang kau sendiri tanpa sahabat. Imam, Muhammad, dan Raihan tidak akan pernah bisa menggantikan Kakak tercintamu! Haha…”, Naziha tertawa dengan bangga. Seperti nenek Sihir tengah menikmati kepuasaannya.
“Dan selamat tinggal Nushaiba! Kamu akan terus dihantui ketakutan, kesedihan dan cita-citamu tidak akan pernah tergapai. Kamu akan benar-benar gila Nushaiba!”
Tak tertahan, tangan kanan Nushaiba menghasilkan suara cukup keras saat bertemu dengan pipi kiri Naziha, “kamu yang gila Naziha!”
Naziha pun mendorong Nushaiba. Tubuh lemas Nushaiba pun tersungkur lemas di atas tanah yang berselimut embun malam, dan mulai tidak sadar lagi.
Sosok laki-laki kemudian datang menghampiri Nushaiba. Wajahnya bercahaya, dia adalah saudara penuh cinta dengan hati yang tulus. Tangan lembutnya membangunkan Nushaiba.
Perlahan, kelopak mata Nushaiba mulai terbuka, “kak Shufyan?”
Seketika, pelukan Nushaiba membayar seluruh kerinduan, “kenapa Kakak baru datang? Sasa takut hidup di sini kak, Sasa sendiri di sini.”
Nushaiba ingin mengadukan banyak hal kepada sosok itu. Tanpa kata-kata, lelaki itu hanya tersenyum dan mengelap air mata di wajah Nushaiba. Tiba-tiba, cahaya yang sangat menyilaukan membuat Nushaiba harus menutupkelopak matanya. Dan lelaki itu menghilang dari hadapannya bersama cahaya.
“Kak Shufyan? Kak Shufyan?” Tangannya meraba-raba angin di depan matanya, “di mana Kak Shufyan?”

-------

“Ataghfirullahal ‘azdiim,” mata Nushaiba mendadak terbuka. Kesadarannya mulai kembali, tidak ada halusinasi lagi yang menganggu dalam pikirannya, “Ya Alloh, barusan apa yang terjadi?”
Terbesit keinginan untuk berdiri dari sudut kamar. Tubuhnya mulai terangkat, dan kemudian berjalan dengan sempoyongan. Dia mendekat pada Nushaiba yang berada dalam kaca.
“Apakah kamu gadis yang gila?” Air matanya kembali mengalir.
Kalimatnya belanjut setelah beberapa saat tertahan, “apakah cita-cita mu akan terbuang jauh Nushaiba?”.
Di amencoba berdialog dengan gadis yang berada dalam kaca, “kenapa hanya diam?”
“Nushaiba itu aku!” Ucapnya dengan yakin.
“Bukankah beberapa waktu yang lalu, aku telah siap untuk menghadapi cobaan yang masih terduga-duga akan terjadi. Dan sekarang telah terjadi.”
Diam, mata Nushaiba masih menatap dirinya yang berada di kaca, “yaitu saat orang-orang yang aku cintai akan meninggalkanku sendiri. Waktu itu, aku kehilangan Ayah, Ibu, Kak Shufyan dan Kakek. Kemudian terdengar kalimat yang melumpuhkanku seketika. Ku katakan pada diriku, persis seperti saat ini. Di depan kaca, di sepenggal sunyi, di sepertiga malam terakhir. Bahwa kehilangan adalah sesuatu yang telah pasti, karena aku tidak memiliki apa-apa. Bahkan diriku ini bukan milikku sendiri.”
Kembali terdiam. Sesekali mendengarkan suara merdu Muhammad, yang masih mengiringi acara Akhirus sanah malam ini.
“Namun ada yang berbeda,” Kedua matanya kembali melirik pada, “kejadian itu sudah terjadi dan akan segera berakhir. Aku akan semakin kuat dan siap menjalani cobaan selanjutnya dengan Asma Alloh.”
Bibirnya tersenyum berselimut semangat, namun masih terlihat janggal senyum itu, “tidak peduli aku sendiri, tidak peduli aku berdiri tanpa kasih sayang seorang pun, tidak peduli orang-orang akan mencemoohku, tidak ada lagi yang namanya menghindar dari kehidupan, dan tidak ada kebohongan pada diri sendiri. Meski seluruh penduduk bumi maupun langit sangat membenciku, namun aku tahu bahwa Alloh akan bersama hamba yang sangat mencintai-Nya. Bersama dengan Alloh, sudah sangat cukup. Lebih dari cukup!”
Ya, senyum yang ini mulai terlihat indah tanpa ada keganjalan sedikit pun. Senyum ini adalah benar-benar senyum semangat milik Nushaiba, gadis pemberani dengan ketegaran, kepandaian, dan kedewasaan yang dia miliki.
“Mungkin ini adalah teguran indah dari-Nya,” wajahhnya berbicara serius dengan Nushaiba yang ada di hadapan.
“Tidak akan lagi, aku mencari cinta untuk menggantikan ruang kosong yang ditinggalkan Kak Shufyan. Dan tidak ada lagi cintaku yang berlebihan pada kak Shufyan. Pasti Alloh akan lebih mencintaiku, ketika seluruh cinta yang ada dalam hatiku akan bermuara kepada-Nya.”
“Cinta pada Alloh? Masih ingat tidak, cara apa yang akan kamu lakukan untuk menungkapkan cinta itu pada-Nya?” Dia mengetes ingatan Nushaiba yang berada dalam cermin, “ya iya dong!” Aura keceriaan penuh candanya terpantul dari cermin.
Kemudian, bola matanya mengarah ke langit-langit. Menandakan bahwa dirinya sedang berpikir dan mengingat sesuatu.
“Dalam kalam-Nya, mengisyaratkan aku untuk mengikuti jejak Nabi Muhammad SAW :
Dengan menyebut Asma Alloh yang Maha Pengasih (lagi) Maha Penyayang
Katakan (Wahai Muhammad!) : jika kalian mencintai Alloh maka ikutilah aku, maka Alloh akan mencintai kalian dan Dia akan menghapuskan bagi kalian dosa-dosa kalian. Dan Alloh Maha Pengasih (lagi) Maha Penyayang.  Katakan (Wahai Muhammad!) ta’atlah kalian kepada Alloh dan Rosul-Nya. Lalu jika kalian berpaling, maka sesungguhnya Alloh tidak mencintai orang-orang yang kafir. {Ali Imraan, 21-22}
Ayat itu benar-benar telah jelas bagiku. Lalu apa yang bisa aku lakukan untuk mengikuti jejak Sang Kekasih Alloh? Tentu saja dengan Al-QUr’an dan Al-Hadist.”
“Dan Subhanalloh, di dalam Al-Qur’an aku mendapatkan banyak sekali pengetahuan yang menakjubkan. Beberapa kalimatnya benar-benar penuh kasih dan lembut. Seperti kapas yang tanggal dari pohonnya lalu menunggangi angin yang berhembus lembut. Namun beberapa kalimatnya benar-benar tegas seperti seorang raja yang paling bijak. Tanpa kompromi dan mampu meruntuhkan ceceran puing dalam hati.”
“Memang tidak mudah untuk memahami isyarat Alloh, namun dengan sabar aku akan terus mengulangnya. Dan tidak ada kata bosan, namun aku adalah manusia yang penuh khilaf. Maka dari itu, kadang kegalauan dan keterbatasan akan menjadi cobaan untuk memahami kitab yang memiliki banyak wajah tersebut. Ada kepuasaan tersendiri ketika memahaminya, bahkan sering membuat terkejut jika ada banyak hal yang tidak pernah terduga setitik pun. Dan akan sangat menantang kita untuk berpikir dengan sangat jeli, cermat dan harus penuh ide.”
“Ya, seru bukan? Aku akan semakin semangat menjalani hidup ini. Memang benar kalam-Nya. Alloh memberikan kesedihan kepada kita agar kita tidak bersedih lagi! Agar semakin yakin dan bersemangat menjalani hidup ini, serta menjalani semua cobaan. Semangat untuk Nushaiba!”
Senyumnya merekah-rekah, seperti bunga berselimut embun pagi. Hidupnya tanpa beban, semerbak baunya mengundang lirikan banyak orang.
Setelah kesedihan dan ketakutan yang sempat membakar hati Nushaibah, kemudian Alloh mengirimkan kenyamanan berupa kantuk. Perasaan itu mendorong Nushaiba untuk merebahkan badannya di atas kasur.
Rasa mengantuk adalah rasa yang Alloh berikan untuk menciptakan rasa tenang. Seperti halnya saat Alloh mengirimkan kantuk bagi orang-orang Muslim, ketika harus kuwalahan membendung kemarahan orang-orang kafir di perang uhud. Saat mereka mulai tegang, khawatir dan sedikit ketakutan, maka Alloh mengirimkan segera perasaan kantuk untuk memberi rasa nyaman. Jadi, mereka mengayunkan pedang sambil mengantuk.
Pikiran Nushaiba mulai berselimut kenyamanan atas kantuk yang Alloh kirimkan. Otot matanya yang sedari tadi bekerja keras untuk mengeluarkan air mata, sekarang pun mulai rileks dalam lelap. Detakan jantung dan irama nafas yang berat dan berantakan, sekarang mulai teratur. Darah dalam tubuhnya pun terus mengalir, mencipta kehangatan. Nikmat istirahat yang Alloh berikan adalah salah satu nikmat diantara banyak nikmat yang Nushaiba sadari maupun tidak.

-wallohu a’lam bisshowab-