Malaikatku
Dalam Tiga Raga
“Theofany Zahra”
kecelakaan
*09 Februari*
“Tolong, tolong!”, ucapku panik setelah
beberapa detik kusadari tubuhku yang tersangkut di antara batang pohon. Posisi
yang sangat menyiksa. Kepala dan leherku menjadi tumpuan badan. Badanku
terhimpit antara tanah yang cukup tinggi dengan batang pohon yang berdiri di
bagian bawah. Tidak banyak yang aku rasakan. Kepanikan membuatku benar-benar
kehilangan rasa.
Aku mencium gerak-gerik beberapa orang
tergesa menghampiriku. Mereka berbondong-bondong melangkah dengan lebar serta
menerjang semak-semak yang ada. Suara itu benar-benar membuatku lega. Kejadian
panjang itu, terasa hanya beberapa detik saja. Mereka pun menolongku.
Aku duduk lemas di pinggiran jalan raya,
tubuhku lunglai, pandanganku kosong, pikiranku terhenti. Seraya gerimis pun
turun, hendak menghilangkan tanah-tanah yang masih menempel di beberapa tubuh
dan lembaran kain yang menutupinya.
Tak lain, darah-darah merah pun ikut luntur
oleh air hujan, mengalir bagaikan sungai, di sepanjang tubuhku yang
berkelok-kelok. Beberapa luka mulai aku rasakan perih. Leher yang terasa aneh
pun mulai aku nikmati.
Tak lama kemudian, kesadaranku sudah kembali
sempurna, “di mana Ayah? Ibu? Dimana kak Shufyan? ”
Kepanikan tiba-tiba menghujaniku. Bagaikan
badai besar merobohkan isi hati. Spontan, aku pun beranjak cepat dari lempengan
aspal yang melekat di tubuh tanah.
Dan, “aaaw!” Ternyata sekujur tubuhku
benar-benar terasa begitu remuk. Banyak bagian yang sangat perih, niatku pun
gagal seketika. kemudian, wajah tak asing itu membuatku sedikit lega. Bagaikan
matahari hangat yang kembali datang, setelah kepekatan malam dan angin beku menusuk
hingga dalam hati. Keningnya berkerut menahan sakit, tubuh kotornya pun
diangkat oleh beberapa orang.
“Alhamdulillah, kak Shufyan selamat”,
syukurku dengan senyum, di bawah awan hitam yang mengirim hujan. Suasana terasa
sangat syahdu, mengharukan serta membahagiakan.
--------
Mataku berbintang-bintang memantulkan cahaya
jingga sewaktu senja mampir tanpa kabar. Sesekali kuberkedip karena bola mata
terasa kering. Mulutku ingin bergerak hemat, menuruti nafsu yang ingin
berbicara.
“Ada yang hilang, dan ada sunyi di ruang
kosong sudut hati.”, lalu kembali terbungkam.
“Senja? Dia biasa datang mengirimkan
kebahagiaan, sekarang dia kembali mampir dengan kesepiaan”, hanya mampu
kusuarakan dalam hati. Kedua mata yang sangat berat akhirnya mampu mengeluarkan
kata-kata itu lewat air mata. Yang hangat membasahi pori-pori wajah. Menarik
otot wajah untuk senyum pun tak mungkin, seperti mengangkat bongkahan beton
yang sangat besar.
Pemakaman Ibu dan Ayah baru saja usai, rumah
ini terasa sangat kosong. Beberapa jam yang lalu seperti terlewat tanpa jejak,
dan waktu itu seperti datang dengan gerakan kilat. Sepi seakan menjadi sebuah
batu raksasa yang menyesakkan jiwa. Seharusnya aku berdo’a dan menguatkan jiwa,
namun aku memilih untuk menikmati kesedihan bersama air mata. Dan juga
sahabatku, yaitu senja yang menghujaniku di beranda.
Tidak ada yang berani menyentuhku, bahkan
menyuarakan isyarat untukku. Mereka takut menggores hatiku yang sudah terbelah
habis-habisan. Ya, sangat perih. Seperti goresan luka yang dilumuri cuka masam.
Dan celakanya, goresan itu tercipta di dalam hati. Yang akan berpengaruh pada
seluruh tubuh termasuk jiwa dan pikiran.
Tak lain saat kejadian itu, aku benar-benar
mengingatnya. Awan mengirimkan butiran air dengan seketika. Banyak orang
memperebutkan ruang jalan, tak lain Ayah pun mengikuti perlombaan ini. Tombol
gas di kaki Ayah begitu terlihat sangat tertekan, sedangkan kami semua ikut
tegang sambil melihat pepohonan yang berjalan begitu cepatnya di luar jendela
mobil. Kami semua tahu, saat Ayah menambah kecepatan agar mulai unggul,
tiba-tiba ada motor di depan kami yang berhenti mendadak.
Aku tahu kepanikan Ayah waktu itu, tidak
mungkin Ayah menginjak tombol rem dengan cepat. Ayah mencoba mengendalikan
setir di tangannya, namun keajaiban sedang tidak berpihak. Kesempatan itu tak
akan cukup mengarahkan mobil kami kepada ruang jalan. Mobil yang kami tumpangi
terjuan bebas keluar jalan.
Posisi duduk Ibu dan Ayah berada di depan.
Aku dan kak Shufyan berada di kursi belakang. Saat mobil mulai keluar dari
ruang jalan, kak Shufyan memintaku untuk membuka pintu mobil, lalu aku meloncat
pertama diimbangi rasa panik, terdesak, bahkan seraya kehilangan kesadaran.
Dugaanku, kak Shufyan pun turut meloncat dari mobil setelah itu.
Bibirku kembali bergetar merasakan kesakitan
ini. Bukan kesakitan karena banyak kulit yang terkelupas, namun segala rasa
yang ada di dalam dada. Lalu, seluruh badanku merasakan getaran bulu-bulu
kecil, karena rasa sakit ini akhirnya menjalar ke seluruh tubuh.
kami adalah keluarga yang sangat kompak,
meski perbedaan selalu mengusik ketenangan kami. Namun, kami pun menikmati
semua dengan rasa syukur yang tinggi atas perbedaan dan segala anugerah yang
tercipta.
Catatan
Harian
Ustazd
paling muda tengah mengakhiri majlis ta’lim di kelas Al-Imrithi dengan lafazd
“Al-Fatihah”, yang mengisyaratkan para santri untuk melisankan isi suratnya.
Lama
kemudian, terlihat wajah Sasa kebingungan, jemarinya menyingkap beberapa buku
dan kitab yang telah tertata rapi di atas tangan kirinya. “di mana buku catatan
harianku?”
“Ada
apa mbak?” suara lelaki dengan dandanan santri pondok, sampai ke telinga Sasa
yang tengah mengekspresikan kebingungan. Gadis itu tertinggal oleh barisan
santri putri lain.
Sasa
mencari sumber suara itu lalu menjawab dengan wajah yang terlihat lipatan kulit
di keningnya, “Hmm, ini”, sempat sedikit terdiam karena belibet. “Apa itu,
hmm.. aku kehilangan catatan harianku! Padahal di kelas sudah kosong” . Hati
Sasa ingin mengadu dan mencari jawaban dari sosok laki-laki tersebut yang
menyandang nama Imam.
Kepala
Imam mengangguk sambil menatap kegelisahan di mata Sasa, “mungkin saja terbawa
mbak Naziha,” kedua matanya mulai mencari-cari dan kembali lagi memastikan ada
suatu perkembangan di mata Sasa.
Kedua
alis Sasa hampir menyatu, kepalanya sedikit bergerak, “Kenapa bisa ada di mbak
Naziha?” Terdiam, menunggu suara yang diduganya akan keluar lagi dari dalam
leher Imam.
“Karena
mbak Naziha duduk di samping sampean (kamu). Mungkin saja ikut terbawa .”
Sasa
mengangguk, “mungkin saja dugaan sampean benar. Tapi, dari mana tahu sampean
tahu kalau mbak Naziha di samping saya? Sampean bukan anak kelas saya kan?”
Imam
tersenyum menyimpan malu, “iya. Untuk menuju kelas, saya harus melewati kelas
sampean ini toh. Tentu saja saya menjadi tahu.”
Sasa
hanya mengangguk, meski di dalam benanknya masih ada hal yang menngganjal. Dia
ingin menanyakan banyak hal untuk menghilangkan keganjalan itu. Namun
rencananya gagal mendadak.
“Yasudah,
sampean cepat pulang saja. Disini sudah sepi, nanti dikiranya ada apa-apa
lagi!” Imam mengalihkan Sasa yang hampir masuk dalam lamunannya, mencari
sesuatu yang mengganjal di benaknya.
“terimakasih,
assalamu’alaikum.”
-------
Tampak
ramai, dalam sebuah bangunan dengan ruang cukup luas, setidaknya dapat
menampung seratus santri putri dengan baik. Santri-santri putri sedang
menikmati waktu luang dengan bahasa tubuh yang lelah. Di beberapa bagian aula ada yang menyandarkan
kepala ngantuknya di atas bantal yang tertumpuk, ada beberapa orang tengah
menyiapkan tempat untuk didirikannya sholat Isya’ berjama’ah, ada yang masih
sibuk di kamarnya, ada yang berbaris rapi di sepanjang jalan menuju kamar
mandi, ada sekumpulan yang asyik bercanda sambil ngemil mie mentah, bahkan ada
pula yang rajin merapikan apa saja yang bisa dirapikan.
Gadis
belasan tahun dengan lingkar perut yang kecil dan dengan badan yang amat tinggi
muncul dari sebuah kamar. Jalannya amat tergesa sambil tangan kanannya membawa
buku cukup tebal. Sampulnya berhiaskan bathik dengan perpaduan warna biru,
putih, serta beberapa bercak hitam.
Buku
itu diangkatnya tinggi-tinggi agar dapat dipandang semua orang dari berbagai
arah. Suaranya keras memecah kegaduhan yang datang dari berbagai sudut, “siapa
yang merasa memiliki buku ini?”
Semua
perhatian tertuju pada buku yang diangkat tinggi oleh gadis yang bernama
Naziha. Diam, tak ada suara yang terdengar.
“Ada
judulnya,” Naziha membuka lembaran-lembaran buku tersebut. Kemudian kembali
mendongakkan wajah, “catatan harian.”
Tidak ada yang maju ke depan,
bahkan berkata sepatah kata pun untuk merespon pengumuman dari Naziha. Semua
saling tatap, mencar-cari siapa di antara teman mereka yang kehilangan buku
tersebut.
Ungkapkan Keberanian
*26 Juni*
Seminggu lebih aku mejalani kesepian bersama
Kakek, Nenek dan kak Shufyan. Aku harus kembali beraktifitas, aku harus siap
menebarkan senyum membawa kedamaian. Hitung-hitung buat shodaqoh tanpa
mengeluarkan uang. Sepertinya ada yang berbeda namun aku sudah tenang
menerimanya, bahkan boleh dikatakan sangat senang hati. Sekarang ini, aku
mendapat predikat yatim-piyatu.
Jika dirasakan, semakin hari aku merasa
semakin tidak nyaman berada di sekolah. Tempat ini memang menyenangkan, namun
aku merasa ada banyak hal yang mengganjal di temapat ini. Ada yang sia-sia jika
aku terlalu lama di tempat ini. Dan ada sesuatu yang hilang jika terus menerus
aku membawa hati ke dalam gedung sekolah ini.
Ya, sia-sia! Berulang kali aku mendapat
sesuatu, berulangkali aku menjalankan test, bertahun-tahun aku belajar untuk
nilai. Lalu? Aduh, kenapa ada yang mengganjal. Setelah aku menjadi seorang
murid yang sempurna , lalu apa yang akan aku lakukan karenanya? Apakah ada yang
salah dengan sekolah?
“Kak Shufyan! Menurutmu apakah ada yang salah
dengan sekolah?” aku menjejeri kak Shufyan yang tengah sibuk memandang langit
di kursi taman, tempat biasa ibu menjemput waktu maghrib.
“Maksudmu?” Wajahnya datar tanpa merasa
kaget, menemuiku yang tiba-tiba datang.
Wajahku gusar, jelas saja aku bingung untuk
menjelaskan. Aku tak pandai berbicara serta merangkai kata dengan baik. “ya,
menurutku ada yang sedikit menggajal. Seakan-akan aku merasa ada banyak hal
yang akan menjadi sia-sia karena harus sekolah. Dan kenyataan akan mendukungku.
Bangsa ini tidak pernah berkembang lebih baik, mungkin saja salah satu
faktornya adalah sekolah yang kurang bermutu ini kak,” kataku hati-hati sambil
menebak-nebak respon apa yang akan terlihat dari wajah kak Shufyan.
Wajah kak Shufyan yang sedikit kaget mengarah
cepat mencari mataku, “hus! Kamu bicara apa?”
“Ini kan menurutku kak. Kalau kakak tidak
setuju dengan pendapatku juga tidak akan masalah,” aku merasakan keteganganku
mulai melelah sambil kutunjukkan tubuhku yang sedikit menggeliat.
Kuperhatikan kak Shufyan yang memalingkan
wajahnya, dia memilih untuk memandangi rerumputan yang tersipu malu
mengantarkan matahari yang tengah berpamitan dan mulai menjauh. Diam, hanya itu
yang aku rasakan. Sepertinya dia tidak begitu tertarik dengan pembahasan yang
aku ajukan, mungkin kak Shufyan menganggap ini sebagai ocehan yang tidak
penting.
Aku ingin mengajukan sesuatu yang mungkin
akan membuat kak Shufyan sangat kaget, bahkan aku sendiri merasa belum begitu
yakin. Sunyi, dan senja yang semakin deras menghujan, memberiku kesempatan
untuk terus berpikir. Sedangkan, kak Shufyan juga masih sibuk memandangi
rerumputan. aku kira, dia pun tak jauh berbeda denganku. Pasti kak Shufyan juga
sedang memikirkan sesuatu, entah apapun itu.
“Ok…,” suara dengan lafazd dan nada yang sama
tiba-tiba muncul dari dua tenggorokan yang berbeda. Sementara terdiam,
menyimpan bingung. “kak Shufyan dulu deh. Mau ngomong apa kak?”
“Hmm.. kamu dulu saja Sa,” kak Shufyan
berkata singkat.
Aku turuti apa kata kak Shufyan, “hmm…,”
tiba-tiba terbesit niat untuk menggagalkan niat aku berbicara. Berani apa tidak
aku mengungkapkan semua ini? Sepertinya hal ini terlalu berlebihan. suara kak
Shufyan segera memecah dengan cepat, “apa Sa?”
Bismillah.
Lalu, ku hela nafas dan aku katakan dengan setenang mungkin , “aku ingin
berhenti sekolah kak!” Kataku terang-terangan. Ku buang mukaku perlahan ke
bawah, aku masih canggung untuk melihat apa yang akan terlukis di wajah kak
Shufyan.
Diam merenggut, masih ku menunduk menunggu
suara yang akan menyambar. Perlahan suara lirih terdengar dengan nada yang
tidak pas, “kenapa Sa?”
“Aku hanya suka dengan beberapa pelajaran
saja di antaranya IPA, sedangkan di sekolah aku harus belajar semuannya. Aku
merasa hal ini tidak baik untuk diriku. Aku tidak ingin terganggu lebih lama
lagi, sekian tahun ini sudah sangat cukup. Aku ingin belajar fokus, Kak.”
“Adakah alasan yang lebih jelas tentang
pilihan mu?”
Ku tarik nafas dan siap untuk menjawab. Namun
suara kak Shufyan segera menyusul cepat. “bukankah kamu membutuhkan semua ilmu.
Untuk hidup, apakah kamu hanya akan belajar Ilmu Alam saja?”
“Aku tidak pernah berkata, bahwa aku tidak
membutuhkan ilmu selain ilmu alam.”
“Tapi kamu berkata bahwa kamu hanya ingin
belajar beberapa pelajaran saja, lantas apa bedanya Sa?”
“Hmm,” sudah aku bilang bahwa aku adalah
orang yang tidak pandai berbicara dan menyampaikan sesuatu dengan baik, lalu
kenapa aku senekat ini?
“aku
ingin tanya, apakah sejauh ini penduduk di bangsa kita lebih berkualitas dari
penduduk bangsa yang lain.” Aku diam menunggu sepatah kata yang akan
tertuah dari kak Shufyan. Namun dia masih diam, membisu. Dan matanya
mengisyratkan diriku untuk melanjutkan kata-kata lebih panjang.
“lalu, apakah itu berarti bahwa pendidikan
bangsa kita sudah berhasil menumbuhkan generasi yang lebih baik? Maka dari itu,
aku tidak ingin mengulangi perjalanan hidup seseorang yang sudah digambarkan
menjadi orang yang tidak beruntung.”
Kak Shufyan masih terdiam. Entah mencerna
kalimat, memkirkan ucapanku, atau entah yang lain lagi. Yang pasti dia
mengerjakan sesuatu dalam diam.
“Aku membenarkan mendapatmu, namun rumus
kehidupan yang paling terkenal adalah relative. Tapi, kamu lumayan juga Sa. Beneran
mau berhenti sekolah?”
“Tentu saja!” Kata ku mantap. “tapi lebih
tepatnya, hanya malas sekolah, boosaaannn!!”. Teriakku di depan wajah kak
Syufyan. Kemudidan kita sama-sama melepas tawa.
“Bagaimana jika kakak juga tidak sekolah
seperti kamu?”
“Lalu, apa yang akan kakak lakukan setelah
kakak tidak sekolah?”
“Belum tahu.”
“Wah payah! Jangan ikut-ikutan ide orang lain,
Kak. Mungkin saja ini juga salah saatu penyebab mengapa tidak banyak penemu
serta orang-orang kreatif yang muncul dari tanah air kita.”
“Kurang ajar kamu Sa!”, hampir saja jemari
kak Shufyan menerkam pipiku.
“Iya apa tidak?” Kataku menggoda sambil
mengajak kembali ke pembahasan.
“Iya, benar kamu. Memang ada banyak orang
yang malas berpikir, sehingga mereka cenderung mengikuti seseorang. Bahkan,
meski dalam keadaan tidak memahami. Coontohnya seperti apa yang kakak lakukan
barusan. Bahkan tadi kakak pun belum
sempat merencanakan sesuatu apapun, bukan?”
“Sepertinya hal itu terjadi besar-besaran di
negeri kita kan kak? Hampir semua sistem yang dipakai adalah jiplakan dari
berbagai negara bukan? Memang tepat jika dikatakan malas berpikir, dan parahnya
orang-orang zaman sekarang memang terlalu disibukkan penuh oleh pelajaran di
sekolah, ketakutan akan guru serta nilai. Kemudian banyak yang harus berpikir
keras untuk mencari uang atau bahkan mencuri, karena tak lain uang-uang mereka
diranggut para pemimpin. Lalu jika sudah sibuk berpikir dengan hal seperti itu,
apakah kita semua ini akan sempat memikirkan sesuatu untuk negara kita atau
niminal desa kita sendiri?”
“Sayang sekali, bangsa kita akan benar-benar
mundur. Dan semoga cepat mundur di titik terakhir, karena satu-satunya jalan
adalah mengulang segalanya.”
“Bukan mengulang kak, karena waktu terus maju
maka kita pun seperti itu. Tetap maju. Hanya saja ada bayang semu seolah
mundur,” aku ingin kalimat yang lebih tepat. Lalu ku susul dengan kalimat baru,
“oiya, berarti kakak setuju kan seandainya aku berhanti sekolah?”
“Hmm…setuju! Aku sudah percaya akan
kecerdasanmu Sa.”
“Dan kakak jangan berhenti sekolah ya, aku
butuh buku-buku pelajran IPA untuk aku pelajari dan aku akan pinjam dari kakak.
Hehehe,” aku menunjukkan kecuranganku, “siapa lagi kalau bukan kakak?”
JJJ
“Sebenarnya
siapa pemilik buku catatan harian ini ya? Cerita hidup yang dia miliki cukup
seru. Hmm… bisa menjadi kesibukan baru untuk membacanya di rumah. Mumpung saat
ini tidak sibuk di pondok,” gumam Naziha. Dia yang sedang menempuh perjalanan
menuju ke kampung halamannya, beserta dampingan kakaknya yang kebetulan menimba
ilmu di pesantren yang sama.
Keningnya
berkerut, bola matanya bergerak tanpa arah yang jelas. Naziha masih melanjutkan
keingintahuannya berkaitan dengan buku catatan, “tapi, sepertinya pemilik buku
ini adalah santri kalong. Mbak Sasa, mbak Safitri, mbak Laili atau kah mbak
Nita?”
Putus
Sekolah
*10 Juli*
Nikmat mana lagi yang akan aku ingkari? Indah
rasanya, mungkin seperti ini yang dirasakan ketika burung-burung berhasil
keluar dari sangkarnya. Terbang dengan leluasa, hidup di alam yang nyata,
cita-cita bukan menjadi beban, dan belajar dengan kehidupan nyata itu banyak
sekali rintangan yang nyata pula. Begitu juga dengan aku yang telah berhasil
keluar dari penjara sekolah.
Sekarang, aku perlu melaporkan kegiatan baru.
Untuk menyambut shubuh, aku coba mengulas banyak pelajaran yang seharian
kemarin aku dapatkan. Kegiatan ini baru saja aku mulai, karena kemarin malam,
Ustazdku memberikan usulan kegiatan ini pada seluruh santri yang berada di
kelas Al-Imrithi.
Akhirnya, aku coba! Benar-benar menyenangkan.
Dari sekian banyaknya hal yang aku pelajari dalam sehari tidak akan terlewatkan
begitu saja dan aku tidak akan mudah melupakan serta dapat menyambungnya lagi
dengan mudah.
Nah, setelah itu aku langsung dirikan sholat
dan bermunajat pada kekasih sejati. Dan karena masih ada banyak waktu, lalu aku
isi dengan membaca ayat-ayat suci Al-Qur’an. Kemarin pula Ustazdku memberi
kabar bahwa ucapan yang paling Alloh sukai adalah bacaan Al-Qur’an dan waktu
yang paling utama untuk membacanya adalah sejak pertengahan malam hingga fajar
menjemput. Waktu ini lebih utama dari waktu seusai shubuh maupun di antara
maghrib dan isya’.
Kemudian ba’da shubuh aku langsung membaca
buku Ilmu Pengetahuan Alam milik Kak Shufyan, sambil sekali-kali dipanggil
Nenek untuk membantu masak ini dan itu. Saat sarapan bersama, aku akan
menanyakan beberapa hal yang belum aku ketahui. Kemudian siang sedikit aku ikut
Kakek bertanam di sawah, aku pun belajar banyak hal. Mulai dari mencangkul,
cara menanam, bagaimana pemberian pupuknya. Dan kebetulan Kakek masih
menggunakan penanaman model lama yaitu tanpa pupuk kimia, hal ini pun membuat
aku menjadi lebih senang.
Setelah berjam-jam di sawah, aku dan Kakek
kemudian pulang sambil membawa rerumputan untuk sapi dan kambing. Ada dua sapi
dan tiga kambing yang telah menunggu, kadang pula tiga kambing itu aku tinggal
di sekitar sawah agar dia mencari makan sendiri.
Ba’da
zduhur pun mulai ada kegiatan baru. Biasanya selesai kitab Alfiyah baru
diperbolehkan mempelajari Al-Qur’an dan menghafalnya jika yang ingin. Tapi aku
yang masih berada di kelas Al-Imrithi sudah diperbolehkan Kakek untuk belajar
Al-Qur’an serta menghafalnya meski dengan jumlah yang sedikit di setiap
harinya. Aku menuruti keinginan Kakek dengan sangat senang hati.
“Hari ini ngaji di mana?” Nenek mencegah
kakiku ketika akan melangkah keluar rumah, sedangkan di tangan kiriku
tergeletak sebuah kitab Arba’in Nawawi dan sebuah lagi kitab Fathul Qorib.
“Di rumah Ustazd Qodir Nek. Memangnya
kenapa?” Jawabku dengan berujung pertanyaan.
“Tadi pagi Nenek coba membuat kue, ini dibawa
saja. Nanti dibagi-bagikan di sana,” kedua tangan nenek mengulurkan anyaman
dari batang bambu yang tipis dan di dalamnya terdapat banyak kue yang berjajar
rapi.
“Okey Nek!” Kataku tanpa canggung sambil
menerima kue tersebut. Kitab yang sedari tadi di tangan kiriku pun aku pindah
di atas kue-kue yang berjajar. Kemudian aku ucapkan kata pamit dan salam yang
biasa dilafazdkan orang-orang Muslim, yaitu salam yang berisi do’a.
Setelah mengaji Al-Qur’an kemudian aku akan
mengaji beberapa kitab di rumah-rumah Ustazd. Dan di sana aku akan bertemu
teman-teman desaku. Biasanya untuk mengaji kitab hanya sampai sore hari. Dan di
sore harinya aku akan melanjutkan kegiatan denganbelajar beladiri, namun sangat
jarang. Dan seperti biasanya, setiap ba’da maghrib. Aku, teman-teman desa dan
santri-santri pondok akan mengaji tafsir Al-Qur’an di serambi masjid. Memaknai
kitab dengan bahasa jawa namun menggunakan huruf hijaiyah, Kyai desa kami yang
memimpin. Lalu ba’a Isya’ dilanjutkan belajar bahasa Arab dengan panduan
kitab-kitab yang selalu dikaji di berbagai pondok
Melelahkan dan menyenangkan bukan? Meskipun
kadang aku sangat bersedih karena kehilangan keluarga, tapi aku juga begitu
senangnya dengan banyak kesempatan belajar seperti ini. Alloh memang
benar-benar Maha Adil bukan? Dan semua orang juga tahu bahwa Alloh Maha
Pengasih lagi Maha Penyayang.
Bukan Speda baru, namun Ketulusan Hati mu…
14 Agustus, tidak banyak orang yang tahu
betapa istimewanya tanggal tersebut bagiku. Hanya Ayah, Ibu dan Kak Shufyan.
Tahun kemarin di tanggal yang persis, ketika aku bangun tidur siang tiba-tiba
seember air dingin mengguyur seluruh badanku. Waktu itu aku marah besar, karena
mood baikku tentu belum kembali saat bangun tidur. Hingga sore hari aku masih
memamerkan wajah cemberut. Berulangkali Kak Shufyan meminta maaf padaku, dan
aku hanya diam.
Kemudian Ibu membawakan kue coklat sebagai
hadiah ulang tahun, dan aku tetap diam hanya menatapnya sebentar lalu
berpaling. Ayah tak mau ketinggalan juga, tiba-tiba menghampiriku di halaman
rumah. Tanpa kusangka, tiba-tiba Ayah berbicara dengan bahasa “ngapak”. Haduh!
Kali ini benar-benar tragis.
Seketika, aku pun tertawa lebar. Sempat aku
tahan, namun bahasa itu benar-benar membuat diriku tidak mampu menahan tawa
sedikit pun. Apalagi kekagokan Ayah semakin membuat lucu logat bahasa tersebut.
Habis sudah, Ayah telah berhasil membuatku tertawa. Dan akhirnya kita makan bersama
untuk merayakan hari ulang tahunku.
Hari ini begitu sepi, mungkin hanya hatiku
yang sepi. Langit biru membisu, di luar ramai oleh banyak orang. Padahal hari
ini adalah hari ulang tahunku. Hari yang palling seru sepanjang hidup. Berat
rasanya untuk tersenyum, apalagi beranjak dari tempat tidur.
Berulang kali Nenek memanggilku, aku pun
hanya diam. Hari ini tidak ada mengaji, membaca buku Kak Shufyan, bahkan ikut
Kakek ke sawah pun tidak. Aku tidak demam, batuk, flu atau sakit yang lain.
Tapi aku merasa ada yang membuatku gundah, sehingga tubuh ini rasanya hanya
ingin di atas kasur. Jika mulai terasa panas, sesekali aku memojok di lantai.
Hingga warna jingga berdesakan masuk dari
celah jendela kamarku. Menengok diriku yang tengah sakit jiwanya.
“Nushaiba adalah shohabiyah Nabi yang
terkenal sangat pemberani. Ingat tidak ketika dulu Ayah bercerita tentang perang
Uhud. Waktu itu siapa yang melindungi Nabi dari kafiriin? Ingat kan? di
antaranya ada Nusahiba. Dia mengangkat pedang dan berdiri di sekeliling Nabi,
dia ayunkan dengan gigih. Dia tak khawatir lagi anak-anaknya atau bahkan
dirinya ikut kehilangan nyawa. Jiwa dan hatinya sangat kuat, tidak gampang
tergores oleh sesuatu apapun. Dan bukankah Nushaibah adalah nama yang kamu
miliki Sa? Adik tercintaku?” Katanya di balik pintu kamar.
Dari awal hingga akhir kalimat, aku simak
kata-kata itu. Aku paham, Kak Shufyan berharap agar aku berpikir berani dan
tegar. Aku tertunduk, isak tangis tak mampu aku sembunyikan.
Pintu kamar aku buka dengan perlahan, dan pelukan
Kak Shufyan menyambutku. Pundak kak Shufyan telah basah oleh air mata. Hatiku
serasa tercabik-cabik, meski aku telah berada dalam dekapan kasih saudaraku.
Tapi, hal ini terasa lebih mengharukan.
Kak Shufyan melepaskan pelukan dan berkata
dengan senyum lebar, “kamu tahu tidak, hadiah besar apa yang Kakak bawakan hari
ini?”
Dengan senyum pula aku menanggapinya,“
memangnya apa Kak?”
Kak Shufyan menarik tanganku dengan cepat dan
membawaku ke halaman rumah. Speda cantik berwarna merah muda berdiri tak bertuan,
dan sepertinya dia menungguku, “itu untukku Kak?”. Kak Shufyan mengangguk
senyum.
Aku lupa sesuatu. Sektika senyumku menghilang
tanpa pamit. Ada pertanyaan yang harus dijawab Kak Shufyan, “dari mana uang
yang Kakak dapat untuk membeli speda itu?”
“Tanpa jajan, dan tanpa angkutan umum ke
sekolah,” jawabnya singkat.
Entah, perasaan apa yang ada di hatiku. Ada
kesedihan, ada kebahagiaan, ada yang datang mengagetkan, ada kekaguman dan
ulang tahun kali ini aku menerima hadiah yang luar biasa. Cinta dari saudaraku
sendiri.
-------
Naziha
terlihat kebingungan membaca buku catatan harian itu, “Nushaiba itu kan nama
Sasa, bukankah Kakaknya ikut kehilangan nyawa saat kecelakaan? Lalu siapa yang
dia ceritakan dalam catatan hariannya ini?”
Sepertiga jiwamu kutemukan
Speda
yang diberikan Imam benar-benar bermanfaat untukku. Hingga akhirnya speda ini mengantarkanku
pada sosok pemiliki sepertiga nyawa Kak Shufyan. Dia penyayang, suka berdiskusi
dan teguh pendirian. Gumam Nushaiba,
sembari kedua kakinya mengayuh speda.
Lima
laki-laki dan empat perempuan tengah berkumpul di sudut lapangan. Orang-orang
sering menyebut mereka anak jalanan. Dandanannya kumuh, tanpa orang tua, dan
mereka makan dengan hasil kerja payah sendiri. Hidup mereka penuh dengan
permainan di pinggir jalan, di bawah bangjo, dan tangan mereka melengkung di
setiap jendela pintu mobil yang terbuka.
“Itu
kak Sasa!” Rina. Salah seorang yang berkumpul di sudut lapangan, tangannya
menunjuk ke arah Nushaiba yang bersemangat mengayuh speda.
Semua
perhatian pun tertuju pada telunjuk Rina yang mengisyaratkan sesuatu. Hingga
akhirnya, objek mata mereka jatuh pada
gadis pengayuh speda. Di akhir batas lurus telunjuk Rina. Ada Raihan, Danang,
Ivan, Reza, Ibnu, Ata, Fira dan Imma.
“Hayo,
kak Raihan jangan lama-lama memandangnya?” Goda Danang.
“Apa
kamu!?”
Semua
tertawa melihat keganjalan ekspresi di wajah Raihan.
“Jangan-jangan
kak Raihan suka kak Sasa ya?” Rina menyelipkan kalimat di tengah tertawaan.
“Hahaha..
benar kamu Rin!” Danang menambahi.
Raihan
adalah putra dari keluarga yang terkenal sangat kaya di kota Salatiga. Seusai
menyelesaikan kegiatan belajarnya di SMA, dia memutuskan untuk berbagi pada anak-anak
yang tidak mampu. Dia yang merasa berilmu, sangat merasa berdosa jika
membiarkan orang-orang di sekelilingnya hidup tidak seindah dirinya. Kasihnya
selalu berwujud kepedulian bagi orang-orang yang lemah. “Katanya, Islam itu kan
Rohmatan lil’alamin”. Hanya itu pedoman Raihan.
Sayangnya,
semua keluarga tidak mendukung idenya sedikit pun. Ayahnya menginginkan Raihan
menerima Beasiswa, untuk melanjutkan belajar di Australia. Tentu saja Raihan
menolak atas keteguhan pendiriannya. Dia akan merasa semakin berdosa jika
menunda niat awalnya yang penuh kepedulian, hanya karena untuk menyimpan
beribu-ribu pengetahuan lagi. Dia merasa bahwa sekarang sudah saatnya untuk
membagikan ilmu yang dipunya. Dan masalah belajar, dia ingin tahu panjang lebar
tentang negerinya dengan nyata.
Tidak
ada pilihan lain, kemudian Raihan langsung saja pergi dari rumah. Dia berjanji
tidak akan pernah ingin kembali sebelum keinginan dan idenya didukung. Dan
Alloh mempertemukan Raihan dengan anak jalanan ini. Tantangnan baru dan
pelajaran baru kemudian menemui Raihan di setiap harinya. Ya, belajar langsung
dengan kehidupan yang nyata.
“Hai,
Assalamu’alaikum! Gimana kabar kalian?” Nushaiba menyapa dan semuanya antusias
untuk menjawab, dan hanya dirinya yang mengenakan jilbab di tempat itu. Butiran
keringat yang mulai menguap masih terlihat jelas di pucuk hidungnya. Tangannya
mengayun-ayun cepat, mengundang angin untuk segera mempercepat proses
penguapan.
Hari
ini kedua kalinya Nushaiba mengunjungi tempat ini. Sehari sebelumnya, dia mulai
kenal dengan Raihan. Saat dia jalan-jalan dengan spedanya, dia iseng bergabung
dengan kelompok kecil ini. Dengan modal penasaran, maka Nushaiba pun mulai
bergabung. Sikap Raihan berbicara, kepedulian Raihan, dan kecerdasan Raihan
yang mulai dia rasakan benar-benar membuatnya begitu tertarik.
Tanpa
keraguan dan pikir panjang, keunikan Raihan dalam berpikir membuatnya harus
langsung bergabung dengan kelompok belajar ini. Dia siap berdiskusi dengan
mereka. Dia siap mendengarkan keunikan yang lain lagi. Dan dia juga telah
merencanakan sesuatu agar ilmu yang dia miliki dapat tersampaikan dengan baik.
Nushaiba
menempatkan diri di sela-sela lingkaran yang memang telah disediakan untuk
dirinya. Lingkaran itu telah tertutup rapat, “kok pada diem, sekarang siapa
pemimpinnya?”
Raihan
tersenyum, “kemarin siapa ya?”
“Aku,”
suara Ata cepat menyambar.
“Berarti
sekarang?”
Rina
membuka buku kumal yang tak beda dengan pakaiannya, “hmm, sekarang Ima.”
Raihan
menerapkan sistem pergantian pemimpin di dalam belajar. Setiap hari pemimpin
diskusi akan selalu bergantian. Bukan hanya memimmpin namun materi pun termasuk
pemimpin yang menyiapkan. Mulai dari canggung kemudian terbiasa. Mereka
anak-anak yang tidak memiliki cita-cita, dan sekarang banyak keinginan telah
membanjiri kepalanya. Mereka mulai bersemangat untuk hidup, dan mereka tahu
dengan apa yang akan mereka perjuangkan dalam mengisi hidup.
-----
Wajah-wajah
itu terlihat bersemangat, namun telah layu oleh kepenatan. “Kak, kita istirahat
dulu ya?” Pinta Ima pada Raihan.
“Nggak
masalah, gimana teman-teman yang lain. Setuju tidak?”
Tentu
saja semuanya bersetuju, keputusan pun dipastikan tanpa perdebatan. Mereka pun
beranjak bermain, layaknya anak-anak normal yang belum menginjak umur belasan
tahun. Cita-cita tak pernah menjadi beban, hidup susah masih indah dengan bermain,
hati mereka masih dijaga Alloh dari kesedihan dan kebingungan.
“Bolehkah
aku mengusulkan sesuatu kepada mu Raihan?” Nushaiba mengawali pembicaraan,
tinggal mereka berdua yang masih bertahan di tempat diskusi. Mereka saling
berhadapan dengan jarak yang lumayan jauh. Angin semilir pun ikut mengiriimkan
kesejukan. Pohon rimbun rela menahan panas demi kesejukan untuk Raihan dan
Nushaiba.
“Untuk?”
“Hmm…
teman-teman jalanan. Tapi sebelumnya aku ingin bertanya dulu.”
Mulut
Raihan masih membungkam, namun matanya mengisyaratkan Nushaiba untuk
melanjutkan pertanyaan yang dia kehendaki.
“Sebenarnya,
teman-teman jalanan ini akan kita ajak belajar ke arah mana?”
Raihan
sedikit merubah posisi duduknya, mencari posisi yang lebih pas. Sambil bola
matanya bergerak memikirkan sesuatu, seakan telah siap menjelaskan banyak hal,
“Sebenarnya ini hanya kebetulan, tentu saja aku belum menyiapan banyak hal
untuk mereka”
Sebelum
Raihan melanjutkan, suara Nushaiba pun cepat menyela, “Tapi, bukankah
sebelumnya kamu ingin mendirikan sekolah untuk orang-orang yang tidak mampu?
Termasuk anak-anak jalanan bukan?”
“Ya,
aku menjadi merasa bersyukur karena harus ada kontras dalam keluarga lalu aku
pergi dan bertemu dengan anak-anak jalan itu. Aku baru sadar, ternyata
keinginan yang aku punya masih sangat mentah. Bahkan aku belum sempat bertanya
pada diriku dengan pertanyaan yang kau tanyakan barusan. Selama ini yang aku
ketahui hanyalah orang-orang lemah harus bisa tetap belajar, karena mereka termasuk
bibit bangsa.”
“Okey!
Berarti itu masih menjadi PR besar untukmu Raihan, karena hal itu menjadi dasar
yang paling penting. Aku hanya ingin mengingatkan, jangan buat mereka bosan
belajar. Sekolah membuatku kita jenuh bukan?”
Tambah
Nushaiba selanjuntnya, “sampaikan dengan semampumu, bahwa belajar itu kita
butuhkan untuk hidup. Mereka butuh kreatifitas untuk mengamen, ya itu yang
harus dipelajari. Mereka hidup di tengah-tengah sampah, apa yang harus
diperbuat? Mereka sebagai generasi bangsa, apa yang harus diusahakan? Bukan
melulu harus menghafal sejarah apalagi menghafal sesuatu-sesuatu yang tidak
nyembung dengan kehidupan kita sehari-hari.”
Raihan
mengungkapkan kata setuju lewat otot-otot wajahnya, “ya, kita tunggu beberapa
waktu kedepan. Terimakasih Sa, kamu seperti malaikat yang datang tiba-tiba.
Membawa semangat dan hal baru untukku. Pelajaran menakjubkan, seumur hidup baru
aku rasakan sekarang.”
Ustazd, berdosa kah aku
karena bodoh?
“Semua!!
yang nilai ulangannya masih di bawah enam harus berdiri di depan. Sampai waktu
istirahat!” Kalimat itu terkandung dalam suara yang sangat keras berbau
kemarahan. Seorang Ustazd dengan badan cukup gagah, raut wajahnya memerah
menyimpan amarah. Sedangkan semua santri putra dan putri tertunduk, tangannya
bergetar, hatinya diliputi rasa cemas.
“Apa
masih kurang jelas cara mengajarnya!? Para santri sekarang ini pada pemalas!
Coba perhatikan di kelas sebelah. Mereka itu cerdas-cerdas, tekun, dan tidak
pemalas. Sudah belajar setengah tahun, bab marfu’atil Asma’ saja masih belum
paham! Maunya itu gimana toh Le. Santri-santri putri semuanya mendapat nilai
shokheh, lha sampean-sampean ini gimana?! Sudahlah, malam ini tidak ada
pelajaran tapi tetap harus berdiri sampai bel istirahat berbunyi.” Jalannya
cepat, mungkin masih menyimpan kemarahan.
Bahkan
hawa yang menakutkan masih tertinggal di ruang kelas. Suara-suara itu masih
terasa menggaung di dinding-dinding kelas. Semua santri masih merasa gugup.
Hanya diam yang kemudian mendatangkan suasana perlahan nyaman.
Tujuh
orang santri putra mulai berdiri di depan kelas membawa wajah tegang, yang lain
tetap mempertahankan posisi duduk sambil mencermati catatan masing-masing.
Malam itu benar-benar menegangkan, dan sunyi ikut mendukung suasana.
Beberapa
menit pun telah berlalu, terlihat Nushaiba berulang kali mengangkat wajahnya
seperti ingin menyampaikan sesuatu. Dengan modal ‘nekat’, Nushaiba pun mencari
perhatian, “mbak dan kang pondok!”. Beberapa orang mulai berpaling dari buku
dan memberikan perhatian pada Nushaiba. ”bagaimana jika setelah bel ini nanti
kita bicarakan sebentar. Bagaimana agar kelas kita dapat lebih kompak dan dapat
belajar bersama dengan baik. Termasuk agar Ustazd kita tidak sering marah
karena kesalahan kita?”
Hanya
ada mulut-mulut yang terbungkam. Lalu ada seorang di antara mereka yang harus
bediri di depan memecah kesunyian. Dia Husain, “ya, bagus itu mbak.”
Dan
tidak lama kemudian, bel istirahat pun telah terdengar di sudut-sudut ruang
pondok.
“Bagaimana
mbak tentang kelas kita ini?” keluh Husain sambil menuju ke tempat duduk.
“Hmm,
sebenarnya yang membuat sampean-seampean malas itu apa toh kang?”
“Kalau
saya itu ya kadang belajar mbak. Tapi kalau dijelaskan di kelas saya tidak
pernah paham. Kalau teman-teman yang lain mencatat, sedangkan saya sendiri pun
bingung apa yang harus saya catat. Kecuali kalau saya belajar sendiri dan minta
bantuan orang lain gitu baru bisa mbak”. Husain bercerita seadanya. Termasuk
enam orang lainnya pun mengalami masalah serupa dengan kang Husain.
“Jika
semuanya mengalami hal yang sama berarti sampean semua cukup menyediakan waktu
khusus untuk mengulang.”
“Tapi
kalau sendiri itu sama saja mbak. Harus ada yang menjelaskan dengan perlahan
gitu.”
“Kalau
begitu berarti harus dibantu dengan teman yang lain. Di kelas ini kan ada yang
sudah cukup mahir sembilan orang santri putra, itu artinya sudah sangat cukup.
Bisa sendiri-sendiri atau pun berkelompok,” sejenak berhenti, menghela nafas.
Lalu
suara Nushaiba kembali menyusul untuk memastikan, “pertanyaannya teman-teman
yang lain bisa membantu apa tidak?”
Semua
mengangguk, meng-iyakan.
“Okey
deh siiiip! Selesai.”
Semua
santri putra langsung keluar dari kelas, sedangkan santri putri akan keluar di
barisan terakhir. Hal ini sudah menjadi adat bagi seluruh santri pondok.
Dalam
perjalanan singkat, Nushaiba cepat-cepat menanyakan sesuatu pada Rizka, “eh
mbak, dimana mbak Naziha?”
“Baru
pulang, di rumahnya ada acara mbak. Mungkin sampai seminggu tidak kembali ke
pondok.”
“O…
makasih,” kalimat pamit dari Nushaiba.
Langit-langit
berbintang, bulan sabit terlihat anggun di bagian barat. Seakan-akan Nushaiba
merasakan senyum ramah dihaturkan padanya. Jalannya lembut, wajahnya diterpa
angin malam yang dingin namun penuh kasih.
Kenapa
tiba-tiba wajah Raihan terbayang jelas di benakku? Dia mengagumkan, penuh kasih.
Oh iya, kejadian di kelas tadi pasti akan sangat berharga bagi Raihan. Aku akan
menceritakan hal ini kepadanya. Aku akan mengatakan kepadanya bahwa kemarahan
akan sangat menyakiti hati, yang seharusnya tidak terjadi. Meskipun hal yang
disampaikan adalah kebaikan, namun jika terbalut dalam kemarahan pasti akan
tetap menyakiti hati. Itu artinya, ada banyak hal yang harus diperhatikan saat
menasihati orang.
Dan
bahwa seorang guru maupun Ustazd yang mengajarkan sesuatu pada muridnya tidak
boleh semata-mata menyalahkan si murid, harus diadakan diskusi dan instropeksi
bersama. Pasti hal ini lebih indah di hati, kecuali jika dia tidak merasa
menjadi seorang guru ataupun pengajar. Karena bagaimana pun juga kegagalan pun
bagian dari sebuah proses. Berbicara tentang pintar dan bodoh, siapap sih yang
bisa menilainya? Apalagi seorang Ustazd, benar-benar tidak boleh sedikit pun
menyinggung hal tersebut. Gumam
Nushaiba.
“Mbak!”
Suara itu tiba-tiba muncul dari arah belakang. Dengan cepat, Nushaiba menengok
ke arah punggungnya. Terlihat seorang santri putra yang tak asing. Datang
tergesa menghampiri Nushaiba.
“Kang
Husain? ada apa?” Kata Nushaiba menyambut lelaki itu. Katanya dengan nada
canggung.
“Tolong
jawab, bagaimana memperbaiki kesalahan karena bodoh?”
Nushaiba
terdiam sejenak, merangkai kata yang pas. Begitu juga dengan lelaki itu, dia
terdiam dengan nafasnya yang masih tak teratur, menanti suara yang bermakna.
“Kesalahan
apa?”
“Apakah
kurang jelas mbak, kejadian di kelas tadi?”
“Itu
bukan kesalahan sampean, hanya saja Ustazd kita kurang mengerti.”
“Aku
iri dengan sampean mbak, dan teman-teman lain. Karena pintar, mereka dapat
membuat senang hati seorang Ustazd, orang tua dan siapapun yang ada di sekitarnya.
Dan pujian pasti akan selalu mereka dapatkan. Sedangkan saya mbak, selalu
membuat susah dan mengecewakan hati seorang Ustazd, meski benar-benar tidak aku
sengaja. Aku merasakan ketidak adilan mbak, karena Ustazdku membenci murid yang
bodoh dan sangat menyayangi orang-orang yang pintar. Jika aku bisa memilih, aku
juga ingin menjadi orang yang pintar mbak.”
Suara
Nushaiba menyambar cepat ingin segera menyela, “sampean salah! Apakah hanya sebatas pujian yang selama ini sampean
cari di pondok? Berulang kali Alloh telah mengingatkan agar kita bertawakkal,
bersyukur serta ikhlas. Bukankah kita semua belajar di pondok untuk
bersama-sama meraih cinta dan ridlo-Nya? Karunia yang dianugerahkan Alloh untuk
sampean berbeda dengan karunia yang diberikan Alloh padaku. Untuk memberi
manfaat dan berbuat kebaikan itu tidak hanya terpaku pada satu hal.”
“Bahkan
hingga teragisnya, seandainya Alloh hanya memberikan kita hati dan pikiran
saja, dengan dua hal ini kita dapat memberikan banyak kebaikan untuk diri kita
dan orang lain, misal dengan tetap berzdikir, berpikir dan beride. Padahal
masih ada sangaaat banyak karunia yang Alloh berikan pada kita. Bukan mengeluh
dan iri, namun tetap bersyukur dan terus meminta sebagian dari karunia-Nya”,
Nushaiba sejenak menghentikan kata-kata, memberi waktu kepada lelaki itu untuk
berkata-kata. “sampean tahu bagaimana agar kita mendapatkan cinta Alloh?”
Husain
hanya menggeleng, menundukkan kepalanya.
“Dengan
keikhlasan serta memenuhi banyak hal yang diperintahkan Alloh, kita bisa meraih
ridlo dan cinta-Nya.”
Sunyi,
sepertinya tidak ada lagi seesuatu yang ingin Nushaiba sampaikan.
“Lalu
bagaimana aku bisa mensyukuri kelambatan berpikirku ini mbak?”
“Itu
yang lebih susah. Sebenarnya bersyukur itu tidak cukup dengan mengucapkan
tahmid, namun bersyukur itu dengan perbuatan. Kita bertaqwa untuk bersyukur
pada Alloh, kita bertawakal untuk bersyukur, dan kita ikhlas juga untuk
bersyukur pada Alloh. Meskipun kata orang kita ini bodoh maupun pintar, maka
yang harus kita lakukan adalah tetap belajar dengan semaksimal mungkin. Banyak
orang pintar tidak bisa mensyukuri nikmatnya, dia cepat paham lalu dia jadikan
alasan untuk bermalas-malasan. Orang yang merasa bodoh pun kadang terlalu
banyak mengeluh dan cepat putus asa.”
“Terimakasih
mbak! Sekarang aku merasa lebih tenang”, dagunya mulai terangkat, kedua matanya
mengarah pada wajah Nushaiba yang penuh dengan ketenangan serta semangat.
Senyum,
hanya itu yang bisa disampaikan Nushaiba.
Husain
mulai paham dengan gerakan mata Nushaiba. Di tempat sepi dan hanya berdua
adalah hal yang sangat dilarang. Nushaiba pun tidak mampu berkata apapun, namun
Husain tahu apa yang ada di benak Nushaiba lewat isyarat matanya.
“Saya
pamit dulu, sekali lagi terimakasih”. Lelaki itu berlari cepat. Kain sarungnya,
menciptakan bunyi khas yang mengiringi di setiap langkah.
Kalam-Nya
berbicara, bahwa belajar itu menjelajahi dunia..
Lalu, dia kah sepertiga yang lain?
Speda
berwarna merah muda, berjalan dengan ban kempes. Gadis manis dengan pakaian
serba hijau tua degradasi menjadi semakin muda, begitu juga dengan jilbabnya. Mendorong
speda itu dengan kelelahan. Butiran keringat berjejalan keluar dari pori wajah
anggunnya.
Di
kota ini embun selalu aku sapa setiap pagi. Panas matahari tidak terlalu
menyengat, dan kabut-kabut masih sering mewarnai hari. Namun hari ini, lebih
panas dari biasanya. Lebih bising dari
biasanya dan polusi menggantikan kabut.
Banyak
pabrik yang mulai berdiri menakutkan, tidak ada lagi jalanan yang sepi dari
asap kendaraan, entah disaat pagi, siang, sore dan malam. Persawahan mulai
habis oleh bangunan sekolah, perumahan, dan apalah banyak macamnya.
Dan
yang membuat heran, keadilan tidak bisa lagi dipamerkan. Orang-orang kaya yang
kepanasan langsung saja membeli mobil, AC, membuat rumah yang besar, menyimpan
banyak kulkas sedangkan barang-barang yang mereka miliki itulah sumber dari
kemarahan alam. Lalu, orang-orang miskin yang akan semakin menderita karena
alam yang marah. Para petani jarang sekali menggunakan mobil bahkan ke sawah
pun cukup dengan topi, dan kenapa mereka yang selalu menanam? Namun mereka pula
yang semakin kepanasan serta menderita hal lainnya.
“Nushaiba?”
Suara tidak asing terderang begitu jelas dari arah belakang Nushaiba.
Seketika
Nushaiba menghentikan langkahnya, menengok ke belakang. Terlihat sosok yang
tidak asing mengenakan baju putih serta celana abu-abu, “eh, kang Imam. Baru
pulang sekolah ya?”
Senyumnya
yang pertamakali disuguhkan, “iya, Ning Nushaiba.”
Senyum
Nushaiba menyimpan heran, “kok Ning?”
“Boleh
kan manggil Ning? Itu panggilan sayang untuk sampean.”
“Hahaha..
tapi itu biasa untuk memanggil putri Kyai kan? sampean ini aneh-aneh deh,” kata
Nushaiba dengan sesekali tertawa.
“Kalau
sampean dari mana Ning?” kalimatnya tidak nyambung.
“Tadi
aku belajar banyak dengan anak-anak jalanan. Setiap empat hari dalam seminggu
aku belajar dengan mereka. Aku bertemu dengan Raihan, dia cowok cerdas dan pemberani.
Baik pula.”
Hanya
senyum tanpa tanggapan, mata Imam seperti ingin mengenali Nushaiba.
Perhatiannya tidak pernah teralihkan sekali pun dari Nushaiba.
“Loh,
bannya kempes Ning?” Seketika Imam kaget ketika melihat ban belakang Nushaiba
terlihat tanpa angin.
“Iya,
makanya aku jalan.”
“Itu
tuh, ada bengkel. Kita kesana saja,” jari telunjuk Imam menunjuk sebuah bengkel
di kanan jalan. Banyak orang berjejalan di tempat itu.
“Oke
deh! tapi antrinya banyak banget, gimana coba?”
“Dari
pada tidak?”
Senyum
pasrah tersimpul dari wajah yang anggun itu.
Kursi
panjang telah menanti Nushaiba dan Imam, untuk duduk sambil menunggu antrian
panjang serta melepas lelah. Ada sedikit kecanggungan di wajah mereka, namun
akhirnya mereka mulai biasa. Dengan jarak yang cukup panjang, mereka terus
membincangkan sesuatu.
“Kok
pulangnya jalan? Sampean kan bawa motor di pondok toh?”
“Iya
Ning, tapi rasanya prihatin dan sedih juga. Di kota ini semakin terasa panas,
menjadi ikut merasa berdosa jika harus melakukan kesalahan yang sudah kita
ketahui. Mendingan jalan atau naik angkot.”
“Haha,
naik angkot sama saja dong!”
“Beda.
Kalau naik angkot masih mendingan loh. Soalnya, meskipun penumpangnya banyak
ataupun sedikit, angkot tersebut tetep terus berjalan. Mendingan aku tumpangin,
iya toh? Hahaha”
“Oh
iya ya. Atau mendingan speda itu sampean yang bawa, ternyata sampean lebih
membutuhkan daripada aku.” Kata Nushaiba sambil menunjuk speda pemberian Imam, yang
masih menunggu tukang bengkel untuk memperbaikinya, “itu kan speda pemberian
sampean toh.”
“Waaaa!
Masak aku pakai speda warna merah muda gitu? Hahaha.” Imam menolak dengan
canda.
“Hahaha,
nggak masalah toh!”
“Eh
Ning, aku boleh tanya sesuatu?” Kalimatnyaa mengalihkan pembahasan.
“Boleh.
apa?”
“Cita-cita
sampean itu apa sih?”
“Banyak,
tapi cukup satu hal saja. Bermanfaat bagi banyak orang.”
“Bermanfaat?
Bagaimana caranya?”. Imam mencoba menatap mata Nushaiba yang sedari tadi
menghindar. Kali ini wajah Nushaiba tertunduk, menyiapkan penjelasan yang
panjang.
“Aku
mencintai orang-orang di sekitarku. Aku ingin mengungkapkan cintaku pada
mereka. Bahkan Alloh mewajibkan kasih sayang (rahmat) pada Diri-Nya, so kenapa
aku tidak? Tugas ku disini hanya ishlah. Dan aku membuatnya indah dengan
mimpi-mimpi. ”
“Lebih tepatnya, bagaimana akan menugangkapkan
cinta?”
“pengen
tau aja! Hmm, tapi aku sudah menancapkan mimpi-mimipi ke depan. Aku kecewa pada
pemimpin-pemimpin hari ini, pada dokter-dokter hari ini, pada
kebodohan-kebodohan kita hari ini dan sekolah kita hari ini! ” Tiba-tiba amarah
Nushaiba memuncak.
Nushaiba
kembali menghela nafas panjang. “huuuufft, semoga aku diberi kekuatan, ide,
kawan dan waktu. Aku tidak rela Indonesiaku terus-terusan diperas kekayaannya!
Dibikin bobrok dalamnya.”
Imam
menenangkan dengan senyum, dia mulai bisa membaca apa yang terjadi di dalam
hati Nushaiba. “tidak perlu kita membahas mereka. Yang penting kita tidak
ikut-ikut saja lah. Cita-cita sangat mulia Ning!”
“Tapi,
mereka benar-benar keterlaluan!”. Kali ini kemarahannya mulai meluap, perlahan
air matanya mulai mengalir, “Aku paling benci jika harus berbicara tentang
orang kaya dan miskin, benar-benar tidak ada keadilan di sana!”. Nadanya,
perlahan kembali normal. “
“mana
ada orang bodoh dilarang sekolah? Mana ada orang miskin dilarang sakit? Mana
ada kita kehilangan kepercayaan diri? Mana ada kita tidak berdaya dengan apa
yang kita punya? Tidak bisa berbuat untuk sekeliling kita? Ini ada yang tidak
beres,” mata Nushaiba terpejam, dia mulai fokus menata perasaannya yang hampir
terbawa amarah.
Imam
tahu apa yang harus dia lakukan, dia harus mendinginkan hati Nushaiba dengan
kalimat-kalimat yang positive. Serta tetap menjaga kata-kata yang halus, yang
tidak berlawanan dengan apa yang ada dalam benak Nushaiba.
“Memang
benar kamu Ning, itu termasuk salah satu dari kehancuran negara kita. Sekarang
ini orang-orang yang sekolah, harapan mereka hanya sebatas ijazah agar bisa
bekerja. Semua para guru, mereka juga niatnya adalah bekerja. Begitu juga
dengan para dokter bahkan pemimpin-pemimpin kita. Mereka tidak pandai
memisahkan niat Ning.”
Nushaiba
mulai mengangkat dagunya, merasa ada pengetahuan baru yang barusan dia dapat
dari Imam. Namun kali ini dia memamerkan wajah cemberut di hadapan Imam. Tentu
saja hal itu membuat Imam bingung. Dia bertanya-tanya, apa aku salah
berkata-kata ya?
“Padahal
telah dikatakan, bahwa yang dinamakan orang ikhlas itu orang-orang yang dapat
menempatkan niat pada tempat yang sebenarnya.”
“Kemarin,
Ustazd juga sempat berpesan bahwa kita ini harus memilih tiga hal penting untuk
hidup. Dan ketiga hal ini sama sekali tidak boleh dicampur adukkan. Pertama
kita harus terus berjuang untuk mendapatkan cinta Alloh, kemudian kita harus
memiliki keterampilan untuk kebutuhan hidup, dan satu lagi kita harus tahu hal
apa yang bisa kita berikan kepada orang lain seperti cita-cita Ning itulah
contohnya. Nah, itu idealnya seorang yang hidup. Hati, pikiran, jiwa dan
keterampilannya bisa seimbang. Dan pastinya mereka itu akan disebut Ning Nushaiba
sebagai orang yang Ikhlas. Hahaha”
Nushaiba
pun tersenyum malu. Dan Imam telah berhasil membuat Nushaiba menjadi lebih
tenang.
“Mbak,
ini spedanya,” seorang lelaki tua. Pakaiannya sangat kotor, belepotan warna
hitam. Bahkan tangan, wajah dan kakinya pun sangat kotor. Badannya jangkung dan
sepertinya sudah terlalu lama menikmati hidup di dunia.
“Oh
iya makasih pak,” Nushaiba pun cepat-cepat meraih speda merah muda tersebut.
Meski
ban speda Nushaiba tak lagi kempes, dia tetap berjalan dengan kaki dan di
sampingnya Imam mengiringi perjalanan Nushaiba. Namun perjalanan mereka berdua
tetap berjarak dan dipisihkan speda di antara mereka berdua.
“Aku
malu dengan sampean,” Nushaiba mengawali pembicaraan.
“Kenapa?”
kata Imam, sesekali menatap wajah anggun itu.
“Aku
masih sering lupa bersyukur, aku masih gampang putus asa, aku terlalu sering
menilai keburukan orang lain dan aku jarang bisa berpikir lebih panjang. Jadi,
jika aku salah minta diingatkan ya? Siapa lagi yang akan mengingatkan jika
bukan sampean?”
“Bukannya
kebalik, seharusnya aku yang minta Ning Nushaiba untuk mengingatkan aku?”
“Nggak,
sampean itu yang lebih dewasa”
“Wah,
curang!”
“Biarin,
pokoknya aku minta diingatkan terus kalau salah,” kata Nushaiba dengan
cekikikan.
“Yang
paling adil, mendingan kita saling mengingatkan. Oke?”
“Sebenarnya
aku masih tidak terima, tapi yasudahlah.. hahaha”
Obrolan
mereka telah berubah menjadi lebih ceria dan penuh dengan tawa. Namun Nushaiba
kembali mengajak pada pembahasan yang cukup serius, dan membuat hati Imam
bergetar.
“Maaf,
beberapa waktu terakhir. Di dalam hatiku, aku sering menyebut sampean sebagai
saudara ku.hwa saudara ku telah meninggal?”
Hanya
senyum canggung yang bisa Imam sampaikan.
Nushaiba
kembali melanjutkan niatnya, “hehe, mungkin aku terlalu lancang berbicara
seperti ini. Tapi dari pada aku pendam terus nanti malah jadi terlalu
kepikiran, kadang menjadi tidak tenang juga ketika belajar. Nah, karena aku
sudah mulai merasa terganggu makanya aku ingin katakan pada sampean saja.”
“Hmm… sebenarnya bukan hanya
sampean, ada tiga orang yang aku anggap sebagai saudara kandung yang aku cintai
dan harapkan kasihnya. Namanya Raihan, Muhammad dan yang terakhir sampean,” dengan
keberanian penuh, Nushaiba mengungkapkan isi hatinya. Seperti ada sesuatu yang
mendorong Nushaiba untuk membuka isi hati di hadapan Imam. Sosok yang mulai dia
percaya.
“Wah!
Masih ada dua saingan dong. Hahaha,” Imam ingin mencairkan suasana.
“Iiih,
sampean bisa saja! Jadi ingat dengan Kak Shufyan nih. Dia itu orangnya gokil
banget dan suka bercanda.”
Hari
ini benar-benar menjadi hari yang paling indah milik Imam. Berjam-jam dia
bersama dengan pujaan hatinya. Begitu juga dengan Nushaiba, dia merasa
benar-benar bersama dengan saudara kandungnya. Dia merasakan kepedulian dan
kasih sayang yang dia rindukan dari Kakak tercintanya. Rasanya nama ‘Kak
Shufyan’ sedikit demi sedikit mulai tergantikan. Nushaiba cukup berhasil
membohongi dirinya. Tidak ada lagi menangis di setiap hening, karena kakaknya
hadir kembali dengan nama yang lain.
Namun
kedekatan mereka bukan berarti tidak akan berfek buruk. Apalagi mereka adalah
sama-sama santri pondok, meski Nushaiba hanya sebatas santri kalong. Hanya
berdua saja, tentu sangatlah dilarang. Lalu apa yang akan terjadi pada mereka
berdua setelah ini?
Berkenalan dengan sepertiga
jiwa yang lain, pendiam..
“Assalamu’alaikum
wa rohmatullahi wa barokatuh. Sebelum kita mulai musyawarah di sore hari ini,
kita hadiahkan sholawat dan suratul fatihah pada baginda Rosul, keluarga, serta
para sahabat. Agar dalam pertemuan ini kita semua mendapatkan ilmu bermanfaat,
semangat pada kebaikan dan terutama Ridho Alloh. Berdo’a dipersilahkan ”.
Lelaki
ini berkata dengan santai dan suara kecil. Ya, dia adalah Muhammad. Musyawarah
di sore hari memang telah menjadi kewajiban bagi para santri putra-putri,
termasuk pemimpin musyawarah pun wajib bergilir.
Bisikan
bersumber dari tenggorokan Nushaiba, ketika semua santri di kelas tertunduk
berdo’a, “dia yang bernama Muhammad ya mbak?”
Lena
pun menjawab dengan suara kecil. Dia mendekat pada telinga Nushaiba. “iya mbak.
Dia itu orangnya pemalu, makanya jarang menjadi pemimpin musyawarah. Tapi kali
ini, mungkin dia mendapat peringatan tegas dari pengurus.”
“Oh,”
jawab Nushaiba singkat, sambil mengangguk. Nushaiba dan Lena pun segera
menunduk dan berdo’a.
“Selesai,”
Muhammad segera memotong waktu berdo’a.
Wajah
Muhammad kembali menghadap ke bawah, seperti sedikit menyusun kata dan
menngupayakan diri untuk tenang. Semua santri pun terdiam, dan terus
memperhatikan gerak Muhammad, “kita mulai ya!” Wajahnya mulai terangkat,
terlihat putih pucat.
“Pembahasan
kita akan dimulai dengan pertanyaan, atau saya akan sedikit mengulas bab
ististna’ seminggu yang lalu?”
“Seperti
biasa saja, diulas kembali dulu,” jawab Rendi. Seolah-olah suaranya memang
mewakili seeluruh santri di kelas.
Wajah
pucatnya mengangguk, tersenyum manis. Tangan kanannya meraih batang kapur yang
ada di samping dampar (meja panjang, tinggi se-lutut), mulai berdiri dan
badannya menepis papan tulis hitam yang menempel di tembok kelas. Kata istisna’
dia tulis di pojok kanan dengan huruf hija’iyah.
Hampir
mirip dengan tulisan ustazdnya seminggu yang lalu, Muhammad terus menuliskan
apa saja yang dia ingat tentang istisna’. Sesekali, dia pun melisankan apa yang
ada dalam benaknya, “silahkan disimak, jika toh ada yang salah langsung ditegur
saja.”
Tangan
kanan Nushaiba terangkat sedikit tinggi dari kepalanya, mencari perhatian
Muhammad.
“Ada
yang ditanyakan?” Wajahnya melukiskan kegusaran di depan semua santri.
“Seminggu
yang lalu, ketika madrasah malam sepertinya banyak yang tidak datang karena
acara. Padahal waktu itu kita belajar sampai malam banget, karena bab yang satu
ini memang seedikit rumit. Bagaimana jika sampean mengupayakan agar semua
teman-teman kita di kelas bisa paham di sore hari ini?”
Menangangguk
dan terdiam sejenak.
“Yang
sudah merasa paham bisa tunjuk jari?”. Suaranya menjadi satu-satunya yang
didenggar.
Tangan
Rendi, ‘Umar, Adi dan juga Bima mulai terangkat. Begitu juga dengan delapan
santri putri, hanya saja Naziha belum kembali ke pondok.
Melihat
respon itu, Muhammad melanjutkan rencana. “Alhamdulillah santri putri sudah
semua. Tapi santri putra masih ada sepuluh teman yang belum paham. Itu artinya,
kita berlima yang sudah merasa paham langsung memilih dua teman. Kita jelaskan satu-satu.
Nanti di akhir musyawarah, kita coba evaluasi kembali.”
Tanpa
ada kata-kata lain, semua lengsung bertindak.
Sedangkan
santri putri pun nganggur. Ada yang tetap belajar, menulis dan ada juga yang
kasak kusuk dengan suara sangat pelan. Sedangkan santri putra terkesan sangat
ramai.
“Eh
mbak, aku baru kali ini melilhat Muhammad berbicara dengan santri putri,” kata
Lena sambil menyentuh pundak Nusshaiba.
“Beneran
mbak?” Nushaiba memasang wajah kaget, “berarti ketika aku tanya tadi. Itu
pertamakalinya dia berbicara dengan santri putri? Pantesan saja, wajahnya
sarasa malu gitu.”
“Iya
mbak. Dia itu alergi cewek. Dimana saja kalau ketemu cewek itu langsung nunduk
mbak, padahal kalau santri putra yang lain malah menggoda gitu toh,” meski
pembahasan itu semakin menarik, Nushaiba dan Lena tetap menjaga suaranya.
“Jago
banget dia, mana cerdas banget lagi. Dari cara berbicaranya, dia sudah terlihat
pinteeeer banget mbak,” Lena hanya terbengong melihat tanggapan Nushaiba yang
berlebihan. “eh, tapi dia itu sekolah nggak mbak?”
“Wah,
aku nggak tahu persis mbak. Sepertinya sih memang masih sekolah. Dia itu kan
orangnya tertutup banget, seperti menyimpan sesuatu dan pernah mengalami trauma
gitu. Bahkan setiap ditanya, kadang tidak dijawab. Tapi kalau seputar pelajaran
gitu kadang dijawab. Makanya, orang-orang sering mengurungkan niat kalau harus
berkata pada Muhammad mbak. Tapi hari ini tadi, benar-benar ada yang berbeda.
Dan jangan salah mbak, hampir seratus persen santri putri terkagum dengan
ketampanannya,” Lena terus-terusan menjawab dengan asyik.
“Aku
jadi penasaran dengan Muhammad mbak,” Nusahiba berkata dengan suara sangat
lirih.
Kertas
bundar mengenai kepala Nushaiba dengan cepat, seperti ada lemparan yang
disengaja untuk Nushaiba. Kemudian ada suara yang mengikuti, “hey! Musyawarah
malah ngrumpi!”. Semua orang menghentikan aktivitas, sedangkan semua perhatian
tertuju pada sumber suara. Rendi.
“Makasih,
sudah diingatkan,” kepala Nushaiba kembali tertunduk.
Dongeng dan Generasi
*26 Desember*
Aku seperti melihat punggungku. Aku menggambar gadis
berjilbab dari arah belakang. Kepalanya terkesan mendongan ke langit. Meski
hanya coretan yang aku buat-buat, tapi aku sudah merasakannya sebagai sosok
yang penuh harap.
Di atas, aku
menaruh sangat banyak bintang. Di salah satu bintang, aku tuliskan di dalamnya
“petani kreatif”, di bintang sebelahnya “istana sampah”, di bintang pojok
kutuis “dokter dan tanahku”, bintang paling besar ku tulis “Al-Qur’an dan
mimpi” dan di bintang selanjutnya “ideku”, kemudian juga “dongeng unyu”
Jika kesehatan
adalah salah satu dari banyak hak penduduk negeriku, hari ini tiba-tiba aku
melirik “dongeng”. Yup, Negeriku akan terus berusaha dan berupaya agar
penduduknya dapat bertumbuh dan berkembang dengan nyaman. Aku rasa, dongen
dapat membantu.
Melihat anak-anak
kecil bahagia penuh sepanjang waktu, rasanya aku iri. Menangis beberapa menit
saja kemudian lupa. Aku semakin tertarik dengan dunia mereka, duniaku dahulu.
Namun di belahan
lain. Aku tahu, sebagian anak tak memiliki ayah atau pun ibu, atau mereka
terlahir dari ibu yang jahat. Ah, mana ada ibu jahat!!? Ada kok.. ya, aku
menjadi semakin penasaran tentang ini. Apalagi aku sadar, anak-anak ini adalah
aset bangsa. Mereka (anak siapapun) harus mendapat hak untuk berkembang, karena
mereka adalah anak bangsa.
Bagaimana
seandainya aku terlahir dari kupu-kupu malam? Aku tidak akan pernah tahu Ayahku
yang mana. Atau, bagaimana jadinya aku terlahir hasil dari perjodohan yang tak
sehat. Akhirnya, setiap hari ibuku mudah menyakitiku, hanya sedikit akibat
emosinya yang selama itu terpendam.
Bagaimana pula
seandainya aku terlahir di gubuk sampah? Ibu ingin menjualku. Atau, aku
terlahir dari Ibu yang sibuk. Aku dicuekin sepanjang masa. Pada siapa aku
mengadu, meminta nashihat dan mengharap dekapan? Atau aku takut sampai
menggigil saat berjalan mengendap. Keringatku keluar di tengah malam gelap,
berusaha mengambil surat perceraian dan akan membakarnya.
Aku ingin belajar
menulis dongeng. Aku ingin membagi sesuatu lewat cerita yang sederhana. Agar
sejak kecil, mereka telah mulai saling mengerti tentang perbedaan. Meski ada
yang terlahir di kawasan pahit, mereka tetap tegar dan dongeng akan
menggantikan kasih ibunya. Ada pula yang terlahir dengan sangat beruntung, agar
mereka semangat untuk berbagi.
Meski mereka merasa
tak memiliki Ayah, namun dengan dongeng mereka akan tetap menikmati hidup yang
barusan dikenal.
Hobbi ku memang
berimpi, entah akan terwujud atau tidak. Entah akan terwujud secepatnya. Entah
akan terwujud lusa atau sangat lama nanti. Aku merasa tak akan hidup tanpa
mimpi dan imaji.
“Hey Kak, apakah
agama melarangku berangan-angan?” Ku hampiri Kak Sufyan di teras.
Kak Sufyan hanya
mengerutkan dahinya.
“Iya. Katanya,
ciri-ciri orang yang beriman itu tidak banyak angan-angan,” Kataku menambahi.
“Oh.”
“Artinya, kita
tidak boleh bermimpi dan bercita-cita?”
“Dinilai dong, apa
isi angan-angannya?! Apapun angan-angan yang bersifat duniawi, tentu itu akan
menipu kita bukan? Bukan berarti tidak boleh bercita-cita, Sa. Tapi, coba kamu
nilai lagi cita-cita mu itu! Kamu ingat tentang kufur, dengki, ikhlas, riya’,
fasad, sholih dan sombong!”
Aku tersenyum lega.
Meski aku merasa diizinkan untuk bermimpi, namun aku harus lebih berwaspada
lagi dengan mimpi, begitu juga dengan imaji.
“Bagaimana jika
orang yang hobbinya berimajinasi?” Tanyaku selanjutanya.
“Apapun, jika
berlebihan itu bahaya Sa.”
“Maksudnya?”
“Orang yang banyak
memilih hidup dalam imaji, dia lama-lama akan lupa dengan dunia nyatanya. Dia
cuma bisa berangan-angan, tidak pernah melakukan. Tapi, perlu berhati-hati
saja.”
Aku terdiam, aku
terpukul dengan jawaban ini. Aku merasa.. aku merasa.. tidak hidup.. aku
membawa diriku dalam angan-angan hanya untuk merasa indah.. bahagia…
khalifah
Seusai belajar dengan kawan-kawan jalanan,
tertinggallah Nushaiba dan Raihan. Di samping taman kota, di bawah pohon
beringin yang kebal dari sinar matahari, terlihat Nushaiba dan Raihan sedang
membincangkan sesuatu. Mereka terlihat begitu menikmati perbincangan itu. Speda
merah muda milik Nushaiba pun berdiri tegak di samping Raihan duduk.
Kulitnya penuh debu, celana jins di bawah
lutut sedikit robek-robek, tulang-tulangnya sedikit menonjol dari kulit yang
kasar, rambutnya tidak panjang dan tidak rapi, tas punggung yang lusuh masih
saja digendongnya, di dalamnya ada sarung, baju koko yang bersih dan alat
tulis. Maklum, berbulan-bulan dia hidup di jalanan dan sangat sering tidak
makan. Ya, dialah Raihan. Bekas anak orang kaya.
“Apakah kamu termasuk orang yang berputus
asa?”, tanya Nushaiba tanpa ragu.
“Kadang aku merasa putus asa, namun ketika
aku harus menemui kecerian mereka rasanya keputus asaan tidak akan pernah
datang lagi,” kedua matanya mengajak Nushaiba untuk memperhatikan teman-teman
jalanan yang sedang asyik bermain, sedangkan sengatan matahari membuat
kulit-kulit mereka semakin menghitam.
“Syukurlah.
Tau nggak? Ternyata Alloh sangat membenci hamba yang berputus asa.”
“Benarkah? Sa, aku pengen juga belajar
Al-Qur’an.”
“Ya, dengan Al-Quran kita menjadi tahu apa
yang harus kita lakukan. Dan didalamnya, subhanalloh banyak sekali kata-kata
yang membuatku semakin bersemangat. Teman-teman jalanan perlu kenal Al-Qur’an
juga deh!”
“Kamu benar juga Sa. Berarti harus
ditambahkan jadwal baru, ” berbicaranya serius tanpa senyum, sedangkan Nushaiba
sendiri selalu senyam-senyum.
“Boleh, nanti aku bantu deh. Kapan-kapan ke
desaku dong, di sana seru loh. Nanti belajar bertani dengan Kakek ku, biar
nggak kurang gizi tuh! Hahaha,” tawa Nushaiba mengakhiri kalimat.
Raihan hanya tersenyum dengan lirikan
tajamnya.
“Kamu juga ikut bertani Kakekmu Sa?”
“Ya iya dong!” Lagaknya orang sombong.
“Pantesan sekarang tambah hitam gitu! Hahaha,”
kali ini tawa Raihan begitu lebar.
“Biarin!” Bibirnya manyun.
“Hiiiiiih, tambah jelek tahu!”
Ada suasana kaget di hati Nushaiba, hingga
raut wajahnya berubah seketika,“ini sudah terlalu siang, aku pulang dulu ya.”
“Kamu nggak marah kan Sa?”
“Hahaha,” sambil beranjak mendekati speda,
“nggak lah. Biasa saja kali, aku kan gadis pemaaf, baik hati dan tidak sombong,”
kedipan matanya diiringi senyum untuk Raihan.
“Iiiih, belagunya! Hehehe.. tapi aku
benar-benar minta maaf ya, dan makasih banget.”
“Okey pak Bos! Aku pulang dulu yaaa…,”
kakinya sudah mulai mengayuh.
“Hati-hati…,” tangan Raihan terangkat,
memberikan salam pada Nushaiba. Dan senyuman mengiringi kepergiaan Nushaiba yang semakin jauh.
Kebulan asap semakin ramai dari ratusan motor
dan mobil. Kota sekecil ini sudah mulai menyesakkan nafas. Pepohonan yang besar
baru saja ditebang, karena pohon tua ditakutkan akan tumbang di jalanan. Tentu
saja, udara terasa menyengat apalagi cahaya matahari yang bebas menyentuh
kulit. Bahkan, butiran keringat tak mampu lagi menurunkan suhu tubuh.
“Ya Alloh, telah Engkau bentangkan tali
keseimbangan dari bumi hingga ke langit dan Engkau meminta kami untuk
menjaganya. Namun sekarang keseimbangan itu mulai ditelan kerakusan. Dan kami
telah merasakan akibat kelalaian kami ini Ya Alloh,” Dengan ayunan spedanya
yang berangsur pelan, hati Nushaiba kembali gundah. Cintanya pada alam kembali
mengusik.
“Neeeng!”
Terlihat tangan melambai-lambai dari
kejauhan, dan seperti ditujukan pada Nushiaba. “Neng? Apa dia memanggilku?”
Ayuhan spedanya semakin cepat dan semakin
kencang, tentu saja kerudungnya penuh dengan angin yang beterbangan namun tidak
sampai terlepas dan membuka. “Oh, Imam. Sudah ku duga!”
“Hahaha, Neng tahu aja! Tapi, kok bisa tahu
kalau aku Imam?” Tawanya terlihat dengan lepas. Keringatnya membahasi wajah
yang kelelahan.
“Siapa lagi yang memanggilku dengan sebutan Neng,
jika bukan sampean?”, tersenyum. Kemudian mulai turun dari spedanya.
“Hehe,” wajahnya terlihat menyimpan malu.
Lalu pembahasan mulai dia alihkan, “kok tidak seperti biasanya?”
“Maksudnya?”
“Maaf, sampean terlihat sedikit cemberut,”
Imam mulai meniliti apa yang terjadi dengan wajah Nushaiba. “itu, air mata
sampean hampir jatuh”.
Kali ini Nushaiba hanya terdiam tanpa
tersenyum. Keningnya sedikit berkerut menahan sesak di dada. Dan dengan
tertunduk, dia mencoba menyembunyikannya. Sangat sempurna. Tetesan air mata
Nushaiba terlihat bercahaya, dengan dramatis mengenai kakinya saat akan
melangkah.
Keduanya masih berjalan beriringan, dan
Nushaiba sambil menuntun spedanya.
“Apa aku punya salah dengan Neng Nushaiba?”
Wajahnya terlihat khawatir, sambil sesekali mencuri pandangan untuk melihat
wajah Nushaiba.
Seketika, Nushaiba mengangkat wajahnya. Dia
pikir, diam dapat menimbulkan kesalah pahaman, “nggak, sampean tidak punya
salah sama sekali kok.”
“Lalu, kenapa sampean sedih?”
Kali ini Nushaiba tersenyum dengan berat.
Berharap senyumannya dapat menenangkan hati Imam.
“Senyum sampean terlihat ganjal. Sebenarnya
ada apa sih Neng? Cerita dong!”
“Huuuuft…”, desahan kesalnya dengan tatapan
kosong, “lagi-lagi aku harus merasa berdosa, dan masih bingung untuk memikirkan
hal ini.”
“Berdosa? Lha bingung gimana, kok sampai
segitu sedihnya?”
“Manusia itu satu-satunya makhluq yang
mempunyai akal. Itu artinya, kita bertugas menjaga makhluq-makhluq yang lain,
yang ada di bumi ini. Namun, akhirnya kerakusan kita ini lah yang menjadikan
kita sebagai hewan tanpa naluri. Dan ekosistem tak lagi seimbang.”
Imam hanya mengangguk, lalu ikut menambahkan,
“jika manusia diberi karunia berupa akal untuk menjaga makhluq yang lain, lalu
kenapa harus ada nafsu yang Alloh berikan pada kita?”
“Ya, seperti halnya dengan kalimat ini. ‘Jika
jin dan manusia itu diciptakan untuk menyembah Alloh, kenapa Alloh memberikan
keinginan pada kita untuk tidak menyembah-Nya?’ Aku pikir itulah ujian, dan
hanya dengan itulah maka surga ada bagi kita.”
Lanjut Nushaiba, “Tapi kalau dipikir-pikir
aneh juga, kenapa Nabi Adam diciptakan untuk menjadi khalifah di bumi ya? Dan
sebenarnya, tanpa kita menjadi khalifah maka lebih damailah bumi ini bersama
semua makluq yang tidak mempunyai akal serta keinginan, dan yang pasti
keseimbangan ekosistem tidak akan pernah terganggu”. Nushaiba hampir kehabisan
nafas karena kalimat panjangnya tanpa putus.
“Lalu, apa yang dimaksud khalifah dalam kalam
Alloh yang sebenarnya?”. Sambung Imam dengan kalimat yang tidak sepanjang milik
Nushaiba.
“Hmm, entah lah”, Jeda. Kedua mata Nushaiba mencoba mencari
bintang di langit, dengan warna biru cerah. Kalimatnya pun masih berlanjut.
“Bahkan, malaikat sudah lebih dahulu tidak dapat menerima ‘mengapa makhluq yang
merusak bumi dan pembunuh akan menjadi khalifah di bumi itu sendiri?’. Dan
akhirnya, jawaban Alloh sudah cukup membungkam para malaikat ‘Aku lebih
mengetahui terhadap sesuatu yang tidak kalian ketahui’ lalu mengapa kita harus
mencari jawaban itu? Toh, kita tidak diperintahkan untuk mencari jawabannya
kok.”
“Iya, bener banget. Bukan itu yang seharusnya
kita cari. Namun, keIslaman seseorang itu harus mencakup dua hal utama. Yang
pertama itu beriman, meliputi segala hal bentuk ibadah. Dan kemudian beramal
sholih, maksudnya adalah meliputi segala tugas kekhalifahan manusia yaitu
mewujudkan bumi yang damai. Jika saja, kita cacat dalam satu hal maka cacat
pula keislaman kita dan harus mau memperbaiki diri”. Kali ini, kalimat Imam
membuat hati Nushaiba terasa menjadi lebih bersemangat.
“Hmm… mewujudkan bumi yang damai ”. Kalimat
Nushaiba yang membuat hati Imam bertanya-tanya.
Dan ternyata kalimat Nushaiba masih
berlanjut, “sepertinya aku tahu. Ada satu hal yang menjadi sumber masalah bagi
kita semua ini.”
“Apa?”. Kata Imam seperti tak sabar ingin
segera tahu.
“Semakin banyaknya penduduk bumi.”
“Maksudnya neng? aku belum paham.”
“Aduh, pembicaraan kita harus terputus”. Mata
Nushaiba terkejut melihat gang desa di hadapannya. “kita tidak mungkin berjalan
berdua di sini. Yang ada nanti sampean kena takzir, meski tidak ada niat buruk
di antara kita.”
“Hmm, iya neng. Aku sedih…”. Imam mencoba
mengekpresikan kesedihan di wajah.
Nushaiba mengalihkan pembahasan karena tidak
ingin terlarut dalam hal yang tidak penting. “oh iya, tapi aku ingin titip
sesuatu.”
----
Maaf, mungkin terkesan sedikit lancang karena tiba-tiba mengirimkan surat.
Tapi, aku hanya ingin menanyakan sesuatu yang penting saja. Aku ingin
mengadukan sesuatu tentang permasalahan desa.
Sekarang
ini, aku rasa santri kalong terlilhat semakin menipis, dengar-dengar karena
tugas SEKOLAH yang membebani (aaahh, lagi-lagi sekolah yang menyebalkan). Entah
benar atau tidak, namun sementara ini kendala itu yang aku ketahui. Aku hanya
sedikit khawatir, semakin hari pergaulan luar mulai masuk. Dan sayangnya
kebiasaan yang mereka tiru bukan kebiasaan yang positif, mulai dari cara
pakaian yang sangat membuka aurat dan kebiasaan konsumsi.
Bagaimana
pun juga, hal ini tidak boleh menjadi kebiasaan. Budaya kita, kepedulian kita
dan kepercayaan diri pada bangsa kita akan berangsur padam.
Namun
sisi lain, kita sangat perlu bergaul dengan orang lain, dengan siapapun. Agar
kita menyayangi semua orang, agar kita bisa belajar dan berbagi pada siapapun.
Karena kita harus kembali mengingat, bahwa Islam adalah Rohmatan lil’alamiin.
Bukannya lalu anti pada non Islam.
So,
menurut sampean sendiri apa yang perlu kita lakukan sekarang? -----
Nushaiba menyelipkan suratnya di dalam amplop
putih.
“ Minta tolong suratnya diberikan ke Muhammad
ya.”
“Iya. Tapi isinya apa? Sebelum sampai ke
Muhammad, saya harus menyerahkan ke pengurus dulu untuk dibaca”. Amplop itu
telah berpindah ke tangan Imam.
“Iya, tidak masalah. ”
Takziran
Sudut-sudut
masjid dan pondok mulai menggema, tak kuasa menyimpan suara merdu Muhammad.
Serambi masjid yang awalnya terlihat hijau muda sekarang berubah menjadi putih
rapi. Baju para santri lah yang ikut mewarnai, menyimbolkan kejujuran, kesucian
serta kedamaian.
Ada
yang tersenyum indah dengan ketenangan, ada yang menatap kekosongan, ada yang
terus berandai-andai, ada yang sangat bersemangat hingga tubuhnya tak ingin
berhenti bergerak, bahkan ada yang tertunduk mejatuhkan air kesejukan. Dan
sama, mereka sedang menyuguhkan sucinya sholawat serta salam untuk sang
kekasih.
Takjub.
Hanya satu ekspresi yang tergambarkan di wajah Nushaiba. Berdiri termanggu,
mencari pandangan lewat pintu-pintu yang terbuka, “jadi ini, kegiatan santri
putra setiap malam jum’at?”. Lalu, kepalanya mulai menggeleng karena kagum.
“benar-benar indah. Iri deh!”
“Hai!”.
Suara tak asing menyapa Nushaiba dari balik punggung, dengan seketika dan
mengagetkan.
Kepala
Nushaiba berbalik arah menyambar sumber suara, “mbak Endah?”
Hanya
senyum yang Endah haturkan.
“Menjadi
santri putra itu enak banget ya,” Nushaiba berandai-andai.
Endah
tidak ingin menanggapi pembahasan itu, “sampean tau, dipanggil malam ini karena
apa?”
“Emang
kenapa?” Wajah Nushaiba sedikit terkagetkan.
“Sampean
bakalan ditakzir.”
“Aku?”
kali ini, Nushaiba tak lagi menikmati sholawat yang dilantunkan kelokan nada
Muhammad. Telinganya hanya ingin menunggu jawaban dari Endah, “aku salah apa?”
Dengan
kelembutan, Endah menjawab lirih, “sampean jalan berdua bersama Imam kan?”
“Iya,”
Suaranya serasa ingin ditahan dan kepalanya sedikit mengangguk ragu.
“Itulah
kesalahan sampean mbak. Mabak Sasa pacaran?”
“Tidak”.
Kepala Nushaiba menggeleng cepat, “kita tidak pacaran. Kita sekedar berdiskusi,
kebetulan hanya berdua saja.”
“Ya
sudah, sekarang kita bertemu dengan pengurus putra, di kantor. Mohon dijelaskan
dengan sejujur-jujurnya mbak,” katanya sambil melangkah meninggalkan Nushaiba.
Nushaiba
pun mengikuti punggung Endah. Kenapa harus ada hal seperti ini Ya Alloh?
Sama sekali aku tidak menyimpan rasa yang aneh-aneh kok. Dan sedikitpun aku
tidak merasa beruntung bisa jalan sama cowok. Iiiih sebel! Aku kan benci
pacaran! Tapi kenapa aku mendapat takzir karena pacaran? Iiiih, nggak banget
deh.. Seemuanya gara-gara Imam!
Wajahnya
terlihat muram dan menyimpan amarah yang tertahan. Meski angin-angin membawakan
sholawat kesukaan Nushaiba. Namun tak lama, tiba-tiba dahinya mengernyit. Astaghfirulloh,
kenapa aku harus menyalahkan orang lain? Jika toh ternyata aku benar, kenapa
harus mau disalahkan? Ya, aku akan menjelaskan dengan sejujur-jujurnya Ya
Alloh. Aku mohon kekuatan Mu, lapangkanlah dadaku dan lancarkanlah lisanku
dalam berbicara. Hanya Engkau Yang Mahamengetahui dalam hati makhluq manapun.
Kaki
Nushaiba telah menginjak karpet hijau, dilihatnya ruangan yang sangat asing.
Ada banyak kitab dalam almari, ada beberapa meja dan kursi serta beberapa hal
yang diperlukan para Ustazd. Namun di dalamnya belum ada seorang pun yang dia
temui, kecuali hanya mbak Endah dan mbak Umi selaku pengurus pondok putri.
“Assalamu’alaikum!”
Wajah
setengah tua dengan senyum melangkahkan kakinya ke dalam ruang kantor, tempat
Nushaiba kini berada.
Patuh
dengan perintah Alloh, maka Nushaiba dan Endang menjawab penghormatan Ustazd,
“Wa’alaikum salam!” Dengan kalimat yang sama, meski lebih baiknya dengan penghormatan
yang lebih.
Belum
seempat selesai menjawab salam, terlihat Imam dan seorang pengurus putra juga
ikut menghampiri kami.
“Ya,
langsung saja,” Buka pembahasan dengan singkat. Ustazd Anwar selaku lurah di
pondok ini.
Diawali
dengan senyum, Ustazd Anwar mulai menghakimi, “di pondok ini sudah jelas-jelas
dilarang jika ajnabiy dan ajnabiyah hanya berdua saja. Lalu, kami mendapat
kabar bahwa kang Imam dan mbak Nushaiba berjalan hanya berdua. Meski sebenarnya
mbak Nushaiba hanya santri dari desa atau santri kalong, tapi mbak Nushaiba
sudah berada di kelas hampir tinggi, kan menjadi teladan banyak adik-adik.
Khawatirnya, akan ada kecemburuan sosial. Itu artinya, kami seelaku pengurus
pondok juga harus melibatkan mbak Nushaiba untuk mendapat hukuman.”
“Boleh
menambahi?” suara Nushaiba terlihat begitu canggung.
Ustazd
Anwar mengangguk. Wajahnya tidak menakutkan namun terkesan berwibawa, jadi
semua santri pun segan.
“Ingin
menjelaskan saja, sebenarnya kita tidak saling suka dan kita tidak pacaran.”
Sebelum
Nushaiba melanjutkan kalimat, tiba-tiba mbak Endah menyela tanpa ijin, “jika
saling mencintai itu tidak dilarang mbak. Namun yang dilarang adalah ajnabiy
serta ajnabiyah sampai berdua saja.”
Nushaiba sempat akan marah,
namun dia mencoba meredamnya dengan kelembutan bersuara, “maaf mbak, aku belum
selesai berbicara! Iya, aku tidak akan mengelak dari hukuman. Jika dibilang
salah sebenarnya kurang terima, tapi ya tidak masalah jika takziran ini juga
demi kebaikan adik-adik kelas atau siapapun. Aku bersedia menerima
takzirannya.”
“Ya,
bagus. Kang Imam ingin menambahi?”
Katanya
sambil tertunduk, “tidak.”
“Dan
takzirannya, nanti kang Imam saya beritahu sendiri. Tapi untuk mbak Nushaiba
selama seminggu, setiap hari bersih-bersih di ndalem (rumah) Pak Kyai, menyapu halaman
pondok putri dan mencucui mukena masjid.”
“Tapi
Ustazd, aku ingin mengusulkan hukuman yangg lebih bermanfaat.” Sela Nushaiba,
lalu diam menunggu jawaban. Begitu juga dengan Ustazd Anwar, hanya terdiam
namun memperhatikan Nushaiba.
Nushaiba
pun segera melanjutkan kalimat, “lebih baik aku dan kang Imam menuliskan
profile tentang pondok ini. Di dalamnya ada penjelasan tentang latar belakang
apa yang membuat Pak Kyai membangun pondok ini? Kemudian pergantian sistem
belajar antara yang dulu dengan sekarang? Berikut alasan mengapa tertuliskannya
bermacam-macam hukuman, sehingga tulisan tersebut akan sangat bermanfaat bagi
siapapun yang membacanya.
“Kadang,
belajar tanpa memahami itu lebih sulit. Atau bahkan hal sepele tentang menerima
takziran, pasti akan sangat terasa berat jika tanpa adanya alasan yang tepat.”
Terang Nushaiba dengan mantap.
“Ya,
itu ide yang sangat bagus. Berarti, hukuman awal tetap berlaku bagi Imam dan
Nushaiba. Lalu ditambahkan hukuman selanjutnya yang diusulkan oleh Nushaiba,”
tegas Ustazd Anwar dengan wajah polos, namun entah ada apa yang di dalam hati
Ustazd Anwar sebenarnya.
Nushaiba
hanya terdiam, mendengarkan kesimpulan yang tidak sesuai harapannya. Hmm..
oke lah tak masalah. Aku berniat baik kok, semoga Alloh memberikan karunianya.
“Maaf
ralat. Penulisan profile pondok hanya menimpa mbak Nushaiba. jika berdua, maka sama
saja hukuman ini akan mempertemukan kalian. Dan sebaiknya tidak,” Ada senyum di
wajah setengah tua itu.dan tidak ada yang tau, senyum apa dan ekspresi wajah
apa yang dimaksudkan.
Kepergian Kakek
Banyak
orang mendatangi tempat Nushaiba tinggal bersama Kakek dan Neneknya. Ya, hampir
semuanya berbaju putih untuk mengantarkan kepergian Kakek Nushaiba. Di dalam
rumah, di halaman, samping-samping rumah semuannya sangat penuh.
Sudah
menjadi adat desa. Sebelum jenazah diantarkan ke makam maka dipersilahkan
sholat bergilir bagi para tamu, keluarga, dan siapa saja yang ingin mendirikan
sholat jenazah. Berikut diiringi dengan tahlil yang berisikan Al-Qur’an,
zdikir, sholawat Nabi serta do’a yang dikhususkan bagi jenazah.
Seusainya,
acara pun dimulai. Seperti acara-acara pada umumumnya, akan di tuntun seorang
pembawa acara. Pertama-tama adalah pembukaan dari pembawa acara, pembacaan ayat
suci Al-Qur’an, sambutan wakil keluarga, kemudian akan ada tasliyah dari Kyai desa. Biasanya, akan
diceritakan beberapa riwayat kehidupan jenazah dan beberapa nasihat agar yang
ditinggal tidak terlalu bersedih.
Dibuka
dengan terjemah ayat AL-Qur’an, “Dengan menyebut Asma Alloh yang Mahapengasih
lagi Mahapenyayang. Sungguh, Alloh akan memberi cobaan entah berupa ketakutan,
kelaparan, kekurangan harta, jiwa ataupun buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar
gembira bagi orang-orang yang sabar. Yaitu orang-orang yang ketika mendapat mushibah akan berkata
inna lillahi wa inna ilaihi rooji’uun (sesungguhnya kami ini milik Tuhan dan
kami akan kembali kepada-Nya).”
“Mbak
Nushaiba dan ibu Aminah, mereka berdua termasuk orang-orang yang sedang
mendapat musibah yaitu kehilangan kerabat. Dan Alloh benar-benar telah
menghibur dengan ayat ini. Di ayat selanjutnya disampaikan bahwa, ‘mereka
orang-orang yang sabar akan mendapat ampunan dan rahmat dari Tuhannya dan
mereka itu termasuk dari orang-orang yang mendapat petunjuk.’ Jadi,
tersenyumlah mbak Nushaiba dan ibu Aminah. Alloh tidak akan pernah mengingkari
janji-Nya.” Dengan nada halus Kyai Abdul Halim mengingatkan Nushaiba dan
Neneknya. Dan agar dapat menjadi pelajaran baru untuk banyak orang yang ikut
menghadiri acara pemakaman.
Mata
Nushaiba telihat begitu tebal, kepalanya tersandar di bahu Neneknya. Terasa
sangat lelah. Meski pandangan Nenek Nushaiba terlihat sedih, namun ketegarannya
mampu menahan air mata. Tangannya terus saja mengelus kepala cucunya.
Bibir
Nenek terus membaca sesuatu tanpa suara, entah apa mungkin saja do’a. begitu
juga dengan Nushaiba, dia membaca kalimat istirja’ untuk menenangkan hatinya.
Dan di dalam hatinya terus dipenuhi Asma Alloh.
Dengan
kain sarung yang menutupi hingga mata kakinya. Dan dengan baju lusuh untuk
menutupi badan kurusnya, Kyai Abdul Halim berdiri di tengah pusat perhatian
orang-orang, “Jenazah yang sedang kita do’akan ini pasati sudah tersenyum dan
segera ingin berlari menuju tempat istirahat terakhirnya. Beliau pasti sudah
tidak sabar menerima balasan atas kebaikannya. Beliu adalah sosok yang sangat
sederhana namun ketekunan, kebaikan, kelebihan dan ilmunya tidak pernah
diketahui banyak orang.”
“Santri-santri
beliau ini ada sangat banyak di beberapa desa. Dan hanya bermodalkan speda
onthel, beliau menjadi Ustazd sejati kesana kemari. Sayangnya, beliau
menyerahkan urusan agama desa ini di tangan saya, padahal saya sendiri belum
pernah bisa menjadi orang sehebat beliau. Dan satu lagi, baru kali ini saya
menemukan orang hebat yang hobbinya diam, berbicara hanya untuk menyampaikan
ide serta ‘amar ma’ruf nahi munkar.”
“Beliau
memilih menjadi orang miskin, meski beliau mempunyai banyak sekali peluang
untuk terkenal, menyombongkan diri dan bahkan hidup dengan banyak uang. Dan saat
dipuji wajah beliau ini selalu memerah, kemudian akan berkata ‘hentikan pujian
itu! Hanya Alloh Dan RosulNya yang pantas dipuji!’ dengan nada tegas, sehingga
membuat kami semua terbungkam…, ” sejenak terdiam, mengambil nafas. Kelembutan
dalam bertutur, membuat banyak orang terus penasaran dan tetap memperhatikan
isi cerita dari sang Kyai.
Mata
Nushaiba terpejam, seperti mengingat suatu waktu. Hatinya mulai berbicara.
Waktu itu, matahari terlalu panas. Hingga akhirnya aku dan Kakek memutuskan
untuk bertuduh di bawah pohon besar. Menjadi sejuk rasanya. Aku dan Kakek
memandangi sawah hijau yang terhampar begitu luasnya. Dan terlilhat kambing
Kakek masih asyik menikmati rerumputan di sudut petak tanah kosong. Hanya ada
rerumputan liar di sepetak tanah tersebut.
Semua orang pasti mengira Nushaiba tertidur
karena kelelahan. Namun ternyata, Nushaiba semakin asyik dengan Kakek dalam
mata terpejamnya.
Saat
itu tiba-tiba Kakek mengajakku berbicara, meski pandangannya masih tertuju pada
sawah-sawah yang terhampar luas, ”Nushaiba, kamu tahu kenapa Kakek memilih
untuk menjadi petani?”
“Memangnya
kenapa Kek?” Aku menatap wajah Kakek yang keriput.
“Rasanya,
petani itu lebih sedikit dosanya. Kita tinggal menanam, kemudian dimakan. Jika
berlebih bisa diberikan pada orang lain atau bahkan dijual. Tidak perlu yang
aneh-aneh.”
“Bener
juga Kek. Apalagi petani desa, mereka tidak akan gampang merusak alam kan? Apa
yang dilakukan tidak pernah mengganggu keseimbangan alam, bahkan orang lain.
Malahan, hasil kerja kerasnya benar-benar dibutuhkan orang lain. Wah, berarti
pahalanya dobel-dobel. Hahaha,” tambahku sambil bercanda. Dan Kakek hanya
tersenyum.
“Tambah
satu lagi,” Suara Kakek tiba-tiba mengagetkan, “Masih mendapat bonus sehat.
Karena setiap hari harus bekerja keras.”
“Iya
juga Kek, ternyata banyak karunia bagi para petani. Pertama, bisa menjaga diri
agar tidak terlalu berlebihan mengejar dunia. Hidupnya cukup indah dengan menanam
kemudian dimakan sendiri. Hasil kerja yang berlebih pun dapat memberikan
manfaat bagi banyak orang, pekerjaan
yang dilakukan pun tidak pernah merugikan yang lain bahkan alam dan lingkungan.
Dan yang terakhir, masih mendapat kesehatan pula!”
“Tapi,
ada pula petani jahat. Jika dia terlalu mengharapkan harta, maka cara apapun
akan dia lakukan, bahkan sampai merugikan alam dan orang lain.”
Diam,
aku hanya mengangguk.
“Kamu
jangan coba-coba mengejar harta ya nduk. Coba kamu bayangkan ada seseorang yang
mengejar bayangannya sendiri. Dia akan semakin menjauhi dari sumber cahaya dan
dia tidak akan pernah bisa berhenti mengejar bayangannya. Semakiiin jauuuuh.
Sama halnya dengan seorang yang mengejar harta, dia tidak akan pernah puas dan
semakin jauh dari Tuhannya, hingga dia berbuat berbagai kejahatan.”
“Sebahaya
itukah Kek?”
“Iya.
Kau tahu bagaimana Nabi, para Khalifah dan para Sahabat Nabi memilih hidup?”
“Apakah
mereka memilih menjadi petani?”. Sejenak terdiam, kemudian aku ingin merevisi
kata-kataku barusan, “Haha, nggak mungkin kalau menjadi petani Kek. Orang
mereka saja hidup di padang pasir gitu kok. Hahaha”
Tanpa
mengikutiku tertawa terbahak-bahak. Kakek melanjutkan kalimatnya. “Mereka
memilih hidup dalam kemiskinan. Kau tahu tentunya bagaimana Nabi makan?
Bagaimana Nabi berpakaian? Bagaimana Nabi bersedekah? Bahkan kau tahu bagaimana
Nabi menahan lapar. Beliau terpaksa membuka bajunya ketika Umar mendesak
beliau”
“Waktu
itu Nabi terlihat pucat wajahnya, hingga sahabat Umar mengkhawatirkan Nabi dan
menduganya sakit. Berulang kali Nabi telah berkata bahwa beliau itu tidak sakit.
Namun terus saja shohabat Umar tidak percaya. Hingga akhirnya Nabi membuka baju
beliau, mengambil bebatuan yang terikat di perut yang hampir melekat di tulang
belakang. Seketika Shohabat Umar menangis, dan meminta maaf pada Nabi.” Wajah
Kakek terlihat benar-benar sedih. Seakan ikut menjadi saksi dalam peristiwa
tersebut. Bagaimana tidak bersedih? Melihat kekasih Tuhan, pemimpin dunia, dan
orang paling mulai menderita kelaparan hingga pucat raut wajahnya?
“Subhanalloh.
Tapi kenapa sampai bisa kelaparan Kek?”. Aku pun ikut terkagum dan tidak sampai
membayangkannya.
“Bukannya
beliau tidak mampu makan, namun beliau memang memilih untuk lapar. Beliau
berharap perbuatannya bisa meringankan penderitaan umatnya jika sampai kelaparan
nanti.”
“Terlalu
mulia Kek.” Ada banyak perasaan yang tersimpan dalam hati. Bersedih, bahagia,
prihatin, dan ingin menyalahkan diri sendiri.
“Dan
satu lagi. Dalam setiap do’a Rosululloh, beliau hanya ingin berkumpul dengan
orang-orang miskin di surga.”
“Di
surga? Tapi banyak juga kan Kek, orang miskin yang sering berbuat kejahatan,
apakah mereka akan tetap masuk surga dan bertemu dengan Nabi?”
“Tentu
saja orang miskin yang beriman, beramal sholih, dan juga yang penyabar serta
pandai bersyukur.”
“Maksudnya
penyabar?”
“Penyabar
itu tidak pernah mengeluh atas kemiskinannya. Dia pasti akan sangat dibenci
iblis. Tapi ada juga orang miskin yang terlihat kaya.”
“Siapa?”
“Dia
adalah shohabat Ustman. Waktu itu belia menjadi seorang khalifah, tentu saja
mendapat gaji. Tapi setiap kali mendapat gaji langsung diserahkan ke baithul
mal. Untanya juga sangat banyak, setiap saat selalu diinfaqkan, namun setiap
saat harta-harta selalu berdatangan pada beliau. Harta-harta sangat mencintai
beliau karena berdatangan terus, tapi beliau sama sekali tidak mencintai harta.
Kalau shohabat yang lain benar-benar memilih miskin. Mereka hanya mampu makan
sekali saja dalam sehari. Meski ada yang menjabat sebagai khalifah sekalipun,
atau bisa disebut presiden. Dan waktu itu sayiidina ‘Ali pun bekerja semacam
menjadi pembantu orang Yaahudi untuk makan.”
“Hahaha,
nggak bisa bayangin Kek. Sama saja SBY jadi pembantu dong..”
“Ya,
itu artinya Nushaiba sudah bisa membayangkan bagaimana berbahayanya harta?”
“Iya
Kek, benar-benar harus dijauhi ya..”
“Kamu
ingin menjadi petani, Nushaiba?”
“Tentu
saja mau Kek, profesi yang indah dan mulia!”
“Jangan
lupa terus berdo’a agar tetap diberi kekuatan untuk tetap bersyukur dan
bersabar, entah dalam keadaan kaya maupun miskin.”
Lalu
kami beradu senyum. Senyum indah dari wajah yang telah keriput. Keteguhannya,
kecerdasannya, kebijakannya, kelembutan hatinya, keindahan berbicaranya, dan
hati mulianya membuatku iri hati. Kulit-kulit Kakek yang keriput menandakan,
bahwa beliau telah hidup cukup lama. Menimpa banyak ujian dan sekrang masih
bertahan dengan keimanan serta ketaqwaan. Beliau pasti tidak sabar lagi ingin
bertemu Nabi dan kekasih sejati, Alloh.
“Nushaiba!
kamu tidak inigin ikut ke makam?” Telapak tangan Nenek menepuk-nepuk pundak
Nushaiba dengan halus.
Seketika,
Nushaiba membuka bola matanya. Terlilhat sepi, semua telah berbondong-bondong
mengantarkan jenazah Kakek Nushaiba ke masjid untuk disholatkan terakhir kali.
“Aku ikut Nek”
“Yasudah,
cepat! sana berangkat..”
Nushaiba
pun berlari meninggalkan Neneknya, cepat-cepat menuju ke makam tanpa ikut ke
masjid. Sudah menjadi kebiasaan, hanya laki-laki saja yang ikut mensholatkan
jenazah di masjid.
Sebelum
langkah kakinya menginjak di tanah makam, seorang gadis tidak asing menjemput
langkah kaki Nushaiba. Suaranya pun menggetarkan daun telinga Nushaiba,
“Assalamu’alaikuim”
“Wa’alaikum
salam”. Tentu saja, Nushaiba menyambutnya dengan senyum.
“Semoga
Kakek mu mendapat tempat terbaik di sisi-Nya”
“termakasih
mbak Naziha.”
Setelah
jarak mereka berdua cukup dekat, tangan mereka berjabat tangan.
“Aku
balik ke pondok dulu ya mbak,” Kata Naziha akan pamit.
Senyum
kembali dihaturkan Nushaiba, “Iya mbak.”
“Wassalamu’alaikum,”
kali ini,salam yang diucapkan Naziha untuk mengakhiri perjumpaan.
“Wa’alaikum
salam,” tanpa memandang Naziha lebih jauh, Nushaiba mengalihkan pandangannya ke
makam. Terasa sunyi.
Indah di sepertiga malam
terakhir
Langkahnya
tergesa-gesa, dikejar matahari. Buku-buku dan kitabnya masih berceceran di atas
kasur, meja bahkan ada yang terjatuh di lantai. Beberapa detik, terlihat wajah
anggunnya tanpa jilbab. Rambutnya tergerai. Wajah gadis itu bersih bercahaya,
karena air wuzdu yang mengalir di setiap lekukan wajahnya. Matanya berbinar,
menyibakkan wangi karunia yang ada dalam dada. Tak berapa lama, bibirnya tersenyum
indah sendiri.
Nushaiba
tidak sabar lagi untuk segera menikmati waktu bersama Tuhannya. Hati, jiwa dan
pikirannya telah mendambakan ketenangan dalam sepenggal kesunyian.
Bibirnya
ingin bercerita banyak hal, mengadukan kehidupan pada Sang Pemilik Kehidupan.
Seusai
mengulang seluruh hal yang telah aku dapat seharian, termasuk introspeksi diri
atas kesalahan-kesalahan. Maka sekarang saatnya memohon ampun pada-Nya. Sholat
tahajud yang akan mengawali, lalu aku akan terus memuji-Nya, beristighfar
sebanyak-banyaknya, memohon perlindungan dan do’a apa saja yang ingin aku
kabarkan pada-Nya.
Sunyi, sepi..
Bahasa lidah tak sampai ke telinga, bahkan
menggetarkan tulang daunnya sedikit pun
Hati ini selalu ingin berbicara, mengusulkan
dialog sambil terbungkam
Hanya mata yang berbintang-bintang
mengisyaratkan kelemahan
Kedua telapak tangan melengkung,
Mengharapkan garis tangan yang terlukis
indah.
Tak ingin menyambut pagi..
Berdua dengan-Nya adalah nafas terindah
sepanjang hayat,
Tak ingin pergi dari pekat malam, berlari
bersama waktu..
Pada kesempatan ini, satu hal yang terus aku
pinta untuk dijauhkan dari hati, yaitu mengeluhkan atas segala nikmat serta
karunia..
Karena ‘keluhan’ jauh dari kesabaran, syukur,
dan bahkan keihklasan.
Dalam kalam suci Mu, engkau mengisyaratkan
bahwa keikhlasan adalah titik tertinggi yang harus digapai oleh hamba..
Aku berlindung pada Ridho-Mu, dari Murka-Mu..
Lalu,
Nushaiba menyimpan tangannya di bawah dagu. Ada sesuatu yang menghebat di
hatinya. Mutiara-mutiara mulai berlinangan di sudut-sudut mata yang terpejam.
Bibirnya bergetar menahan teriakan.
“Inna
lillahi wa inna ilaihi rooji’uun”. Tangisannya semakin menghebat.
“Inna
lillahi wa inna ilaihi rooji’uun”. Hatinya mulai tenang.
Dan
di dalam ucapannya yang ketiga, menjadi semakin tenang hatinya. Bibirnya
tersenyum, air matanya tetap berlinang, “sesungguhnya kami ini milik Tuhan, dan
sesungguhnya kami akan kembali kepada-Nya.”
Masih
saja tersenyum, “indah dan menyakitkan. Jujur, aku paling takut jika
kehilangan. Meski sebenarnya aku tahu. Aku tidak memiliki apapun dan siapapun,
bahkan aku sendiri pun bukan milikku. Jika aku tidak punya apapun, lalu kenapa
aku takut kehilangan. Apa yang akan hilang coba? Tuhan, apakah menurut Engkau
aku adalah hamba yang aneh?”
“Sekarang
ini aku merasa memiliki orang-orang dekat. Masih ada Nenek, Raihan, Muhammad
dan Imam. Tapi hanya merasa memiliki mereka Tuhan, tidak lebih. Karena mereka
bukan milikku,” Senyumnya janggal. Matanya tertutup, wajahnya pun tertunduk.
“Berbicara
seperti ini bukan mudah, di dalam hatiku masih perih. Rasa tidak akan pernah
bisa menerima kalimat itu, meski aku berkata dengan kesadaran penuh,” Kali ini
matanya mulai terbuka. Badannya benar-benar merinding.
“Aku
tahu apa jawaban-Mu, mungkin saja Engkau yang Mahapenyayang akan berfirman.
Bahwa benar apa yang kau katakan wahai hambaKu. Dan Engkau akan terus merasa
takut jika belum mengalami kesendirian. Dan kau akan menimpakannya wahai
hambaku, terimalah dengan sabar dan syukur maka kau akan menikmatinya sebagai
kabar gembira dari Ku,” berbicara sendiri, dia merasa hanya berdua dengan
Tuhannya.
“Terimakasih
Ya Alloh, aku tahu bahwa Engkau tidak akan memberi ujian kepada hambanya
kecuali jika dia mampu. Dan aku memohon pertolongan-Mu, penjagaan-Mu, dan juga
lapangkanlah dadaku. Serta jagalah aku, sahabatku, Raihan, Muhammad, Imam serta
keluargaku berserta keturunan kami dari godaan syaitan yang terkutuk.”
Sepenggal cerita di dapur Nenek
*12 Februari*
“Nek, sudah berapa lama sih Nenek terus-menerus membaca
tafsir Al-Qur’an? Dan anehnya, kenapa kitab yang dibaca juga tidak pernah
ganti. Apa Nenek tidak bosan?”
“Kok bosan gimana to nduk?”. Jawab Nenek tanpa
memperlihatkan ekspresi wajah kepada ku. Kedua tangan dan mata Nenek masih
fokus merubah-rubah bentuk adonan kue. Sedangkan, aku sendiri menyandarkan
kepala di bahu Nenek tercinta. Sambil menunggu adonan itu jadi, aku pun banyak
bercanda dan sekali-kali berbicara serius dengan Nenek.
“Iya, bosan. Masak tidak bosan sih Nek? Kan sama membaca
buku puluhan kali.”
“Coba saja kamu membaca tafsir Al-Qur’an, seperti dengan
apa yang Nenek lakukan.” Jawaban yang bukan aku harapkan pun dilontarkan Nenek.
Diam sejenak mencari sesuatu, kemudian aku suarakan apa
yang telah aku temukan di benakku. “Apakah karena Nenek sudah tua, sehingga
tidak mempunyai keinginan selain membaca Al-Qur’an?”
Menunggu jawaban Nenek, namun ada satu lagi yang aku
pikirkan. “Hmm… tapi apakah sama antara membaca Al-Qur’an dan buku-buku biasa?”
“Ya jelas beda tho nduk.” Jawab Nenek singkat.
“Bedanya apa Nek?” Kataku dengan antusias tinggi.
“Al-Qur’an itu berbeda dengan cerita wayang. Isinya tidak
berurutan, bahkan terpisah-pisah di berbagai surat. Kalau cerita wayang itu kan
alurnya berurutan dari awal sampai akhir. Jadi membutuhkan waktu lebih lama
untuk memahami Al-Qur’an. Dan bisa dibantu dengan pengulangan terus menerus
nduk, sampai hampir hafal.”
Kataku heran, “tidak berurutan gimana sih, Nek?”
Adonan yang Nenek buat belum juga selesai, sampai aku pun
melihatnya bosan. Dan sepertinya tangan Nenek seemakin merasa berat.
“Misalnya, di ayat pertama hingga beberapa ayat
dikabarkan tentang ciri-ciri orang kafir, munafik, orang fasiq dan sampai
pembalasan Alloh kepada mereka. Nanti tiba-tiba membahas hal lain seperti hukum
pernikahan, perceraian atau kewajiban-kewajiban yang harus dipenuhi. Nah, di
surat yang lain lagi pembahasan tentang orang kafir akan dilanjutkan.”
“Lalu kenapa Nenek tidak menghafalkan Al-Qur’an?”
“Pengen nduk, tapi kemampuan Nenek sudah terbatas.”
“Bukankah Nenek sendiri yang selalu mengajarkan, bahwa
Alloh itu membenci seorang yang berputus asa?”
Sejenak, kutunggu respon dari Nenek.
“Nenek curang. Nenek tetap bertahan untuk tetap berputus
asa?”. Kali ini coba ku tengok raut wajahnya. Ternyata beberapa aliran mata
telah membuangkam Nenek untuk bersuara.
“Seandainya masih muda, pasti dengan sangat senang hati
aku juga akan menghafal Al-Quran nduk”
“Tidak ada tua dan muda, yang penting Nenek semangat dan
berkeinginan teguh. Pasti Nenek sudah lebih paham dan sudah lebih banyak
menjalani ujian Alloh, jadi tidak perlu aku mengingatkan banyak hal kepada
Nenek ”
aku kembali diam, masih saja tidak ada jawaban yang aku tunggu-tunggu,
“ayo lah Nek! Bahkan setiap hari aku hanya menghafal dua ayat. Aku kira Nenek
bisa lebih banyak dariku, karena Nenek sudah hampir hafal kan?”
Hanya senyum yang
nenek haturkan. Dan aku tahu, Nenek hanya ingin meminta waktu untuk merenung
dan berpikir. Kedua bola mata itu mengisyaratkan ketenangan di hatiku. Tidak
ingin membujuknya lagi, keputusan Nenek jauh lebih baik.
Beruntung sekali, meski aku tidak punya seorang ibu namun
Nenek benar-benar lebih dari seorang ibu. Tangan keriputnya lebih halus dari
selendang sutra. Pelajaran dan nasihatnya tidak pernah bercampur dengan nada
kemarahan, jadi aku bisa menerimanya dengan sangat senang hati. Inilah
satu-satunya obat jiwa yang tidak pahit, yaitu nasihat beserta kasih sayang
serta kepedulian.
Beberapa detik telah membuat lamunanku pergi kamana-mana.
Dan aku masih membalas senyum Nenek dengan penuh syukur.
“Adonannya sudah jadi, sekarang kita cetak! Ayo nduk
bantu Nenek,” lamunanku pun pergi karena suara Nenek.
“Okey Nek!”
“Hayo! Lagi pada ngapain nih?” Kak Shufyan datang, masih
dengan seragam putih abu-abunya. Bahkan pundaknya masih berat dengan tas ransel
hitam.
----
“Sungguh
aneh, sebenarnya sosok yang disebut Sasa
sebagai Kak Shufyan itu siapa? Siapa lagi jika bukan Kakak Sasa? Apakah Sasa
memang mempunyai dua Kakak?” Pertanyaan tanpa ujung masih saja terus-terusan
menghantui pikiran Naziha.
Bahkan
pertanyannya semakin menjadi-jadi tanpa kepastian, “Tapi kenapa Sasa tidak
pernah bercerita kepada ku? Apakah dia belum sempat, tidak ingin
menceritakannya, atau bahkan ini catatan harian yang sudah sangat lama? Tapi..
kakak Sasa itu mati juga karena kecelakaan bersama bapak ibu Sasa. Lalu siapa
dia?”
Pertanyannya harus tertunda hingga
pertemuannya kepada Nushaiba, dan Naziha memutuskan untuk tetap melanjutkan
membaca catatan harian Nushaiba.
---
“Ini, baru buat kue Kak!” Ku sambutnya dengan
senyum paling indah.
“Wah! boleh banget, pokoknya Kakak tunggu
deh!”
“Iiiih curang! Sini dong ikut bantuin.”
“Iya. Kakak ganti baju dulu.”
Kecurigaan Naziha
Semua
santri serempak menutup kitab Fathul Qorib. Disediakan lima belas menit bagi
seluruh santri untuk mengendapkan ilmu atau sekedar beristirahat setelah
berpikir keras.
“Eh,
mbak Sasa. Aku ingin menanyakan sesuatu, tapi jangan tersinggung,” Naziha
mendekatkan badannya di tempat Nushaiba duduk.
Sudah
wajib! senyumnya selalu muncul, “tanya apa mbak?”
Dengan
suara lirih, Naziha mulai menyusun kalimat, “sampean itu punya saudara
laki-laki selain yang diceritakan?”
Hanya
menggeleng, “memangnya kenapa mbak?”
Di
waktu istirahat, semua santri putra keluar kelas dan melakukan apa saja sesuai
kehendak mereka masing-masing. Lalu, di dalam ruang kelas hanya tertinggal
santri putri. Ada yang tetap memperhatikan catatannya, ada yang lari
kesana-kemari, ada yang sibuk bermain, ada yang tertidur, bahkan ada yang
ngobrol pokoknya free gitu deh! Dan suasana ini juga yang terjadi di setiap
ruang kelas.
Di
tengah kegaduhan suasana kelas, maka Nushaiba dan Naziha masih fokus
membicarakan tema yang sedikit serius.
“Ceritanya,
waktu itu buku catatan harian sampean terbawa. Lalu aku baca.. ”
Saat
Naziha belum menyelesaikan kalimatnya, suara Nushaiba cepat menyambar. Dia
sudah tahu apa yang membuat Naziha kebingungan, “sebenarnya itu hanya imajinasiku
saja mbak. Ketika aku merindukan Kak Syufyan, maka aku akan mengada-ada cerita.
“Atau
sebenarnya aku sedang berbicara dengan orang lain, lalu aku menganggapnya
sebagai kak Shufyan. Yaitu saudaraku yang telah meninggal.”
“Oh
begitu ya. Tapi jangan terlalu sering seperti itu mbak, kadang menerima ujian
itu memang berat. Asalkan kita yakin kuat, pasti Alloh akan mengaruniakannya, ”
nasihat Naziha. Layaknya sahabat yang selalu membuat tenang dan menjadi lebih
baik.
“Iya
mbak. Tapi sekarang, aku terlanjur mencintai tiga orang sekedar menggantikan
Kak Shufyan. Mereka ada Imam, Raihan dan Muhammad. Kepribadian mereka
benar-benar hampir mirip dengan Kak Shufyan. Kedatangan Kak Shufyan seperti
terpecah-pecah dalam diri mereka. Mereka membuatku tenang, mereka cukup
menginspirasi, mereka membawaku indah dengan mimpi-mimpi. Meski ngobrol dengan
mereka pun tak kesampaian,” wajahnya masih terlihat layu, namun terus berusaha
untuk semakin tegar.
Naziha
masih terdiam, mencari-cari kata yang dibutuhkan kehadirannya di telinga
Nushaiba.
Belum
lama, suara Nushaiba kembali terdengar, “sebenarnya aku juga tidak setuju
dengan perbuatanku ini. Aku yakin, dengan kekuatan Alloh maka aku akan kuat. Dan
seharusnya kasih serta sayang dari Alloh saja yang aku harapkan.”
“Tapi
ya, apa boleh buat. Cinta yang ada di dalam hatiku ini pun Alloh yang memberikan
dan hanya Dia yang mampu untuk mengabadikan atau menghapuskannya. Hmm, entahlah
padahal aku pun tidak begitu kenal dengan Muhammad, Raihan dan juga Imam. Namun
tiba-tiba aku mencintainya seperti saat aku mencintai saudaraku, Kak Shufyan.”
“Mungkin
saja Alloh hendak mengujimu dengan cinta itu mbak. Yang penting, kita harus
tetap kuat dan berjalan mengikuti jejak kekasih Tuhan. Nabi Muhammad SAW”
Senyum
Nushaiba akhirnya membuat Naziha semakin tenang.
Lalu
suara Nushaiba menyusul, “yang penting kita saling mendo’akan ya mbak. Aku pun
tidak ingin mengungkapkan cintaku pada Raihan, Muhammad dan Imam dengan cara
yang macam-macam. Tapi dengan mendo’akan mereka, maka sudah membuat hatiku
puas.
“Apalagi
jika do’a ini dikabulkan. Aku sudah merasa menyayangi dan mencintai mereka
mbak. Aku harap, cinta yang diberikan Alloh ini hanya akan menjadi kebaikan dan
pahala saja, bukan justru menjadi dosa.”
“Benar
sekali! Karena cinta itu memang bukan dosa. Tergantung bagaimana selanjutnya
cara kita menyikapinya saat menggejolak di hati.”
Suara
santri putra sudah terdengar di teras kelas, itu tandanya bel masuk akan segera
berbunyi. Dan seorang Ustazd akan kembali bekerja keras untuk para santri.
Bulan
purnama yang tadinya bertengger di bagian timur, sekarang sudah mulai naik ke
atas. Cahaya anggunnya membuat awan hitam ikut bercahaya, apalagi kawanan bintang
yang ikut mengiringi keindahan malam itu. Jendela keca yang tingginya hampir
setengah meter, membuat Nushaiba tidak ingin berhenti mencuri pendangan,
mencari-cari indah purnama.
Entah,
apa yang membuat Nushaiba selalu bergembira saat bertemu dengan bulan purnama.
Namun yang pasti, rasa itu seperti saat bercengkerama dengan keluarganya.
“Kakak,
Ayah, Ibu. Kalian juga lihat bulan ini kan?”
Pamit di Pintu Makam
“Alhamdulillah”
Tercipta
senyum, setelah Nushaiba terbangun dari tidurnya. Sejenak terduduk, dan
penglihatan semakin jelas.
Tak
ada hujan tak ada petir, eh tiba-tiba Nushaiba terkagetkan oleh sesuatu.
Menjeritlah dia, “ Waaa… sudah Qamat?!”.
Berlari,
segera mengambil air wuzdu. Dan cepat-cepat kembali ke kamar untuk mencari
mukena putih. Semut-semut kecil tidak diperhatikan, tangannya tak ingin
menikmati lambaian bunga dan daun di sekitar jalan, bahkan batu-batu kecil di
jalanan sama sekali tak dihiraukan. Otot-otot kelopak matanya sedikit tertahan
untuk membuka lebih lebar, karena matahari senja menyinari wajahnya dengan
terlalu terang. Jantungnya berdetak sangat kencang, dan seketika mulai tenang
saat merapat di barisan sholat.
Salam
ke kiri menjadi penutup sholatnya. Namun bibirnya masih terus ingin memuji Nya.
Sebelum memanjatkan do’a yang terlalu banyak, dia perbanyak pujian, istighfar
dan sholawat.
Cahaya
jingga yang menerobos masuk ke dalam masjid, ikut terpantul indah oleh butiran
air mata. Warnanya menjadi keemasan, dia mengalir dengan kalimat Ilahi serta
sholawat untuk Nabi, kekasih Alloh. Bulu-bulu matanya terlihat begitu indah.
Semakin lentik karena air mata yang membasahi.
“Ya
Rob, hambu Mu yang dho’if ini memohon. Tancapkanlah Iman dan Islam hingga akhir
hayat, begitu juga dengan seluruh umat mislimin.”
Kembali
terdiam, seperti menunggu jawaban.
“Jika
Engkau hendak mencabut nyawa hamba, cabutlah dengan khusnul khotimah. Jauhkan
hamba dari kefasikan, kemunafikan, kekafiran dan juga dari kefasadan, serta
golongkanlah hamba dalam umat Nabi Muhammad. Ya Alloh, tambahkanlah ilmu yang
bermanfaat, yang dapat mendekatkan hati hamba kepada Engkau.”
Kedua
matanya terbuka, lalu mengambil nafas dalam-dalam. Saat menghembuskan nafas,
kedua matanya kembali tertutup, “Dan.. jagalah hamba, kerabat hamba, dan keturunan
kami semua dari godaan syaitan yang terkutuk. Aamiin..”
Kedua
tangan yang sedari tadi menengadah, perlahan mengusap butiran air mata.
Tersenyumlah dia, “Alhamdulillah.”
Jalan
kakinya bukan menuju ke rumah, namun semakin jauh dari rumah.
“Ya Alloh, aku tahu bahwa hanya berdo’a saja
itu tidaklah cukup.”
Kali
ini pandangan matanya mengarah lurus ke depan, hingga terlihat garis perbatasan
antara langit dan pepohonan yang berdiri rapi, sedangkan kakinya tetap
melangkah. Bibirnya bergerak bersuara, namun tidak sedang berdialog pada
seseorang.
“…
Dan di antara manusia ada orang yang berdo’a ‘Ya Tuhan berikanlah pada kami
kebaikan di dunia’ maka tidak ada baginya bagian di akhirat. Dan di antara
mereka ada yang berdo’a ‘Ya Tuhan kami, berikanlah kami kebaikan di dunia dan
di akhirat dan periharalah kami dari siksa neraka. Namun mereka itu orang-orang
yang mendapat bagian karena apa yang mereka usahakan. Dan Alloh sangat cepat
perhitungan-Nya.’”
Tersenyum,
Nushaiba ingin menashihati dirinya sendiri, “Nushaiba, kamu akan mendapatkan
apa yang kamu inginkan karena usaha yang kau lakukan dan juga kehendak Alloh.
Maka hanya berdo’a itu belum cukup, ayo semangaaaat! Sebaik apapun do’a kamu,
jika kau hanya bermalas-malasan ya percuma, sama saja bohong. Jangan pernah
lagi menafikan kasih sayang Alloh.”
Indah
sekali, ada niat baik yang terpancar dari wajahnya. Siapapun yang memandang
senyumannya kali ini, maka hatinya ikut tergerak pada kebaikan serta
semangatnya tiba-tiba ikut muncul. Belum lagi keanggunan wajahnya, benar-benar
damai di hati.
“Nushaiba?
Kenapa kamu senyum sendiri?” Imam berdiri di gerbang makam.
“Loh,
kenapa sampean ada di sini?”
Tidak
ada jawaban. Namun ada hal lain yang ingin Imam sampaikan, “mumpung bisa
ketemu, sekalian saya mau pamit. Sore ini nanti aku akan berangkat ke Jogja,
aku kuliah di sana.”
“Oh
ya?” wajahnya terkaget dengan senyum.
“Iya,
aku kuliah di fakultas kedokteran. Semoga kita bisa bertemu lagi.”
“Wah,
seru dong. Bagi-bagi ilmu loh.”
“Tentu!
Oh iya, ini buat sampean nanti keburu ada orang,” kata Imam sambil mengulurkan
sebuah surat.
“Apa
ini?”
“Di
baca nanti saja. Oh iya, ini sudah keburu-buru. Aku langsung pamit ya,”
“Iya,
makasih banget. Tetap semangat, jaga diri, dan tetap zdikir!” Pesan terakhir
yang Ingin Nushaiba sampaikan.
“Terimakasih”.
Imam seprti ingin memandang Nushaiba lebih lama.
Tidak terduga, Imam terhenti dan kedua matanya
mengajak mata Nushaiba untuk berbicara. Dan hatinya menyembunyikan kalimat dari
Nushaiba. Tentu saja aku akan kembali untukmu, Nushaiba. Bukan sekedar
teman, sahabat atau bahkan saudara. Namun aku akan kembali untuk menjaga dan
mendampingi hidupmu. Aku akan wujudkan cita-citamu Nushaiba.
Ide baruu…
“Hari
ini kita main air sampai sore kan?” celetuk Rina dengan wajah mungil.
Raihan
tak merespon, masih sibuk membersihkan pacul, arit dan beberapa perlengkapan
lainnya.
“Iya
kan Kak?” Ivan dengan kulit paling hitam, mencari perhatian Raihan.
“Tanya
Kak Nushaiba tuh!” Jawabnya singkat.
“Jadi
kan Kak Nushaiba?”, Ivan menghampiri Nushaiba yang berdiri menunggu Raihan,
sedangkan di sampingnya ada Fira dan Ata yang manja.
“Kalau
teman-teman yang lain bagaimana?” Nushaiba bersuara keras agar sampai ke semua
telinga.
“Maen
aiiiirrr!” Seerempak semua menjawab, kecuali Reza dan Ibnu yang masih asyik
lari-larian.
“Woy
Reza! Ibnu!” Ata berteriak jengkel. Seketika mereka menghentikan gerakan kaki
yang tengah berlari.
“Apa?”
Reza dan Ibnu menjawab.
“Mau
nggak kalau hari ini main air sampai sore?” Ata masih dengan nada jengkelnya.
“Eh,
berarti kita sholat di sawah loh. Udah bawa mukena dan baju panjang belum?”
Nushaiba menyela.
“Siaaap!
Sudah semuaaa….,” semua menjawab dengan semangat.
“Okey
deh! Sekarang kita langsung menuju ke sungai, kita main bersamaaa!” Nada
Nushaiba mengajak semangat, kedua tangannya menarik Ata juga Fira yang selalu
ingin dimanja, berbeda dengan Rina.
Jalan
setapak berliku-liku, kaki-kaki tanpa alas menginjaknya tanpa ragu. Matahari
berada di jarak terdekat, memaksa warna
kulit mereka untuk berubah menjadi lebih hitam. Sembilan orang berjalan dengan
hati bergembira.
Langit
biru dibentangkan tanpa awan yang berarak. Samping, depan dan belakang penuh
dengan warna hijau tetumbuhan. Burung-burung kecil terlihat berulang kali
mencuri biji-biji padi. Beberapa pasang sapi dipaksa untuk membajak sawah. Dan
siang seperti ini tidak ada sura kodok, namun beberapa suara burung menjadi
paduan yang indah.
Memang
hanya burung yang sering terlihat, namun sebenarnya ada sangaaat banyak spesies
hewan yang hidup damai di persawahan. Termasuk tikus, ular, semut, jangkrik,
belalang dan sangat banyak lagi.
Tidak
ada asap rokok penyebab kanker, tidak ada asap motor yang mengacaukan
keteraturan tubuh, namun yang ada hanyalah hati damai, kesejukan, dan suasana
yang ramah.
“Sekarang,
semuanya membersihkan diri dan wudhu. Kita sholat berjama’ah di gubuk sana
yaa..,” ajak Nushaiba.
Mata
air bening mulai membahasi kulit-kulit yang kotor. Sedangkan niat yang mereka
lantunkan dalam hati, ikut menghilangkan hadast kecil. Meski begitu, dunia
bocah tetap saja tidak lengkap tanpa kejailan. Tak lepas dari permainan,
kemanjaan dan juga tawa. Tawa yang jujur, yang bukan seperti dalam film, drama
maupun teater.
Raihan
menjadi imam sholat di gubuk itu, sedangkan Ivan, Danang, Reza dan Ibnu
berbaris persis di belakang Raihan. Lalu, di barisan paling belakang ada Fira,
Rina, Ata dan Nushaiba dengan mukena-mukena putih.
Sesekali
segelintir angin pun menari lembut, membelai mereka yang sedang menghadapkan
hati serta pikiran untuk-Nya.
Tak ada hal lain, hanya bayangan bermain-main yang ada di
kepala bocah-bocah ini. Mereka segera berlari, meninggalkan Raihan dan
Nushaiba.
Ivan
mengalihkan perhatian teman-temannya yang asyik berenang, “siapa yang berani memenuhi
tantanganku? Kita lomba cari ikaaaannn!!!”
“Ikannya
masih kecil-kecil Van!” Ibnu tidak setuju.
“Emangnya,
kalau sudah dapet ikan mau kita apain?” Rina ikut bersuara.
“Kita
pelihara di rumah Kak Nushaiba dong!” Jawab Ivan.
“Setujuuu!”.
Serempak suara itu membuat Ivan bangga diri. Lalu, kepala-kepala mereka mulai
tenggelam hingga menyentuh dasaran sungai. Air di sungai mencapai dada para
bocah itu. Tubuh mereka bergeliat mengejar ikan dan sesekali harus muncul di
daratan untuk menghirup udara.
Sedangkan,
Raihan serta Nushaiba mulai mengakhiri do’anya. Meski kakinya kembali lagi
melangkah, namun hatinya tetap untuk-Nya. Sehingga di manapun kaki mereka
melangkah, maka selalu untuk-Nya.
“Sebentar
lagi, kebun luas itu akan menjadi sebuah perumahan,” Tunjuk Nushaiba pada tanah
yang rindu akan cahaya matahari. Karena selalu tertutupi oleh pepohonan rimbun
di setiap waktu.
“Kenapa
bisa?” Kedua mata Raihan mencoba mengamati.
“proyek.”
“Seharusnya
tidak boleh, atau minimal jangan sampai seluas itu. Karena bagaimana pun juga,
beratus-ratus pohon itu sangat kita butuhkan.”
Bibir
Nushaiba melengkuh ke atas. Seketika, tubuhnya terlihat begitu letih. Meski
angin segera berlomba-lomba mengibarkan jilbab biru tuanya.
“kebutuhan
ekonomi.” Jawab Nushaiba singkat.
“Aku
tahu, hasil pertanian pasti tidak cukup lagi untuk memenuhi kebutuhan sekolah.”
Nushaiba
menyambung kalimat Raihan. “lagi-lagi sekolah. Seharusnya pendidikan itu
mengentaskan manusia dari penindasan, kemiskinan serta kebodohan! Tapi
kelihatan kan, sekolah-sekolah itu yang justru menindas kita!”
“Sekarang,
sekolah menjadi tempat bisnis. Jangan kaget,” Raihan menambahi.
Nushaiba
hanya terdiam, semilir angin sedikit meredamkan gejolak api dalam hatinya. Menunggu
maksud Raihan lebih lanjut.
“Ya,
menjadi tempat bisnis. Sekarang ini tidak ada lagi sekolah murah Sa. Korupsi
dan segala macamnya telah mendarah daging di berbagai penjuru. Sekolah untuk
jualan buku dan sekolah menjadi pencetak robot pabrik.”
“Aku
mengerti. Yang aku herankan, kenapa mereka masih ngebet sekolah? Tanah di desa
ini begitu subur untuk bercocok tanam bukan? Namun, sekarang tidak ada satu pun
anak muda yang dapat mengolah tanah di sawah..”
Sebelum
Nushaiba menyempurnakan kalimatnya, Raihan segera menambahi, “karena mereka
belajar tidak sesuai dengan kebutuhan Sa. Mungkin para guru itu merasa tau
kebutuhan semua orang, dan itu artinya mereka lupa bahwa kebutuhan setiap orang
itu berbeda. Disebabkan realitas dan lingkungan yang dihadapi memang berbeda-beda.”
“Entah
lah, jangan bahas hal ini lagi. Aku tidak ingin marah berlebihan. Yang pasti,
sekarang ini aku punya ide. Bahwa kita harus menjaga keseimbangan alam dan
kembali menyadari, kalau kita mempunyai banyak tugas untuk menggali sumber daya
alam, dan kita ini diberi karunia tanah surga.”
“Bayangkan,
seandainya sekolah tau apa yang kita butuhkan! Mana mungkin masalah-masalah
kecil di desa akan menjamur bertahun-tahun? Mana mungkin sumber daya alam kita
tercuri, mana mungkin ada bunuh diri karena ujian, mana mungkin kehidupan
menjadi momok, dan mana mungkin pemimpin kita stres berat dengan kerjaannya
yang seabrek.”
Lanjut
Raihan, “masalah mahalnya pupuk, menebalnya polusi, rusaknya lingkungan,
mengentaskan kemiskinan. Hal ini selamanya tidak menjadi tugas ppemimpin kita
semata. Kita juga harus bergerak dong!”
“Yuk!
Lanjutkan kerja kerasmu Han. Kita buat sekolah baru! Kita buktikan dengan
hasil, bukan omong doang,” Nushaiba ingin membagikan semangat yang menjalar
dalam dirinya.
Tak
lama, kepala serta badan yang basah kuyup ikut berkumpul di depan gubuk. Tubuh
mereka mulai menggigil, tak sanggup jika langsung bersinggungan dengan suhu
udara yang panas. Dan langkah-langkah kembali ke rumah Nushaiba mulai ditempuh.
Harus melewati tanah licin di antara kebun-kebun teduh, banyak pula bebatuan
yang menghadang.
Di
sela waktu perjalanan, nafsu untuk bermain tidak pernah luput juga dari
bocah-bocah ini. Sedangkan Raihan dan Nushaiba juga tak sanggup, jika membiarkan
waktu lewat tanpa diskusi.
“Tadi
kamu belum menyelesaikan kalimat. Ide baru apa yang kamu miliki?”. Raihan
mengawali pembahasan, di tengah tawa dan candaan di belakang.
“Jauh
hari yang lalu, selepas aku belajar dengan anak-anak jalanan, aku sempat
bertemu dengan Imam. Dan kami membicrakan banyak hal tentang alam. Berawal
keluhanku tentang manusia yang semakin rakus, yang akhirnya dapat mencelakakan
dirinya sendiri. Dan kami sempat membahas tantang kata ‘khalifah’ yang ada
dalam Al-Qur’an, meski sebenarnya kami belum menemukan jawaban yang tepat.”
“Terus?”
Raihan tak sabar.
“Akhirnya
aku coba mencari ide, agar aku dan seluruh penduduk desa dapat bersahabat
dengan alam. Aku ingin membawa pembahasan ini dalam kumpul rutinan remaja.”
“Dengan
kegiatan apa saja?”
Sebelum
nushaiba menjawab pertanyaan Raihan, terdengar tawa serempak yang membuat
Nushaiba segera menengok ke belakang.
“Aku
terperosok Kak”. Ivan memelas di samping padi-padi, dan badannya terperangkap
oleh lumpur.
Serentak,
Raihan dan Nushaiba pun ikut menyumbang tawa melihat Ivan tak berdaya. Padahal
dia adalah bocah yang paling nakal dan aktif, “teman-teman, itu Ivan dibantu
naik.”
Sambil
menunggu, sembari Nushaiba menjawab pertanyaan Raihan.
“Mungkin
isinya juga diskusi, dan kita mencari materi bersama. Namun terlepas dari itu,
kita juga harus mempunyai suatu target. Sebagai pengukur, apakah diskusi selama
itu berhasil menjawab pertanyaan dan menghasilkan ide besar untuk permasalahan
desa kita?”
“Target
pertama, aku ingin desa ini dapat memenuhi kebutuhan pangan sendiri. Bukan lagi
bertani untuk dijual. Dan seandainya berlebih maka baru bisa dijual. Namun yang
paling inti adalah untuk memenuhi kebutuhan sendiri. Agar semakin lama menjadi
terampil dan terbiasa. Itu bakal lebih aman dan jauh dari kerugian.”
“Lebih
aman dan jauh dari kerugian?” Raihan menginginkan penjelasan yang lebih
panjang.
“Pernah
dengar berita petani tembakau bunuh diri?”
Lanjut
Nushaiba, “satu truk tembakau hasil panenannya tidak lagi dibutuhkan pabrik.
Waktu itu baru gencar-gencarnya peng-haram-an rokok. Akhirnya dia sangat rugi
besar, dan dia tidak bisa berbuat apa-apa dengan tembakaunya. Berbeda ketika
seandainya dia petani sayur dan beras. Nggak mungkin bunuh diri, toh itu
bahan-bahan yang dia butuhkan untuk makan sehari-hari. Lebih aman bukan? Serugi
apapun, kita bakalan tetap bisa makan.”
Raihan
tersenyum sambil mengangguk, “boleh,
boleh.”
Ternyata
belum putus juga rangkain kalimat dari kepala Nushaiba, “selain alam, kita juga
tetap berdiskusi seputar masalah-masalah apapun yang ada di desa ini. Dan
terlepas dari itu lagi, ada pula cita-cita yang harus digapai setiap anak desa
dan juga harus dikembangkan setiap ide yang muncul.”
Raihan
menambahi, “Aku setuju. Dengan sistem
berdiskusi maka tidak terlalu membutuhkan guru, jadi selalu mencari bersama
sampai dapat.”
Perjalanan
yang indah, sehingga tak ada satu pun yang mengeluh. Cahaya jingga menghujan
dari sebelah barat. Kebetulan, senja datang di hari ini. Daun-daun hijau pun
terlihat keemasan olehnya.
“Sore
begini baru pulang? Nushaiba tidak ngaji kitab hari ini?” Nenek menyambut
kedatangan nushaiba dan kawan-kwannya.
“Maaf,
aku kelupaan Nek.”
“Kamu
ini!” Wajah keriput Nenek tersirat kecewa.
Nushaiba
hanya sekedar tersenyum malu-malu.
“Ini
tadi ada surat dari anak pondok”. Tangan kanan Nenek mengulurkan amplop putih.
---Kamu terlalu cepat mengambil kesimpulan
tentang mereka. Untuk tahu sebearnya apa yang ada dalam otak mereka, dibutuhkan
proses yang lama. Jangan serta merta kita memberikan label buruk pada mereka.
Kepercayaan, menjadi hal yang sangat penting
dan kamu terlalu banyak menuduh tidak baik tentang, mereka yaitu anak-anak
sekolah. Sedikitpun kamu tidak memberikan kepercaayaan pada mereka. Kita ini
harus bisa berpikir dan memandang lebih luas. Kita tidak boleh terlalu egois
dan merasa paling benar---
“Tanggapannnya cumen gini doang?!”
Nushaiba cepat-cepat menutup surat balasan dari Muhammad.
Cemberut. Mungking bukan jawaban hebat yang dia harapkan.
Lagi, lagi.. kau ikut pamit
Bangku
taman. Di tempat itu lah Nushaiba dan kakaknya sering berantem dan membagi
kasih. Namun kali ini, hanya ada Nushaiba dan kupu-kupu bisu yang terbang di
antara banyak bunga.
“Aku
tahu, setiap manusia memiliki batas kemampuan. Lalu, apakah aku sedang
menginjak batas itu? Surat dari Muhammad terlalu cepat menggores hatiku.
Terlalu cepat mengalirkan air mata kebimbangan. Apakah aku benar-benar sedang
menginjak batas? Apakah aku terlihat gadis jahat yang selalu merasa benar? Lalu
apa yang bisa kuperbaiki lagi?”
Kedua
bibirnya merapat, menahan suara yang ingin lepas. Hidungnya mulai memerah dan
dadanya pun tak teratur menghisap angin. Air mata terjatuh, terlanjur meresap
di celah-celah bangku yang kering.
“Tuhan,
aku yakin bahwa aku bukan pemilik semangat yang gampang putus. Aku yakin, bahwa
orang yang baik itu bukan berarti dia yang tidak pernah salah. Namun, dia yang
selalu memperbaiki kesalahan,” kali ini, air matanya mengalirkan semangat di
setiap pori-pori yang kering.
“Kutegaskan
pada diriku! Seandainya aku sampai malas berpikir, maka tidak boleh berkata,
menulis dan melakukan apapun! So, untuk apa aku terus-terusan menghirup oksigen
demi bertahan hidup? Maka itu artinya, aku harus selalu berpikir di setiap waktu
dengan lebih luas dan jeli,” katanya dengan tergesa, mengadakan perdebatan
dalam diri.”
“Aku
yakin bahwa setiap orang memilki perbedaan. Yaitu memilki karunia dari Alloh
yang berbeda-beda, kekurangan yang berbeda-beda hingga akhirnya timbul
kebutuhan yang berbeda-beda. Tidak perlu menilai orang lain jika tidak
dibutuhkan, jika toh kalau pun butuh tidak boleh terlalu instan. Begitu kan Nushaiba?”
Seolah-olah di bola matanya terpantul wajahnya sendiri.
Senyumnya
begitu merekah, melupakan air mata yang belum selesai mengalir dari lekukan
pipi, “Alloh baik banget! Aku lalai, kemudian ditegur dan diberikan ide. Sangat
indah kasih sayang dari Alloh. Lebih indah dari cahaya jingga yang melukiskan
ketenangan alam.”
“Jika
dirasa-rasa, ternyata aku ini memang terlalu cepat mengambil keputusan. Aku
terlihat menjadi orang yang plin-plan, karena terlalu sering merubah kesimpulan.
Lebih tepatnya, aku belum pernah bisa berpikir sekali saja, harus terputus oleh
hal lain kemudian baru berpikir kembali. Lalu ketegasan apalagi ya, yang harus
aku patuhi? ” Kedua matanya melirik ke kiri agak ke atas, mencari solusi untuk
mengimbangi kekurangannya.
Tak
sampai satu menit waktu berjalan, senyumnya sudah terlihat mengagetkan dan
alisnya dengan cepat terangkat ke atas.
“Mungkin
aku harus rajin menuliskan segala ide yang tiba-tiba datang, lalu harus rajin
berdiskusi, mencari pengetahuan dan bertanya banyak tentang ide yang aku miliki.
Demi menghindari kecerobohanku yang terbiasa berpikir pendek. Jadi, boleh-boleh
saja cepat menyimpulkan, namun tidak boleh gegabah segera memutuskan tindakan.
Harus berpikir lebih keras lagi! Dan itu artinya aku harus lebih semangat dari
kemarin dan lebih berani mengutarakan ide pada orang lain.”
“Kenapa
kamu senyam-senyum sendiri begitu Sa?” tiba-tiba menghampiri Nushaiba. Badan
tipis itu bernama Raihan.
Hanya
senyum yang dilontarkan Nushaiba.
“Eh,
aku mau pamit”, kata Raihan terlepas dari senyum Nushaiba.
“Kemana?”
Raihan
mencari tempat untuk duduk, “Tadi aku mendapat surat dari Ayah. Aku harus
pulang dan aku akan tetap melanjutkan perjalanan menggapai cita-cita. Desa ini
sudah memberikan banyak pelajaran untukku, terutama kamu yang selalu memberikan
hal baru untukku.”
Nushaiba
memalingkan wajahnya dari Raihan, bola matanya hanya ingin memantulkan indah
langit.
“Lalu,
siapa lagi yang akan membantuku mewujudkan cita-cita di desa ini?”
Menundukkan
wajahnya. Hanya itu yang bisa Raihan lakukan. Tidak mungkin tega, dia melilhat
kesedihan Nushaiba. sudah terlalu banyak rasa asin, manis bahkan pahit yang
ditelan Nushaiba.
“Siapa
lagi yang sudi mengingatkanku? siapa lagi yang ingin paham tentang aku?
Berulang kali, aku selalu ditinggalkan,” wajahnya masih berpaling dari Raihan.
Raihan
belum juga berhasil menyusun kata.
“Silahkan
pergi sekarang. Tidak perlu ada lagu perpisahan dan pamit. Pergi sekarang! Aku
ikhlas.”
Kali
ini dia harus memandang wajah Raihan yang serba salah, “mungkin, besok Muhammad
yang akan pergi. Dan entah siapa lagi?”
Kalimat
terakhirnya tak begitu jelas terdengar karena isak tangis yang tertahan. Wajahnya
memerah namun bukan merona. Kedua mata yang sempat mengiringi senyum, saat ini
kembali penuh dengan aliran darah untuk mendorong air mata.
Semangat Dari Kulit Yang Keriput
Nushaiba
hendak menyita fokus Nenek yang sedang mennggoreng.
“Nek,
kemarin aku menceritakan sebuah ide kepada Raihan. Aku ingin membuat semacam
kelompok diskusi rutin tentang lingkungan dan alam, Nek.”
Nenek
masih terdiam, merasa belum punya hak untuk berkata. Lalu, Nushaiba pun
melanjutkan kalimatnya, “dan kebetulan kemarin aku belajar Al-Qur’an sampai di
ayat…,” nadanya ragu, “hmm… yang pasti sekitar akhir surat Ali Imraan, tentang
penciptaan dan orang yang mmemiliki akal.”
Nenek
pun melafazdkan ayat tersebut dengan bahasa Arab yang fasih, lalu dilanjutkan
dengan artinnya.
Sesungguhnya
dalam penciptaan langit dan bumi serta pergantian siang dan malam, ada
ayat-ayat (bukti-bukti kebenaran) bagi ulil albab (orang-orang yang memiliki
akal). Yaitu orang-orang yang selalu mengingat Alloh dalam keadaan berdiri,
duduk dan berbaring serta dia yang selalu merenungkan tentang penciptaan langit
dan bumi. ‘wahai Tuhan kami tidaklah Engkau mencipatakan semua ini sebagai
kebathilan. Maha suci Engkau dan jagalah kami dar siksa neraka.’ {Ali Imraan,
190-191}
“Iya!
itu maksudku, Nek. Bagaimana menurut Nenek tentang ideku dan ayat tersebut?”
Nushaiba lebih bersemangat.
“Ide
mu tentu saja bagus. Karena kita memang diperintahkan Alloh agar memikirkan
tentang penciptaan langit dan bumi ini. Itu artinya pasti Alloh menghendaki
banyak hal di dalamnya. Tapi di salah satu tafsir, ada yang lebih menekankan
bahwa,” Nenek teringat sesuatu yang hampir terlupakan, “ Eh! itu bawang merah
dan putihnya segera dipotong-potong Sa.”
Lalu,
kembali melanjutkan penjelasan tentang ayat yang Nushiaba tanyakan, “bahwa,
ayat yang akhir itu menjelaskan ayat sebelumnya, lebih khususnya adalah ulil
albab atau orang yang memilki akal.”
“Nah
di tafsir yang Nenek baca lebih menekankan ulil alabab tadi atau yang disebut
manusia yang berakal adalah orang yang selalu memikirkan sesuatu apapun dan
sekecil apapun, bukan hanya terbatas pada ilmu penciptaan saja.”
Nushaiba
hanya mengangguk, belum ada data yang terlintas di pikirannya dalam tema kali
ini.
“Jadi,
untuk menjadi orang baik harus mau berpikir!” Nenek menambahi.
“Dan
bahkan hal yang sepele sekalipun, sehingga tidak akan pernah ada sesuatu yang
tidak bermanfaat untuknya, karena semua akan menjadi pelajaran yang sangat
berharga. Sudah paham belum?” Nenek coba perhatikan wajah Nushaiba.
“Siiip
Nek,” Nushaiba mengacungkan jempolnnya.
Nenek
masih melanjutkan penjelasan, “hingga akhirnya orang-orang yang berakal akan
berkata seperti di akhir ayat tadi. Robbanaa maa kholaqta haazdaa baathilan
subhaanaka wa qinaa ‘azdaaban naar.”
Benar
juga apa kata nenek, tentu saja aku tidak lupa apa kesimpulan Einsten sebelum
dia wafat. Dan aku pun tidak lupa, bagaimana wasiat Nabi agar kita memikirkan
dan merenungkan semua makhluq Alloh, bukan Zat Nya. Nushaiba menyimpan kalimatnya dalam hati.
“Eh,
sebentar! Ada yang aneh..” nadanya mengagetkan, ada sesuatu baru yang terlintas,
“Nenek hafal? Atau karena sudah terlalu sering membaca Al-Qur’an serta
tafsirnya?”
“Setelah
Nenek pikir, tidak ada ruginya menghafal Al-Qur’an. Aku ingat nasihatmu dulu
nduk.”
Tersenyum
kaget, “Alhamdulillah, sejak kapan Nek?”
“Baru
seminggu yang lalu.”
“Sudah
sampai juz empat? Yang benar Nek?”
“Sudah
sampai juz empat nduk. Kamu kan tahu sendiri, sudah berapa tahun Nenek mulai
mempelajari Al-Qur’an dan tafsirnya? Tentu saja banyak kata yang tidak asing
lagi, sehingga Nenek menjadi mudah dalam menghafalnya.”
“Keren
Nek! Hahaha,” Nushaiba memecah tawa. Dia terlalu dekat dengan Neneknya hingga
menganggapnya seperti teman sendiri.“
“Sekali-kali
ilmunya ditularkan ke Nushaiba dan teman-teman, Nek. Kan sayang banget, jangan
hanya mbak-mbak pondok yang sudah besar. Justru kami ini yang akan membangun
desa di zaman selanjutnya. Jadi kami minta bekal dari Nenek,” Nushaiba merayu
dengan berbagai alasan.
Kau Gila, Nushaiba!
“Kenapa
harus pergi? Aku tidak punya sahabat disini..”, suara Nushaiba memelas memohon keajaiban.
Di depannya, Naziha sudah siap dengan tas dan beberapa kardus yang akan dia
bawa pulang ke kampung halaman. Terburu-buru, seperti ingin cepat meninggalkan
pesantren.
Naziha
mencoba menenagkan dirinya, lalu duduk di depan sahabatnya berada. “Seharusnya
persahabatan memang tetap ada. Tapi, kau tahu apa yang sedang menimpa tali
persahabatan kita?”
Wajahnya
menunjukkan kesedihan yang mendalam, air matanya mulai mengalir. Seperti ada
rahasia yang tertahan, menyesakkan dada Naziha. Sedangkan Nushaiba bingung
bertanya-tenya dalam hati. Dan dia berharap akan mendapatkan jawaban tanpa
perlu bertanya.
“Kamu
mempunyai ruska dengan Imam bukan?” Tanyanya serius meski simpel. Kepala Naziha tertunduk sambil menunggu
jawaban dari Nushaiba. Meski sebenarnya dia sudah tahu jawaban apa yang akan
keluar dari mulut Nushaiba.
Mata
Nushaiba berbintang-bintang, bola matanya berputar tanpa arah. Seperti
mengingat sesuatu, “bisa dibilang iya, karena sepertiga jiwa Kak Shufyan sudah
bersemayam dalam raganya. Sedangkan kau tahu sendiri betapa cintanya aku dengan
Kak Shufyan? Kenapa ditanyakan?”
Semakin
deras air mata yang terjun dari sudut mata Naziha, dan nafasnya semakin sesak,
“sebenarnya, ada tali cinta yang mengikat antara aku dan Imam. Lalu, kedekatan
kalian meruntuhkan tali cinta kita. Imam lebih merasa nyaman berada dalam hati
mu.”
Naziha
mulai mengangkat wajahnya untuk Nushaiba.
Nushaiba
sempat kaget dan bahkan ekspresi wajah terakhirnya penuh kebingungan, lalu
tersenyum.
“Kau
salah paham Naziha. Aku dan Imam memegang tali persaudaraan atau semacam
persahabatan. Imam sangat baik, karena dia bersedia menjadi saudaraku dengan
tulus tanpa mengharap apapun, termasuk hatiku. Dia menganggapku seperti
adhiknya sendiri. Tentu saja dia tidak mengharapkan apapun dariku. Karena hal
itu, aku menjadi kagum dengannya.”
Suara
Naziha cepat menyusul, “kamu salah! Dia bukan orang tulus yang selama ini kamu
ketahui, dia mengharapkan hati dan cintamu, dia memberikan cintanya dengan
pamrih. Dia tidak ingin menjadi saudaramu, namun dia ingin menjadi pendamping
hidupmu! Kamu tahu bagaimana rasa sakit yang ada di hatiku? Aku tidak ingin
menikmati cerita ini lebih panjang, dadaku sudah sesak. Aku putuskan untuk boyong malam ini juga. Jaga diri kamu
baik-baik mbak!”
Kalimat
Naziha benar-benar menghantam kepala Nushaiba. Dia kehilangan cinta saudara
yang tulus, dia bisa merasakan kekecewaan di hati sahabatnya, beberapa detik
kemudian pikirannya telah terpenuhi dengan rasa bersalah yang membakar
habis-habisan.
Seharusnya
malam ini adalah malam kesenangan bagi Nushaiba, Naziha dan seluruh santri
putra-putri. Namun ternyata bukan untuk Nushaiba dan bahkan Naziha. Acara
akhirus sanah sudah dibuka dengan iringan rebana. Suara itu sangat dikenali
oleh Nushaiba. Suara itu menyayat hati Nushaiba, sedangkan pikirannya sedang
penuh dengan rasa bersalah. Ya benar sekali, itu adalah suara lelaki yang di
dalamnya telah bersemayam sepertiga jiwa Shufyan. Yaitu Muhammad.
Kepala
Nushaiba serasa akan pecah seketika itu juga. Kakinya melangkah penjang dan
cepat, membawa tubuh mungilnya tersandar di sudut kamar. Suara tu masih
melayang bersama angin, memenuhi telinga Nushaiba. Lafazd-lafazd berbau
sholawat terbang dengan nada yang lembut, tentu saja itu melukai hati dan
pikiran Nushaiba yang sedang rapuh oleh beberapa hantaman.
------
Halusinasi.
Ya, terdengar beberapa teriakan dan dialog yang tidak penuh dari sudut kamar Nushaiba. Di dalam mata
Nushaiba yang terpejam, terjadi banyak kejadian.
Suara
merdu Muhammad masih berlanjut, mendukung suasana itu.
“Naziha,
aku akan selalu merindukan mu. Aku bukan pengkhianat, aku adalah sahabat yang
baik,” mata Nushaiba yang berbintang benar-benar meneduhkan jiwa.
“Tidak,
hatiku tercabik karena nama mu Sa! Kau bukan sahabat yang baik, bahkan kamu pun
tidak pernah mengerti apa saja yang ada di dalam hatiku. Sedangkan, aku selalu
berbaik hati pada mu Sa,” wajah merah Naziha menyimpan marah dengan linangan
air mata.
“Maafkan
aku Naziha, tapi aku tidak pernah berniat buruk kepada mu. Aku orang yang
baik.”
“Kamu
gadis gila Nushaiba!”
Kaget,
Nushaiba menunjukkan kemarahan dengan suara tinggi, “apa maksud kamu Naziha?
Kenapa kamu menghina ku?!”
“Karena
kamu memang benar-benar gila Nushaiba! Kamu mencoba keluar dari kesadaran mu!”
“Kau
yang gila Naziha!” Amarah Nushaiba meletup-letup.
Naziha
tersenyum sinis, lalu melanjutkan kalimatnya yang terputus, “kamu mencoba
keluar dari kesadaran mu! Kamu sudah tahu, Kakak mu telah meninggal. Kamu
sadar, bahwa cintamu kepadanya tidak akan bisa tergantikan. Lalu kenapa kamu
memaksakan diri untuk mencintai orang lain agar kamu dapat melupakan Kakak tercinta
mu? Dirimu itu sadar, bahwa cinta kepada kakak mu tidak akan pernah
tergantikan! Dan kamu tidak akan bisa melupakannya! Lalu kenapa? Kenapa kamu
masih memaksa diri untuk mencintai Imam, Muhammad, dan Raihan? dan menganggap
mereka sebagai Kakak mu?”
Mata
Nushaiba terpejam, memelas pasrah. Seketika kemarahannya pun terusir oleh
kalimat Naziha barusan, “setidaknya, aku tetap bisa merasakan kehadiran
Kakakku. Agar aku tetap semangat untuk menjalani hidup ini Naziha.”
“Konyooll!”.
Senyum Naziha Sinis dengan sedikit suara tertawa yang tertahan.
“Kamu gadis paling bodoh Sa! Beberapa hari
saja kamu merasa bahagia karena kehadiran mereka bertiga, lalu apakah kamu
berhasil melupakan kakak kamu? Apakah cinta kepada kakak mu benar-benar telah
hilang? Apakah kamu bisa berbahagia? Jawab saja dengan jujur! Yang ada, kamu
menjadi semakin sedih bukan? Hidup mu tergantung pada mereka, dan menjadi
semakin sering kamu mengingat kakakmu. Kamudian catatan harian mu…”
“Cukup!”
Jeritan Nushaiba menahan kalimat Naziha. Kedua tangannya menahan kepala, yang
dia rasa akan segera meledak.
Naziha
tetap melanjutkan kalimatnya, “kamu mencoba membohongi dirimu dengan catatan
harian itu bukan? Kamu memalsukan cerita Sa! Kamu berlari dari kehidupan nyata
yang harus kamu hadapi! Kata gila dan bodoh memang benar-benar pantas untuk
mu!”
Sesekali
Naziha menengok Nushaiba yang berdiri di sampingnya. Nushaiba memegangi
kepalanya dengan semakin kuat.
“Dan
tambah satu lagi, kamu adalah pembohong besar! Kamu munafik terhadap diri mu
sendiri. Sebenarnya apa yang ada dalam hati mu itu Sa, tega sekali kamu
membohongi diri mu sendiri?! Kau gila Nushaiba! Habis sudah, sekarang kau
sendiri tanpa sahabat. Imam, Muhammad, dan Raihan tidak akan pernah bisa
menggantikan Kakak tercintamu! Haha…”, Naziha tertawa dengan bangga. Seperti
nenek Sihir tengah menikmati kepuasaannya.
“Dan
selamat tinggal Nushaiba! Kamu akan terus dihantui ketakutan, kesedihan dan
cita-citamu tidak akan pernah tergapai. Kamu akan benar-benar gila Nushaiba!”
Tak
tertahan, tangan kanan Nushaiba menghasilkan suara cukup keras saat bertemu
dengan pipi kiri Naziha, “kamu yang gila Naziha!”
Naziha
pun mendorong Nushaiba. Tubuh lemas Nushaiba pun tersungkur lemas di atas tanah
yang berselimut embun malam, dan mulai tidak sadar lagi.
Sosok
laki-laki kemudian datang menghampiri Nushaiba. Wajahnya bercahaya, dia adalah
saudara penuh cinta dengan hati yang tulus. Tangan lembutnya membangunkan
Nushaiba.
Perlahan,
kelopak mata Nushaiba mulai terbuka, “kak Shufyan?”
Seketika,
pelukan Nushaiba membayar seluruh kerinduan, “kenapa Kakak baru datang? Sasa
takut hidup di sini kak, Sasa sendiri di sini.”
Nushaiba
ingin mengadukan banyak hal kepada sosok itu. Tanpa kata-kata, lelaki itu hanya
tersenyum dan mengelap air mata di wajah Nushaiba. Tiba-tiba, cahaya yang
sangat menyilaukan membuat Nushaiba harus menutupkelopak matanya. Dan lelaki
itu menghilang dari hadapannya bersama cahaya.
“Kak
Shufyan? Kak Shufyan?” Tangannya meraba-raba angin di depan matanya, “di mana
Kak Shufyan?”
-------
“Ataghfirullahal
‘azdiim,” mata Nushaiba mendadak terbuka. Kesadarannya mulai kembali, tidak ada
halusinasi lagi yang menganggu dalam pikirannya, “Ya Alloh, barusan apa yang
terjadi?”
Terbesit
keinginan untuk berdiri dari sudut kamar. Tubuhnya mulai terangkat, dan
kemudian berjalan dengan sempoyongan. Dia mendekat pada Nushaiba yang berada
dalam kaca.
“Apakah
kamu gadis yang gila?” Air matanya kembali mengalir.
Kalimatnya
belanjut setelah beberapa saat tertahan, “apakah cita-cita mu akan terbuang
jauh Nushaiba?”.
Di
amencoba berdialog dengan gadis yang berada dalam kaca, “kenapa hanya diam?”
“Nushaiba
itu aku!” Ucapnya dengan yakin.
“Bukankah
beberapa waktu yang lalu, aku telah siap untuk menghadapi cobaan yang masih terduga-duga
akan terjadi. Dan sekarang telah terjadi.”
Diam,
mata Nushaiba masih menatap dirinya yang berada di kaca, “yaitu saat
orang-orang yang aku cintai akan meninggalkanku sendiri. Waktu itu, aku
kehilangan Ayah, Ibu, Kak Shufyan dan Kakek. Kemudian terdengar kalimat yang
melumpuhkanku seketika. Ku katakan pada diriku, persis seperti saat ini. Di
depan kaca, di sepenggal sunyi, di sepertiga malam terakhir. Bahwa kehilangan
adalah sesuatu yang telah pasti, karena aku tidak memiliki apa-apa. Bahkan
diriku ini bukan milikku sendiri.”
Kembali
terdiam. Sesekali mendengarkan suara merdu Muhammad, yang masih mengiringi
acara Akhirus sanah malam ini.
“Namun
ada yang berbeda,” Kedua matanya kembali melirik pada, “kejadian itu sudah
terjadi dan akan segera berakhir. Aku akan semakin kuat dan siap menjalani
cobaan selanjutnya dengan Asma Alloh.”
Bibirnya
tersenyum berselimut semangat, namun masih terlihat janggal senyum itu, “tidak
peduli aku sendiri, tidak peduli aku berdiri tanpa kasih sayang seorang pun,
tidak peduli orang-orang akan mencemoohku, tidak ada lagi yang namanya
menghindar dari kehidupan, dan tidak ada kebohongan pada diri sendiri. Meski
seluruh penduduk bumi maupun langit sangat membenciku, namun aku tahu bahwa
Alloh akan bersama hamba yang sangat mencintai-Nya. Bersama dengan Alloh, sudah
sangat cukup. Lebih dari cukup!”
Ya,
senyum yang ini mulai terlihat indah tanpa ada keganjalan sedikit pun. Senyum
ini adalah benar-benar senyum semangat milik Nushaiba, gadis pemberani dengan
ketegaran, kepandaian, dan kedewasaan yang dia miliki.
“Mungkin
ini adalah teguran indah dari-Nya,” wajahhnya berbicara serius dengan Nushaiba
yang ada di hadapan.
“Tidak
akan lagi, aku mencari cinta untuk menggantikan ruang kosong yang ditinggalkan
Kak Shufyan. Dan tidak ada lagi cintaku yang berlebihan pada kak Shufyan. Pasti
Alloh akan lebih mencintaiku, ketika seluruh cinta yang ada dalam hatiku akan
bermuara kepada-Nya.”
“Cinta
pada Alloh? Masih ingat tidak, cara apa yang akan kamu lakukan untuk
menungkapkan cinta itu pada-Nya?” Dia mengetes ingatan Nushaiba yang berada
dalam cermin, “ya iya dong!” Aura keceriaan penuh candanya terpantul dari
cermin.
Kemudian,
bola matanya mengarah ke langit-langit. Menandakan bahwa dirinya sedang
berpikir dan mengingat sesuatu.
“Dalam
kalam-Nya, mengisyaratkan aku untuk mengikuti jejak Nabi Muhammad SAW :
Dengan menyebut
Asma Alloh yang Maha Pengasih (lagi) Maha Penyayang
Katakan (Wahai
Muhammad!) : jika kalian mencintai Alloh maka ikutilah aku, maka Alloh akan
mencintai kalian dan Dia akan menghapuskan bagi kalian dosa-dosa kalian. Dan
Alloh Maha Pengasih (lagi) Maha Penyayang.
Katakan (Wahai Muhammad!) ta’atlah kalian kepada Alloh dan Rosul-Nya.
Lalu jika kalian berpaling, maka sesungguhnya Alloh tidak mencintai orang-orang
yang kafir. {Ali Imraan, 21-22}
Ayat
itu benar-benar telah jelas bagiku. Lalu apa yang bisa aku lakukan untuk
mengikuti jejak Sang Kekasih Alloh? Tentu saja dengan Al-QUr’an dan Al-Hadist.”
“Dan
Subhanalloh, di dalam Al-Qur’an aku mendapatkan banyak sekali pengetahuan yang
menakjubkan. Beberapa kalimatnya benar-benar penuh kasih dan lembut. Seperti
kapas yang tanggal dari pohonnya lalu menunggangi angin yang berhembus lembut. Namun
beberapa kalimatnya benar-benar tegas seperti seorang raja yang paling bijak.
Tanpa kompromi dan mampu meruntuhkan ceceran puing dalam hati.”
“Memang
tidak mudah untuk memahami isyarat Alloh, namun dengan sabar aku akan terus
mengulangnya. Dan tidak ada kata bosan, namun aku adalah manusia yang penuh
khilaf. Maka dari itu, kadang kegalauan dan keterbatasan akan menjadi cobaan
untuk memahami kitab yang memiliki banyak wajah tersebut. Ada kepuasaan
tersendiri ketika memahaminya, bahkan sering membuat terkejut jika ada banyak
hal yang tidak pernah terduga setitik pun. Dan akan sangat menantang kita untuk
berpikir dengan sangat jeli, cermat dan harus penuh ide.”
“Ya,
seru bukan? Aku akan semakin semangat menjalani hidup ini. Memang benar
kalam-Nya. Alloh memberikan kesedihan kepada kita agar kita tidak bersedih lagi!
Agar semakin yakin dan bersemangat menjalani hidup ini, serta menjalani semua
cobaan. Semangat untuk Nushaiba!”
Senyumnya
merekah-rekah, seperti bunga berselimut embun pagi. Hidupnya tanpa beban,
semerbak baunya mengundang lirikan banyak orang.
Setelah
kesedihan dan ketakutan yang sempat membakar hati Nushaibah, kemudian Alloh
mengirimkan kenyamanan berupa kantuk. Perasaan itu mendorong Nushaiba untuk
merebahkan badannya di atas kasur.
Rasa
mengantuk adalah rasa yang Alloh berikan untuk menciptakan rasa tenang. Seperti
halnya saat Alloh mengirimkan kantuk bagi orang-orang Muslim, ketika harus
kuwalahan membendung kemarahan orang-orang kafir di perang uhud. Saat mereka mulai
tegang, khawatir dan sedikit ketakutan, maka Alloh mengirimkan segera perasaan
kantuk untuk memberi rasa nyaman. Jadi, mereka mengayunkan pedang sambil
mengantuk.
Pikiran
Nushaiba mulai berselimut kenyamanan atas kantuk yang Alloh kirimkan. Otot
matanya yang sedari tadi bekerja keras untuk mengeluarkan air mata, sekarang
pun mulai rileks dalam lelap. Detakan jantung dan irama nafas yang berat dan
berantakan, sekarang mulai teratur. Darah dalam tubuhnya pun terus mengalir, mencipta
kehangatan. Nikmat istirahat yang Alloh berikan adalah salah satu nikmat
diantara banyak nikmat yang Nushaiba sadari maupun tidak.
-wallohu a’lam
bisshowab-